Dongengfilm's Blog

Dongeng Film (Dokumenter) Asing di Indonesia – 7

2008: “Coral Reef along Nusa Tenggara
Jenis Film: Dokumenter
Rumah Produksi Asing: ARD-TV, Jerman
Sutradara: Robert Hetkaemper
Jabatan: Fixer

Setelah sukses dengan penayangan film dokumenter “The Secret of Java Mask”, koresponden stasiun televisi Jerman ARD-TV yang berkedudukan di Singapura, Robert Hetkaemper, ingin membuat sebuah film perjalanan lagi di Indonesia. Ia memang terobsesi untuk membuat serial perjalanan yang juga mengangkat ragam masyarakat dan kebudayaan di kawasan nusantara. Dalam agenda kerjanya ia sudah membuat beberapa rencana film perjalanan: mengarungi lautan dengan kapal phinisi dari Bali ke Nusa Tenggara Timur, arung lautan di Kawasan Kepulauan Maluku dan Papua, serta jalan darat dari Jakarta menuju titik paling Barat dari negara Indonesia. Pendek kata, ia ingin membuat film tentang kehidupan dari Sabang hingga Merauke.

Film tentang perjalanan berkereta-api dari Jawa ke Bali sudah selesai. Demikian pula film tentang kehidupan di Tana Toraja sudah ia selesaikan pada awal tahun 2004. Kehidupan suku Bajo di Gorontalo juga pernah dibuat oleh koresponden lain. MBah Marijan juga pernah difilmkan ketika Gunung Merapi batuk-batuk. Kami mewawancarainya di petilasannya di atas G. Merapi. Aneka cerita tentang kehidupan di beberapa kota di Jawa, Bali bahkan Timor Timur sudah pernah ditampilkan di channel 1 televisi Jerman yang mengudara hingga ke beberapa negara di Eropa Barat tersebut. Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan juga sudah pernah. Rekaman tentang perjalanan yang sekaligus mengangkat sarana transportasi, kehidupan masyarakat, budaya, flora dan fauna dalam satu alur cerita barulah “The Secret of Java Mask” yang penayangannya dilakukan dalam dua episode.

Padahal cerita perjalanan semacam sudah pernah ia buat di Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar dan Laos. Dari luasnya wilayah yang ditelusuri di negara-negara itu, satu film sudah bisa mewakili banyak hal, meski tentu saja tidak bisa dibilang mewakili kekayaan ragam masyarakat, kebudayaan, flora dan fauna negara tersebut. Apalagi Indonesia yang jauh lebih luas wilayahnya, lebih kaya akan ragam masyarakat, budaya, flora dan faunanya. Tentu saja perlu beberapa film baru bisa agak lengkap penggambarannya.

Komunikasi email pun semakin gencar. Berbagai elemen yang bisa dimasukkan dalam perjalanan itu dikembangkan. Titik awal keberangkatan adalah Bali, tapi hanya sebagai pelabuhan pemberangkatan. Langsung ke Lombok, Sumbawa, Taman Nasional Komodo, Goa Liang yang kebetulan baru saja heboh dengan penemuan manusia katai (hobbits), dan terakhir G. Kelimutu di Ende.

Tragedi 11 September

Sebagai tim peliputan, kru ini ARD-TV di Singapura mempunyai tugas utama untuk menjaga berita aktual di kawasan Asia Tenggara, Indo Cina, Australia dan New Zealand. Setiap pembuatan film dokumenter ataupun feature news, masa peliputan tidak boleh lebih dari dua minggu. Setiap saat mereka bisa dipanggil untuk peliputan hard news. Hal itu pernah pencerita alami sendiri ketika sedang membuat sebuah peliputan investigatif di Lombok.

Tahun 2001 Indonesia dibanjiri pengungsi gelap dari Afghanistan yang sedang dalam perjalanan ke Australia, sebagai benua harapan baru dimana mereka bisa meniti masa depan mereka setelah negara mereka hancur oleh perang. Dari riset kepustakaan dan berita, kami mendapatkan data bahwa mereka datang sebagai wisatawan ke Bali, kemudian melalui darat ke Lombok. Di sana sudah ada beberapa tempat penampungan menunggu saat diseberangkan ke Australia dari pelabuhan di Lombok Timur.

Hotel penampungan mereka di Bali terletak di kawasan Tuban, tidak jauh dari kawasan Kuta yang terkenal itu. Tim ARD-TV ingin mengangkat cerita tentang mereka setiba di Lombok. Kami tiba di Lombok awal September 2001. Dengan bantuan LSM setempat kami dibawa ke tempat penampungan mereka yang tertangkap pemerintah Indonesia dan diasramakan. Kami sempat mendatangani dua tempat penampungan. Pertama di sebuah penampungan besar yang disediakan oleh Departemen Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kedua di rumah kontrakan dimana mereka berkumpul bersama, diawasi oleh petugas Pemda. Mereka yang tinggal di rumah kontrakan ini adalah pengungsi yang sudah agak lama tiba di Lombok.

Pada tanggal 9 September malam, sekitar usai jam makan malam, pencerita pergi dengan rekan orang Lombok yang akan mempertemukan pencerita dengan salah seorang anggota sindikat penyelundup manusia yang terkait dengan kedatangan para pengungsi dari Afghanistan ini. Kami sedang mengatur kemungkinan untuk mewawancarai tokoh ini untuk melengkapi feature news yang sedang dibuat. Setelah datang ke tempat yang disepakati, penghubung kami hanya datang sendirian. Tokoh ini baru bersedia ditemui menjelang tengah malam. Pencerita memutuskan untuk pulang dulu ke penginapan, melaporkan perkembangan baru itu.

Dalam perjalanan pulang menuju penginapan, selepas kota Ampenan, pencerita menerima SMS dari rekan di Jakarta yang berbunyi: “New York dibom teroris.”

Ah, kalau di Amerika Serikat, apa urusannya dengan kita di sini, batin pencerita. Jalan terus.

Datang lagi SMS kedua. Sama bunyinya, dari orang yang berbeda. Saat itu pencerita tidak bisa membayangkan tingkat kerusakan di New York sana ataupun dampak terhadap Indonesia sama sekali. Sebelumnya kan pernah juga ada bom yang meledak di Amerika Serikat, kenapa kali ini SMS ribut sekali?

Saat mobil melewati pusat pantai Senggigi, telepon berdering… Robert Hetkaemper.

Pencerita diminta segera kembali ke penginapan. Harus berembuk dulu dan kemungkinan harus menyusun rencana baru, melupakan rencana pembuatan cerita tentang para pengungsi Afghanistan.

Setiba di penginapan, pencerita bertemu dengan Juru Kamera dan Perekam Suara, tapi tidak ada Hetkaemper. Ia sedang sibuk berkomunikasi dengan kantor pusat di Hamburg.

“Kita pasti harus kembali ke Singapura, stand by di sana,” ujar Perekam Suara sambil bersama-sama menyaksikan peristiwa yang terjadi di New York melalui CNN.

Tak berapa lama kemudian, Hetkaemper muncul dan menegaskan dugaan sang Perekam Suara. Ia juga menerangkan bahwa salah satu dampak dari penyerangan di New York itu adalah semua sistem keamanan dunia akan berubah. Pengamaman di bandara di manapun di dunia akan berubah total. Intinya, dunia tidak akan sama lagi seperti kemarin.

Esok harinya, seluruh rombongan meninggalkan Lombok. Pencerita kembali ke Jakarta, mereka langsung menuju Singapura.
Sebagai ‘penjaga berita’ di Singapura, mereka harus selalu siaga untuk meninggalkan sebuah peliputan ‘lunak’ untuk mengejar hard news. Itulah sebabnya ketika merancang perjalanan di Nusa Tenggara Timur kami tidak bisa menyusun rangkaian lokasi yang perjalanannya akan memakan waktu lebih dari waktu dua minggu.

Untuk menyelesaikan perjalanan hingga ke ujung Timur P. Flores, menempuh jalur P. Alor hingga ke Pulau Timor akan memakan waktu terlalu lama. Demikian pula kemungkinan jalur P. Sumba, P. Sawu, P. Rote dan berakhir di Kupang. Perjalanan kali ini dirancang berakhir di G. Kelimutu, dari Ende terbang kembali ke Singapura melalui Bali. Kepastiannya kami dapat setelah menemukan kapal phinisi yang akan membawa kami menyusuri perairan itu.

Berburu Phinisi

Setelah rute awal ditetapkan, mulailah pencerita melakukan perburuan kapal phinisi. Suatu hal baru. Jujur saja, saat itu pencerita tidak punya bayangan mengenai cara bekerja-sama dengan pemilik kapal phinisi, perijinan perjalanan yang melalui dua provinsi dan beberapa kabupaten itu, perijinan dengan syahbandar di masing-masing pelabuhan terkait dengan eksistensi orang asing di atas kapal, perijinan syuting di dua Taman Nasional dan cara menyusun anggaran agar tidak blangsak saat syuting berlangsung.

Satu hal yang agak melegakan adalah kru yang berangkat terdiri atas kru tetap ARD-TV yang sudah bekerja sama sejak tahun 1998. Mereka minta kru tambahan, seorang Juru Kamera Bawah Air. Ini gampang dicari. Dari Direktorat Film akan ikut seorang pendamping. Jaman Orde Baru, seorang pendamping kadang terpaksa menjalankan peran mata-mata bagi penguasa. Padahal kalau pendamping tersebut merupakan karyawan Direktorat Film, mereka biasanya justru sangat membantu dalam berurusan dengan pejabat pemerintahan di lokasi.

Pencerita berhasil menambahkan seorang kru yang sudah lama sering bekerja sama dan ketika meliput Sidang Istimewa MPR pada 1998 juga menjadi runner saat pencerita mendampingi ARD TV. Kru yang sama, Moh. Sidik alias Tache, yang juga ikut meliput ke Timor Timur saat Referandum, menyelundup masuk ke Timor Timur setelah lepas dari Republik Indonesia tapi belum memiliki negara sendiri, dan bahkan hingga meliput Kerusuhan Ambon. Usul untuk mengajaknya dalam perjalanan ini disambut dengan gembira oleh tim ARD TV.

Setelah mencoba melacak kapal phinisi yang tidak terlalu besar dan mahal melalui situs-situs yang ada internet, akhirnya kami sepakat untuk mencoba mendekati pemilik Phinisi Ambasi. Di internet tertulis mereka menghargakan kapal mereka Eu 2,000.00. Artinya, mereka biasa berurusan dengan orang Eropa. Kebetulan ada pameran wisata maritim di Jakarta. Di sana pencerita berkenalan dengan Pak Benny, pemilik kapal Ambasi, keturunan Ambon yang lama tinggal di Belanda sebelum memutuskan untuk kembali tinggal di Indonesia.

Saat ini beliau menetap di Bali. Selain usaha di bidang layanan ekpedisi, beliau juga menjalankan penyewaan Ambasi. Kapal ini pernah lama berlabuh di Bali tapi sekarang ini di Labuan Bajo. Kerja sama dengan Ambasi terjadi lagi ketika pencerita harus membawa rombongan kru iklan ke kawasan Taman Nasional Komodo untuk sebuah promo rokok Dji Sam Soe pada awal tahun 2011.

Setelah bertemu langsung dengan pemiliknya, seluruh rencana pun serasa ringan. Pak Benny sangat membantu dalam menyusun rencana perjalanan, termasuk perhitungan waktunya sehingga mudah bagi pencerita untuk menghubungi orang yang mau diwawancarai sepanjang perjalanan ataupun pemilik lokasi yang akan dikunjungi. Beliau juga memberi masukan tempat-tempat yang juga menarik untuk direkam sebagai bagian dari upaya menampilkan gambar atau topik menarik di jalur pelayaran tersebut. Pengalaman beliau tinggal di Belanda, perjalanan-perjalanan Ambasi mengantar banyak orang Eropa telah mengasah kejelian beliau terhadap objek-objek yang menarik bagi bangsa Eropa… dengan kata lain, pemirsa ARD TV.

Perhitungan anggaran pun menjadi lancar. Apalagi meskipun dalam mata uang Euro, harga itu sudah merupakan harga paket untuk delapan penumpang, termasuk akomodasi, makan dan minum, serta perijinan dengan pelabuhan yang disinggahi.

Semua informasi disampaikan ke kantor di Singapura, jadwal ditetapkan, pengurusan ijin syuting dimulai sejalan dengan pengurusan visa, dan semuanya berjalan lancar dengan bantuan pihak Direktorat Film di Jakarta.

Kami pun bersiap-siap melakukan perjalanan dengan kapal phinisi. Seperti jaman nenek moyang suku bangsa Bugis dulu. Meski harus tampak cool, di antara seluruh kru, mungkin pencerita lah yang sebenarnya paling was-was dengan perjalanan ini. Pencerita sudah beberapa kali berurusan dengan syuting di air, beberapa kali pula berurusan dengan badai. Pernah berurusan dengan ‘tahi ombak’ di atas speed boat kecil ketika menyeberang dari P. Haruku ke P. Saparua saat menelusuri jejak bangsa Portugis di Indonesia Bagian Timur; berurusan dengan badai di atas sampan di perairan Gorontalo ketika membuat feature news tentang suku Bajo; dan pernah juga berurusan dengan ombak yang menggelegak di lepas pantai Labuan Bajo ketika membuat film dokumenter tentang binatang komodo untuk sebuah rumah produksi asal Singapura.

Pengalaman-pengalaman yang tidak menarik terkait dengan laut itu terjadi untuk perjalanan- perjalanan pendek. Kali ini, pencerita akan berada di laut selama 10 hari, makan tidur di laut… benar-benar tidak menarik!

Selat ‘Mabuk” Lombok

Pada hari H kami semua terbang ke Bali. Selain kru ARD-TV, juga Tache, Carita sebagai Juru Kamera Bawah Air dan Roosana Sipasulta, pejabat pendamping dari Direktorat Film. Ibu Roos ini sudah sangat kawakan mendampingi berbagai kru film dokumenter asing yang datang membuat film di Indonesia. Ia mengenal hampir semua PolHut Taman Nasional di Indonesia. Sebagai pendamping, ia juga harus berjalan turun naik gunung, keluar masuk hutan, selain ke berbagai wilayah pedesaan di seluruh Indonesia. Adalah satu keberuntungan bagi kami bahwa dalam perjalanan ini, ia yang ditunjuk sebagai pendamping.

Dua buah mobil sudah menjemput kami di bandara Ngurah Rai. Kami pun meluncur menuju Padang Bai yang akan menjadi pelabuhan pemberangkatan. Semula pencerita mengira kami akan berangkat dari pelabuhan Tanjung Benoa. Tapi menurut pak Benny, berangkat dari Padang Bai lebih cepat karena pergerakan kapal langsung menyeberangi Selat Lombok. Kalau dari Tanjung Benoa perjalanan di atas phinisi akan bertambah satu hari perjalanan. Karena dari Tanjung Benoa kapal tetap harus bergerak ke arah Padang Bai, baru menyeberang ke Lombok. Di peta jaraknya tidak terlihat jauh, melalui darat hanya sekitar tiga jam, tapi melalui air ternyata bisa semalaman karena pergerakan kapal harus menentang arus.

Ilmu baru bagi pencerita. Menghitung waktu perjalanan di air sama sekali berbeda dengan perjalanan di darat. Jarak boleh kelihatan dekat di atas peta, tapi faktor angin dan arus air merupakan faktor penentu terkait kecepatan laju kapal. Untuk itu, kami harus belajar dengan cara yang terpahit. Cuaca tidak terlalu berpihak karena perjalanan kami ke timur praktis akan terus menerus melawan arah angin.

Penyeberangan ke Lombok memang dirancang untuk dijalani pada sore dan malam hari. Tidak ada pemandangan yang bisa dilihat sepanjang perjalanan kecuali lautan luas. Selat Lombok merupakan salah satu selat terdalam di dunia. Arusnya sangat deras. Untuk kapal seperti Ambasi yang mesinnya terhitung kecil dengan kecepatan maksimal rata-rata sekitar 6 knot, penyeberangan itu cukup berat. Dan meski tidak melihat apa-apa, terasa sekali Ambasi berjalan sangat lambat.

Usai makan malam, kami semua turun ke kamar dan berusaha tidur. Pencerita tidak bisa tidur. Kapal serasa hanya diombang-ambing tapi tidak bergerak maju. Perut berputar. Untung ada kamar mandi di dalam kamar. Perpindahan isi perut pun tidak terlihat oleh teman-teman kru yang lain. Ingat, biar bagaimanapun, penampilan cool harus tetap dijaga. Meski jelas kelihatan sama sekali bukan anak laut ketika berurusan dengan sekoci saat mengangkut barang dari darat ke laut, namun untuk urusan mabuk laut harus dipaksa untuk tidak kelihatan yang lain… ha ha ha…

Dengan susah payah akhirnya pencerita tertidur… tepatnya pingsan di dalam kamar. Tiba-tiba terdengar suara lonceng dibunyikan, nyaring sekali, membangunkan semua orang. Kami sudah tiba di kawasan Gili, sebelah utara pantai Senggigi, Lombok Barat. Lonceng itu adalah panggilan untuk makan. Dibunyikan tiga kali dalam sehari. Bagian dari atraksi di atas kapal Ambasi.

“Wah, arus kencang sekali tadi malam. Maju tiga langkah, mundur lagi dua langkah,” ujar pak Benny saat menemani kami makan pagi. “Kita praktis hanya maju dengan kecepatan 1 knot.”

Padang Pasir Di Dasar Laut

Matahari pagi yang cerah, laut di sekitar Gili Trawangan yang tenang, sungguh menyegarkan kami semua yang baru dipermainkan oleh ombak sepanjang malam. Dengan perlahan kamipun mengitari pulau sampai di titik yang akan diselami. Carita dibantu Tache mempersiapkan diri. Axel Sommerveld, Juru Kamera, merekam semua kegiatan persiapan itu. Nantinya akan menjadi bagian dari alur cerita.

Dari atas kapal kami juga merekam beberapa gambar seperti suasana kapal-kapal yang ada di seputaran pulau tapi kami tidak merapat ke darat. Mereka menyelam tidak terlalu lama. Wajah kecewa jelas tercermin saat mereka kembali ke kapal.

“Karang sudah hancur semua,” ujar Om Johanes, dive master asal Flores yang mendampingi Carita.

Dan benar saja. Pencerita terbengong-bengong melihat kamera bergerak di ‘padang pasir’ yang terdapat di dalam laut. Ketika pencerita menyelam di kawasan itu tahun 1991, pencerita masih berurusan dengan ‘semak’ karang, bahkan sempat bertemu dengan seekor ikan hiu yang sedang mencari sarang untuk melahirkan anaknya. Kondisi karang saat itu memang sudah parah. Ada yang warnanya sudah berubah coklat muda, ciri karang yang sudah mati.

Hal itu terjadi karena pembabatan pohon di pulau yang mengakibatkan air tawar mengalir deras ke dasar laut. Pertemuan arus air tawar dan air laut mengakibatkan matinya karang. Ditambah dengan para penyelam wisata yang dijamin tidak perduli kalau kaki atau tangannya mematahkan karang, belasan tahun kemudian kami pun disuguhkan pemandangan ‘padang pasir’ di dasar laut.

Kondisi gugus karang memang menjadi ‘benang merah’ alur cerita perjalanan kali ini. Mulai dari karang yang sudah hancur, gugus karang yang masih terjaga dan indah, hingga ke upaya penangkaran karang di Pulau Moyo, Sumbawa. Satu hal yang tidak disadari oleh banyak orang adalah karang merupakan habitat ikan di laut, tempat ikan hidup, mencari makan dan berkembang biak. Bila gugus karang hancur, ikan pun menghilang.

Dari Gili Trawangan kami menyusuri pantai utara P. Lombok, menuju P. Moyo, tepatnya ke resort mewah Amanwana. Resort yang sangat tertutup, biasa dipakai untuk tempat persembunyian para eksekutif dunia. Resort ini sangat terkenal, pernah menjadi tempat berlibur banyak tokoh penting dunia. Bahkan mantan wakil presiden Amerika Serikat Al Gore menyempatkan diri merepotkan tim keamanan jagat Sumbawa dengan singgah untuk makan siang ketika ia menghadiri acara konferensi global warming di Bali beberapa tahun lalu. Karena ketertutupannya itulah pencerita sempat pontang panting menghubungi mereka di Jakarta dan kemudian selama perjalanan memnginformasikan perkiraan kedatangan sambil menghitung kecepatan kapal.

Untuk menelepon dari atas kapal Ambasi, harus menunggu titik di mana sinyal dari daratan cukup kuat. Ambasi bukan kapal pesiar mewah yang dilengkapi segala macam peralatan komunikasi canggih. Untuk komunikasi kami mengandalkan telepon genggam atau modem… pada titik sinyal yang cukup baik.

Cara memantau sinyal dilakukan dengan cara sederhana: telepon dibiarkan hidup, ketika sinyal menguat, bunyi SMS masuk pun memenuhi ruang tengah kapal. Pencerita langsung berlari, menyambung modem, dan segera mengirim email yang memang sudah ditulis sebelumnya. Bersamaan dengan proses pengiriman itu, biasanya kotak email juga dibanjiri email yang masuk. Kadang belum sempat menjawab email yang masuk, sinyal sudah melemah kembali. Terpaksa menunggu titik dimana sinyal menguat dan barulah jawaban dikirim. Begitu seterusnya cara komunikasi untuk konfirmasi dengan nara sumber, penginapan dan sebagainya dilakukan selama perjalanan.

Sementara itu, perjalanan pada siang menyusuri pantai utara P. Lombok, P. Sumbawa maupun P. Flores ternyata merupakan perjalanan yang membosankan. Pemandangannya kurang lebih sama, garis daratan yang berwarna kehijauan. Lautnya pun sama saja. TIdak banyak variasi yang dilihat. Kelebat renang ikan dolphin pun bisa menjadi hiburan. Berpindah posisi di kapal mengikuti posisi rombongan ikan tersebut.

Kehadiran awan di langit justru sangat diharapkan. Tidak hanya memberi sedikit keteduhan tapi juga memberi perubahan tekstur pemandangan di langit. Pada suatu saat ketika mengarungi laut di sebelah utara Flores mislanya, pencerita seakan melihat sosok Dewa Neptunus, lengkap dengan trisulanya, yang terbentuk oleh gugusan awan. Kami semua langsung sibuk mencoba mengabadikan gambar tersebut. Terlambat sedikit, angin langsung membuyarkan bentuk tersebut.

Sebaliknya pada malam hari, perjalanan justru tidak terlalu membosankan. Kita bisa tiduran di dek depan dan melihat pemandangan di langit. Berbeda dengan langit di Indonesia wilayah Barat, langit di sana hampir selalu dipenuhi oleh bintang. Bintang Timur tetap terlihat berkerlap-kerlip paling terang di antara jutaan bintang lainnya. Kita benar-benar serasa berada di dalam planetarium. Dahsyat!

Tapi, keindahan bintang dan langit tidak bisa direkam oleh kamera. Akibatnya selama berjam-jam kami tidak terlalu banyak pengambilan gambar. Pencerita lebih banyak mondar-mandir di sekitar dek kapal dan ruang duduk, memantau titik sinyal komunikasi. Robert Hertkaemper asyik dengan bukunya. Tache, Carita dan Ibu Roos seringkali tampak asyik obrol, duduk di depan sambil menikmati semilir angin laut. Kadang Om Johanes bergabung dengan mereka. Pak Benny lebih banyak menemani nahkoda di ruang kemudi.

Axel baru tergerak untuk menjinjing kamera pada saat matahari terbit dan menjelang matahari terbenam. Kadang turun ia ke air dengan sekoci, sekoci menjadi dolly, bergerak mengitari kapal yang sedang berjalan. Kadang mengarang gambar di atas kapal. Kegiatan para ABK direkam. Mulai dari nahkota di ruang kemudi, juru masak yang sibuk di dapur, sampai saat menghidangkan makanan. Dan itulah saat yang dinantikan semua orang: lonceng dibunyikan!

Perisean di Pantai Senggigi

Prak! Prak! Prak!

Begitulah bunyi benturan tongkat dan perisai, keduanya terbuat dari rotan pada saat petarung Perisean berlaga. Keduanya bertarung sambil bertelanjang dada. Kalau lengah, tubuh pun akan dihantam ayunan tongkat, dari bilur sampai berdarah.

Olah raga tarung tradisional suku Sasak ini kami selenggarakan di pantai salah satu hotel yang ada di pantai Senggigi. Kebetulan ada hotel yang bersedia menyediakan tempat meskipun kami tidak menginap di sana. Para petarung kami datangkan dari Mataram. Dua kelompok yang memang sudah sering berhadapan di arena tarung.

Tim ARD TV harus bersabar karena sebelum pertarungan dimulai, diadakan dulu upacara yang lumayan terasa bertele-tele. Tapi tanpa upacara itu, mereka tidak mau bertarung. Khusus petarung yang kami rekam siang itu, mereka sama sekali belum biasa berurusan dengan kamera. Pertarungan berlangsung dengan sebenarnya, bukan pertarungan pura-pura untuk kepentingan syuting. Meski tidak terlalu parah, darah tetap tertumpah.

Syuting Perisean di Lombok ini berbeda dengan syuting Tari Caci di Gili Lawa Laut, TN Komodo, pada awal tahun 2011. Meskipun dalam Tari Caci juga memakai cemeti dan perisai yang terbuat dari rotan, namun sesuai dengan namanya, jenis di Flores ini sudah menjadi sebuah tarian. Bukan ajang pertarungan untuk unjuk kebolehan lagi. Saat syuting pun mereka bersedia diatur.

Prak! Prak! Prak!

Dari pantai Senggigi kami pergi ke Sade, sebuah desa pusat tenun tradisional yang dijaga ketradisionalannya. Rumah-rumah di desa tersebut dibuat dengan cara kuno. Dinding terbuat dari campuran jerami kering, kotoran kerbau dan tanah. Lantainya juga dipertahankan apa adanya. Sejak pertama kali pencerita datang ke Lombok pada tahun 1991, desa ini sudah menjadi desa kunjungan wisatawan. Umumnya datang untuk membeli kain.

Saat datang bersama ARD-TV, desa ini sudah tertata dengan baik. Maksudnya, sudah tertata untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan. Kompleks desa menjadi semacam museum hidup dimana wisatawan bisa melihat cara mereka menenun di depan rumah mereka masing-masing. Kalau tidak ingin pulang dari sana membawa kain satu mobil, para wisatawan harus punya strategi jitu untuk menolak tawaran kain yang diperdagangkan.

Selain sudah ada kamar mandi yang bersih dan memadai, desa ini juga sudah mengembangkan acara terima tamu secara adat untuk rombongan turis. Prosesi yang menerima kedatangan tamu sekaligus mengantar mereka mengelilingi desa. Tari terima tamu inipun menjadi bonus atraksi yang kami rekam, di samping kegiatan menenun di teras-teras rumah.

Secara keseluruhan, selain kehancuran dasar laut di kawasan Gili Trawangan, dari Lombok kami membawa tiga hal yang bisa mewakili kebudayaan dan masyarakat suku Sasak: Perisean, tari terima tamu di Sade dan kegiatan tenun trdisional. Lumayan lah untuk setoran gambar.

Penangkaran Karang dan Penyu

Akhirnya kami tiba di resort Amanwana, P. Moyo. Fasilitas kelas atas yang tersembunyi di sebuah pulau terpencil, di Utara P. Sumbawa. Bangunannya berbentuk tenda-tenda mewah. Selain kemewahan seperti perawatan tubuh, spa di masing-masing tenda dan sebagainya, posisi resort yang dikelilingi hutan perawan memberikan kemungkinan bagi tamu untuk melakukan berbagai wisata alam, baik hiking menerobos hutan maupun menyelam dan menikmati keindahan bawah air.

Salah satu ‘atraksi’ yang menarik perhatian wisatawan adalah pelepasan anak penyu ke laut. Penyu-penyu kecil dibuatkan jalur jalan di pasir, dari pantai hingga ke laut, dan penyu-penyu kecil itu dilepas begitu saja hingga secara naluri mereka berjalan ke arah laut. Begitu bersentuhan dengan air laut, ombak pun menggulung mereka menyatu dengan lautan bebas.

Upaya lain yang juga mereka lakukan adalah mencoba mempercepat pertumbuhan karang di laut. Karang ‘dibungkus’ dengan kawat, kawat diberi aliran listrik, dan menurut percobaan para ahli tindakan itu akan mempercepat pertumbuhan karang.
Kami sendiri, menyadari betapa pertumbuhan karang biasanya memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun, agak meragukan metode ‘penangkaran’ karang tersebut. Tapi, namanya juga upaya, kenapa tidak dicoba? Apalagi biayanya tidak murah dan kebetulan manajemen Amanwana bersedia membiayai sebagai bagian dari upaya pelestarian alam di sekitar wilayahnya.

Setelah gambar ‘padang pasir’ dari Gili Trawangan, rangkaian gambar kehidupan bawah air bertambah dengan gambar upaya penangkaran karang tersebut selain keindahan alam bawah air yang ada di laut sekitar P. Moyo.

Setelah merasakan nikmatnya menginap di kamar raja dan ratu, kami pun melanjutkan perjalanan. Menelusuri pesisir Utara P. Sumbawa, semalaman, hingga tiba di Wera pada saat matahari terbit.

Jejeran kapal phinisi berbagai ukuran menyambut kedatangan kami di pantai. Pemandangan itu serasa menohok mata yang masih diucek-ucek, mengingatkan pencerita pada pemandangan di pantai di Tanah Beru, Sulawesi Selatan, desa asal usul kapal phinisi. Masyarakat pembuat kapal phinisi di Wera memang adalah keturunan suku Bugis. Teknik pembuatan kapal pun masih menerapkan teknik tradisional yang mengandalkan pasak sebagai pemaku antar kayu.

Kami tidak lama singgah di desa tersebut. Hanya beberapa jam merekam suasana desa dan beruntung melihat latihan kuda pacu. Kuda sengaja dihela ke laut hingga kakinya tidak menjejak pasir. Untuk tetap mengapung, kuda pun terpaksa menghentak-hentakkan kaki. Latihan ini adalah untuk menguatkan hentakan kaki saat berlari di darat. Warga juga berbaik hati memperlihatkan beberapa kuda mereka berpacu. Tentu saja direkam untuk menambah kekayaan ragam keseharian masyarakat di sepanjang rute perjalanan yang kami tempuh dalam keseluruhan alur cerita.

Dari Wera perjalanan dilanjutkan kembali dengan tujuan Taman Nasional Komodo. Nahkoda kembali harus bekerja keras mengemudikan kapal. Untuk yang lain, kembali dituntut kreativitas dalam mencari kegiatan mengisi kebosanan, pencerita kembali berlomba dengan sinyal komunikasi, mencoba berhubungan dengan PolHut yang menjaga kawasan tersebut.

Kunjungan ke P. Komodo kali ini adalah kunjungan kedua. Pada kunjungan pertama dengan tim dokumenter dari Singapura, pencerita sempat melihat seekor komodo yang naik pitam. Badan sebesar itu bisa berdiri, lurus keempat kakinya, kemudian ekornya melengkung seperti ekor kala jengking. Sungguh pemandangan yang mengerikan dan selalu pencerita jadikan patokan bila berurusan dengan binatang purba yang oleh orang Barat disebut komodo dragon (Varanus Komodoensis) itu.

Komodo bisa hidup sampai usia 30 tahun. Sampai dengan usia 3-5 tahun mereka hidup di pohon karena kalau bertahan di tanah mereka akan menjadi santapan komodo dewasa. Mereka butuh waktu sekitar lima tahun untuk menjadi seekor komodo dewasa. Komodo yang bisa kita temui di Loh Liang, pos taman nasional di P. Komodo, adalah komodo yang sudah berusia rata-rata di atas 10 tahun. Mereka sudah gemuk sehingga sepintas lalu tampak lamban.

Jangan terkecoh.

Begitu mereka mencium bau darah, gerak mereka berubah cepat. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada cara untuk benar-benar menghentikan mereka. Kayu cagak yang ada cuma bisa mengalihkan perhatian mereka untuk sementara waktu saja. Penciuman mereka sangat tajam. Bisa mencium bau darah dari jarak dua kilometer dan bau bangkai hingga dari jarak sembilan kilometer. Itulah sebabnya kaum perempuan yang sedang datang bulan dilarang mendarat di P. Komodo dan P. Rinca.

Populasi mereka di kedua pulau itu berjumlah sekitar 3.000 ekor.

Binatang komodo yang hidup di P. Komodo tidak sebuas yang tinggal di P. Rinca. Kedatangan wisatawan ke P. Komodo membuat binatang yang hidup di sana relatif lebih ‘kenyang’ ketimbang yang di P. Rinca. Populasi komodo di P. Rinca hampir sama dengan yang ada di P. Komodo tapi pulaunya sendiri lebih kecil sehingga otomatis perebutan atas mangsa yang ada menjadi lebih ketat. Mangsa mereka adalah rusa dan kerbau liar. Dan, percaya atau tidak, komodo paling takut terhadap babi hutan. Babi hutan selalu kompak mengeroyoki komodo yang berani mengganggu mereka.

Salah satu keunikan komodo adalah susunan giginya yang berlapis. Susunan gigi ini membuat sisa-sisa makan tertahan di antara gigi dan menjadi tempak bakteri berkembang biak. Sebagai binatang, komodo tidak termasuk dalam kategori binatang berbisa. Tapi kumpulan bakteri yang ada di gigi itulah yang menjadikannya berbahaya. Bakteri itu akan melumpuhkan mangsa yang tergigit dan setelah jatuh barulah mereka memakannya. Sampai tuntas, termasuk tulang pun ditelan.

Bila kita melihat komodo di P. Komodo bergerak lamban, lain ceritanya dengan komodo di Loh Buaya, pos taman nasional di P. Rinca. Komodo muda banyak berkeliaran di sana. Ketika pencerita berkunjung ke P. Rinca, rasanya lebih was-was ketimbang di P. Komodo karena komodo-komodo muda yang terus bergerak. Kadang mereka membuat gerakan memutar seakan menunggu kita lengah.

Syuting komodo biasanya dianjurkan di tempat yang agak terbuka jangan di semak-semak, daerah padang sabana yang berumput tinggi dan apalagi di daerah berpohon lebat. Pohon rindang merupakan tempat mereka berteduh. Di atas pohon bisa saja bersembunyi seekor komodo kecil. Pergerakan mereka menerobos semak-semak juga sulit untuk diikuti kecuali oleh penduduk atau anggota PolHut yang bertugas di sana yang sudah bisa membedakan bunyi pergesekan semak-semak atau rumput.

Saat bersama dengan ARD-TV, kami merekam kegiatan mereka menyantap seekor kambing. Empat ekor komodo mengeroyok seekor kambing. Ketika perhatian mereka terpusat pada mangsa mereka, mereka tidak menghiraukan apa yang ada di sekeliling mereka. Tapi, sebagai ‘penonton’ kita harus waspada terhadap kemungkinan munculnya komodo yang juga mencium bau anyir darah kambing yang sedang disantap itu.

Mereka benar-benar memakan semuanya. Kulit, daging, kuku, tulang, semua ditelan ludas. Konon di dalam pencernakan nanti ‘benda-benda asing’ selain daging akan dipilah dan akhirnya dibuang bersamaan dengan kotoran mereka.

Dalam satu hari kami merekam mereka kemudian kami menginap di kapal. Malam itu langit terang benderang oleh jutaan bintang. Kami mengundang beberapa anggota LSM yang bekerja di sana untuk menikmati santapan malam yang khusus dipersiapkan oleh tim Ambasi. Dengan langit dan bintang sebagai langit-langit kami menikmati anggur merah. Setelah ‘pesta’ selesai, tetamu pulang ke Loh Liang, kapal pun bergeser ke teluk di depan kampung Komodo.

“Di sini lebih aman. Kita terlindung dari angin dan arus,” jelas pak Benny.

Surga Terumbu Karang

Keesokan harinya kami langsung ke pantai Merah, pantai yang terkenal akan keindahan bawah airnya. Karang-karangnya masih terlindungi. Kawasan Taman Nasional Komodo merupakan kawasan terkaya di dunia dalam hal terumbu karang. Selain karena gugus pulaunya yang melindungi karang dari terpaan arus deras, dongeng binatang purba membuat kawasan ini terlambat diserbu wisatawan. Ketika masyarakat Indonesia dan dunia sadar akan keberadaan kawasan ini, kawasan ini sudah menjadi sebuah taman nasional. Tidak bisa sembarangan lagi orang berkunjung ke sana.

Salah satu resikonya adalah masyarakat nelayan di kampung Komodo terganggu kegiatannya melaut. Mereka bisa bebas menangkap ikan di luar kawasan taman nasional… artinya, berlayar cukup jauh padahal harga bahan bakar lumayan mahal. Mereka juga harus bersaing dengan nelayan dari kampung-kampung lain yang tinggal di pulau-pulau di luar kawasan taman nasional. Kenyataan ini membuat isu keresahan sosial ekonomi yang mudah-mudahan bisa dicarikan jalan keluarnya oleh pemerintah.

Di kampung Komodo kami sempat bertemu dan mewawancarai seorang korban gigitan Komodo. Kejadiannya sendiri sudah beberapa tahun sebelumnya tapi dialah satu-satunya warga kampung tersebut yang tetap hidup meski sudah tergigit. Ia diserang komodo saat berjalan di pinggiran kampung yang memang tidak berpagar dan langsung ke hutan. Peristiwa ini tidak sering terjadi. Jarang sekali ada komodo yang menghampiri kampung.

Selain terumbu karang di pantai Merah, kita juga bisa bertemu dengan Mantaray di perairan pantai Makassar. Ribuan ikan bisa kita temui di kawasan Crystal Rock, di depan Gili Lawa Laut namun hanya penyelam kawakan yang bisa menikmatinya karena arus di bawahnya sangat deras.

Crystal Rock merupakan persinggahan kami yang terakhir di Taman Nasional Komodo. Dari sini perjalananan akan langsung mengarah ke Flores, berlabuh di Ropa, desa kecil di sebelah Utara kota Ende. Jarak dari Ende ke kawah Kelimutu hanya sekitar satu jam.

Semula pencerita mengusulkan untuk menyusuri pantai Selatan P. Flores. Artinya, berlayar di laut bebas. Pak Benny mengingatkan bahwa ombak di sana sangat besar, perjalanan pasti sangat lambat dan takutnya tidak bisa tiba di Ende sesuai jadwal. Tapi kalau memang itu yang diminta oleh tim ARD-TV, ia menyanggupi.

Pencerita minta pendapat pak Vinsen Latif, kepala pos taman nasional di Loh Liang.

“Bisa saja tapi sekarang sedang musim ombak besar,” ujarnya sambil tersenyum. “Saya pernah satu kali ke pelabuhan Ende dengan kapal nelayan lewat jalur Selatan. Terus terang saja, sepanjang perjalanan itu saya merasa sangat dekat dengan Tuhan.”

Cukup jelas peringatan yang tersirat dari uraian tersebut. Kami pun memutuskan untuk menyusuri pesisir Utara P. Flores!

Kawah Tiga Warna

Selesai syuting di Gili Lawa Laut, kami pun merapihkan perabotan besar karena lokasi ini merupakan lokasi terakhir kami akan melakukan pengambilan gambar di bawah air. Segala peralatan terkait syuting bawah air pun kemudian dibersihkan, dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan masing-masing. Dari titik ini Carita terhitung piknik menemani kami yang masih harus syuting saat tiba di Ropa, merekam keberangkatan Ambasi kembali ke Bali, kawah tiga warna G. Kelimutu dan suasana kota Ende.

Begitu tiba di Ropa, mobil yang akan mengantar kami ke Ende sudah menanti. Semua sudah diatur oleh pak Benny sebagai bagian dari kerjasama dengan Ambasi. Jadwal dan titik penjemputan yang sudah diatur sejak keberangkatan dari Bali ini yang dikhawatirkan meleset bila kami memutuskan untuk mencoba ‘mendekatkan’ diri dengan Tuhan lewat pesisir Selatan P. Flores.

Untuk alur cerita yang ingin kami suguhkan kepada pemirsa, kota Ende memberikan suatu gambar dahsyat di pagi hari. Pasar ikan. Puluhan kapal nelayan yang pulang melaut berjejer di pantai. Ikan-ikan diturunkan. Warga berkerumun dengan pakaian beraneka warna. Cahaya matahari pagi membuat gambar yang direkam menjadi istimewa. Belum lagi kegiatan nelayan memotong ikan-ikan besar, transaksi antara warga dan nelayan, semua itu memperkaya gambar yang kami bawa pulang.

Sudah banyak tempat pelelangan ikan di berbagai pelabuhan di nusantara yang pencerita lihat. Harus pencerita akui mata benar-benar melotot ketika melihat suguhan pemandangan pada pagi hari itu. Posisi pantai yang berupa teluk menyempurnakan komposisi gambar.

Kawah tiga warna Kelimutu sendiri secara gambar sangat sulit untuk direkam… kecuali bila direkam dari udara. Sayang sekali kami tidak memiliki dana untuk ‘menarik’ helikopter dari Bali ke Ende atau menyewa model helicopter dari Singapura. Kami hanya bisa merekam keajaiban dunia itu dengan lensa lebar, itupun hanya bisa dua kawah dalam satu gerakan kamera karena kawah ketiga, yang berwarna hitam dan konon tempat berkumpulnya roh jahat, posisinya terpisah dari kedua kawah lainnya.

Untunglah saat kami berkunjung ada rombongan siswa SMA dari Kupang yang sedang bertamasya ke sana. Tamasya sekaligus belajar tentang alam semesta mengisi masa liburan mereka. Setelah obrol santai dengan Hetkaemper, mereka menyanyikan salah satu lagu daerah untuk kami rekam. Oleh-oleh yang bisa memperkaya suara saat penyuntingan nantinya.

Sepulang dari Kelimutu, keseluruhan perjalanan pun selesai. Semua tersenyum senang

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: