Dongengfilm's Blog

Oktober 10, 2013

Filed under: Tentang Film — dongengfilm @ 5:00 am

Mata diajak melihat kehidupan masyarakat di pulau terpencil di Aceh sana, ke pedesaan di daerah Pati (Jawa Tengah), ke cagar alam Meru Betiri (Jawa Timur), ke desa di kabupaten Pontianak dan akhirnya ke Ambon di Kepulauan Maluku.

Karya yang tampil di ajang Eagle Awards 2013 ini, lagi-lagi, menampilkan impotensi peran pemerintah dalam mengelola negara, apalagi memajukan rakyat. Kalaupun ada peran pemerintah yang dirasakan oleh rakyat maka perannya adalah memberi ijin kepada pemodal untuk berusaha di pedesaan tanpa memperdulikan pelestarian alam apalagi membina masyarakat agar bisa mandiri.

Di Kalimantan Barat kesuksesan pemerintah dalam mengecewakan rakyat, keberhasilan pemerintah dalam menghentikan pembangunan untuk prasarana jalan mendorong generasi muda suku Dayak merelakan tanah adat mereka untuk dijual ke pemodal perkebunan kelapa sawit. Mereka terbius oleh tawaran ‘kemajuan’ yang sebetulnya adalah pemenuhan fasilitas untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Di banyak negara hal itu biasanya dipenuhi oleh pemerintah.

Di Ambon upaya rekonsiliasi penyembuhan trauma perang agama yang lalu (1999-2002) diprakarsai oleh rakyat sendiri. Pemerintah tidak pernah berusaha mengungkap dalang kerusuhan yang pastinya tidak menetap di Maluku tapi di Jakarta. Bagaimana ada rekonsiliasi kalau biang keroknya tidak mau diungkap? Upaya rakyat patut dihargai meski hasilnya belum meluas ke seluruh wilayah Maluku.

Intinya, semakin kita bercerita mengenai kehidupan di pelosok, semakin kita sadar bahwa pengelola negara ini memang tidak becus sama sekali. Dari tingkat rendah hingga yang tertinggi.

Akibatnya peran negara hanya bisa ditampilkan dengan kehadiran bendera merah putih. Hanya bendera yang mewakili kehadiran pengelola negara. Bendera yang mewakili sebuah pemerintahan tapi kehadirannya tidak membawa manfaat bagi rakyat.

Apa bedanya dengan kehadiran bendera merah putih biru di Hindia Belanda pada jaman penjajahan Belanda dulu?

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: