Dongengfilm's Blog

Februari 11, 2014

Surat Terbuka Untuk Para Produser Maling Stasiun TV.

Filed under: Tak Berkategori — dongengfilm @ 7:06 am

Para produser maling sekalian…

Belum lama ini saya melihat footage film “Student Movement in Indonesia” ditampilkan cuplikannya di program infotainment “Seleb Expose” di Trans 7 pada Minggu, 02 Februari 2014 sore. Catatannya: Courtesy http://www.youtube.com.

Ketika status tersebut dibaca rekan se-FB, salah seorang teman mengingatkan saya bahwa iklan Partai Nasdem juga memakai footage iklan Gudang Garam Lebaran 1998 yang disutradarai oleh Garin Nugroho, saya selaku produser, dan Netracom Film sebagai rumah produksinya.

Mendengar cerita teman itu, langsung saya tongkrongin tuh Metro TV. Dan… benar saja! Footage dari iklan Gudang Garam itu tampil cling, cemerlang karena disyut dengan seluloid. Berbeda dengan footage lain yang mungkin disyut dengan kamera Video 8.

Saya tulis lagi kasus itu di status akun FB saya. Setelah berbagai komentar akhirnya dapat berita dari pelaku bahwa cuplikan itu atas seijin Garin karena kebetulan yang membuat iklan tersebut adalah krunya. Saya tidak tahu apakah seijin klien maupun rumah produksi. Saya juga tidak tahu apakah Partai Nasdem sadar bahwa cuplikan itu diambil dari iklan perusahaan rokok.

Selagi obrol dengan teman-teman tentang kasus iklan Partai Nasdem tersebut, salah seorang teman menceritakan bahwa minggu lalu ia melihat cuplikan footage film “Student Movement in Indonesia” tampil dalam acara terkait pesan ‘melawan lupa’ di Metro TV dengan catatan: Courtesy “Student Movement in Indonesia.”

Para produser maling sekalian…

Film “Student Movement in Indonesia” memang saya relakan untuk tayang di banyak website karena sifatnya mengingatkan bangsa akan kekejaman aparat bersenjata di NKRI yang bernyali besar terhadap rakyat sendiri (yang tak bersenjata) tapi melempem dalam menjaga integritas bangsa dan negara dari intervensi asing.

Selama sifatnya pemberitaan, ya tidak apa-apa untuk dikutip tayang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Tapi kalau untuk menjadi bagian dari sebuah program, bukan siaran berita, yang tentunya melibatkan pemasangan iklan atau untuk vested interest sekelompok orang (biasanya sih kepentingan para politisi pembohong), ada kode etik dimana produser program harus menghubungi pemilik footage. Itu pun tidak selalu berarti akan melibatkan uang.

Paling tidak produser program melakukan tindak sebenarnya sehingga ia layak mencantumkan kata ‘courtesy’… yaitu menghubungi pemilik film terlebih dahulu… kulo nuwun dulu… Pemilik film punya hak untuk menolak kalau program tersebut tidak sesuai dengan prinsip atau hati nuraninya.

Soal pencantuman nama, apakah itu judul film atau pembuat, itu juga keputusan si pembuat film dan/atau pemilik footage, ketika ia dihubungi (dan memang mengijinkan).

Betul kan, njing?

Kalau terkait saya, ijin diberikan tergantung mood dan pandangan saya saya terhadap program itu. Kalau program merupakan bagian dari propaganda orang atau partai, pasti harus bayar. Kalau masuk program yang beriklan, selayaknya harus bayar.

Produser yang biasanya menghubungi saya umumnya karena tidak memiliki footage itu sendiri atau copy filmnya. Mereka basa-basi menghubungi saya, minta ijin, pinjam copy film untuk kemudian TIDAK mengembalikannya. Termasuk pengelola acara film di Bentara Budaya yang menjadi bagian dari KOMPAS grup yang terkenal itu. Mereka pernah meminjam copy film “Student Movement in Indonesia” untuk acara road show pemutaran film di berbagai kota, gratis, dan copy film tidak kembali… mental maling memang meratalah di negeri ini.

Sebenarnya ada banyak film bahkan film cerita yang memasang cuplikan film tersebut secara gratis. Biasanya pertama karena tidak punya copy film. Kedua karena sadar sedang produksi film komersial. Ketika obrol, si produser praktis mengemis dan bilang bahwa filmnya itu tidak ada budget. Misalnya film “Habibie & Ainun”… ha ha ha… awalnya mereka miskin kok.

Dulu pernah ada program di salah satu stasiun televisi yang terkait dengan cita-cita menjadikan negara ini negara yang “bersih”. Karena memasang footage tanpa ijin padahal bercita-cita bersih, mereka pun harus berhubungan langsung dengan pemilik footage dan kena denda harus bayar ke si pemilik. Kebetulan pemilik footage bukan saya.

Para produser maling sekalian,

Yang tidak Anda sadari, atau tepatnya mungkin tidak mau tahu, adalah ada footage dalam film “Student Movement in Indonesia” yang saya dapat dari teman-teman itu adalah hanya untuk masuk dalam film tersebut. Bukan berarti saya punya hak untuk memberi ijin dipakai dalam film lain apalagi dijarah begitu saja.

Setiap kali ada pembuat film yang bertanya kepada saya, kalau memang menyangkut footage milik orang lain yang ada dalam “Student Movement in Indonesia”, selalu saya arahkan untuk menghubungi langsung kepada yang bersangkutan.

Bahwa ada produser program televisi yang merupakan bagian dari sebuah stasiun televisi tapi ternyata tidak memiliki akses ke footage terkait peralihan pemerintahan Soeharto 1998, ya salah sendiri bergabung pada sebuah stasiun televisi yang memiliki departemen pemberitaan yang pelit atau tidak memiliki data base yang benar sehingga sulit mencari arsip footage belasan tahun yang lalu.

Lebih apes lagi kalau stasiun televisi itu ternyata berdiri setelah tahun 1998. Mereka tampaknya terlahir untuk mencuri footage sejarah dengan catatan andalan… Courtesy: (website). Dari itu saja, yang memperoleh akreditasi kerja adalah website-nya. Bukan si pembuat film atau judul film itu sendiri.

Artinya, kalau berdiri pasca masa sebuah peristiwa itu tidak berarti bahwa mereka langsung sah untuk mencuri footage dari milik orang lain. Apalagi kalau para pembuat filmnya masih ada. Tidak berarti sah mencuri, sah menyandang predikat produser maling, hanya dengan mencantumkan istilah “courtesy”.

Istilah ‘courtesy’ ini, kalau dilihat dari akar katanya, mengacu pada adanya proses permintaan ijin sebelum memakai. Mengacu pada isitilah “kulo nuwun”.

Bukan main habek aje, njing…

Catatan:
Tolong disebar-luaskan agar terbaca oleh para produser maling dan mendorong mereka untuk sedikit belajar etika dalam memakai footage milik para pembuat film.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: