Dongengfilm's Blog

September 20, 2013

Filed under: Tak Berkategori — dongengfilm @ 12:50 pm

Saya bingung dan was-was.

Bingung mengikuti berita tentang perseteruan antara Yayasan BK dengan Multivision terkait pembuatan film BK yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo Anugroho.

Satu rentetan pertanyaan yang terbersit adalah BK begitu banyak meninggalkan ajaran tentang kehidupan bernegara tapi apa yang kira-kira diajarkan oleh BK kepada anak-anaknya semasa masih hidup tentang dirinya yang sudah sejak lama menjadi milik bangsa? Bahwa seorang BK sudah sejak muda sudah menjadi milik umum dan bukan milik keluarga…

Pernah nggak ya BK mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa salah satu bagian dari tanggung-jawab dirinya sebagai milik bangsa adalah setiap anak bangsa punya hak untuk menafsirkan siapa dirinya? Menafsirkan apa sebenarnya perannya dalam proses perjuangan kemerdekaan? Setiap anak bangsa mempunyai hak yang sama untuk menilai keberhasilan dan kegagalannya?

Meskipun anak bangsa itu sendiri tidak pernah berkenalan dengan seorang BK semasa hidupnya!

Kalau sekarang kabarnya akan ada somasi yang antara lain disebabkan oleh pemilihan pemain yang dianggap tidak cocok untuk menjadi seorang BK… terlepas dari hak mutlak seorang sutradara dalam memilih pemain yang paling tepat sesuai dengan visinya atas skenario yang akan diproduksi… kenapa keluarga BK tidak pernah mensomasi Soeharto yang selama 32 tahun dengan semena-mena mengajarkan kepada anak bangsa berbagai ketidak-benaran sejarah perjuangan terkait peran BK itu sendiri?

Kenapa keluarga BK membiarkan Soeharto dan kroninya membesarkan peran tentara dalam perjuangan kemerdekaan sambil mengecilkan peran sipil yang tidak kalah pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan… kalau kita tidak boleh bilang mungkin lebih besar pengorbanan rakyat daripada pengorbanan tentara pada waktu itu?

Kalau keluarga memang tidak rela dan tidak mengakui hak anak bangsa atas pahlawan nasionalnya, hak anak bangsa untuk menafsirkan sejarah dan tokoh-tokoh bangsanya, kenapa tidak menuntut pemerintah yang telah menjadikan BK sebagai milik bangsa? Kenapa tidak menuntut pemerintah untuk mencabut kembali gelar Sang Proklamator dan mengembalikan BK sebagai milik eksklusif keluarga besar BK?

Intinya sih, di satu bingung aja melihat sikap Yayasan BK terhadap film  tersebut. Di lain pihak, meski saya mengakui hak kreatif seorang sutradara, saya tetap was-was seandainya ada produk konsumen baru yang tiba-tiba muncul dalam film tersebut.

“Kenekatan” itu sudah terjadi dalam beberapa film tentang tokoh sejarah sebelumnya. Akankah seorang Hanung konsisten dalam patuh pada paksaan produser?

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: