Dongengfilm's Blog

Januari 31, 2013

Republik Halal Haram…

Filed under: Umum — dongengfilm @ 1:48 am

Selamat pagi!

Di tengah keasyikan membaca berita di koran, tiba-tiba saja di benak terbersit sesuatu yang lumayan ‘lucu;.

Beberapa waktu lalu, kita dihebohkan dengan adanya kasus sepatu yang menggunakan kulit babi… artinya, sepatu itu haram dipakai. Masih ingat?

(Masih tidak jelas isu ini diangkat untuk menutup kasus tak niat dituntaskan yang mana.)

Ketika kasus itu merebak, saya teringat masa kecil saya. Masa ketika masih duduk di bangku SD dan bermain di antara anak-anak Betawi. Setiap kali ada yang dijilat anjing, ‘korban’ langsung sibuk membersihkan titik yang terkena jilatan anjing itu dengan debu.

“Ih, najis! Najis!”

Begitu bunyi ucapan sambil mengusapkan debu ke bagian tubuh tersebut. Minimal 3 (tiga) kali. Pada masa itu, tidak jarang anjing peliharaan ditimpuki oleh anak-anak ‘kampung’.

(Suasana yang jauh berbeda dengan sekarang dimana banyak anjing kurap yang dimuliakan sebagai orang terhormat.)

Setelah agak besar, ada seorang Betawi yang lebih dewasa menjelaskan kepada saya, anak indo yang tampak sangat bule di antara teman bermain, bahwa hal itu dikarenakan ‘korban’ terkena ludah anjing. Kalau hanya bersentuhan dengan bulu, kalau bulunya kering, itu tidak apa-apa. Tapi kalau bulu anjingnya basah, itu haram juga.

(Kenyataan banyak wakil rakyat yang kelakuannya seperti anjing kurap, pastinya ‘bulu’ mereka berlendir terus ya… )

Nah, kalau logika ‘basah’ yang dipakai, apakah sepatu dari kulit babi itu menjadi haram karena kemungkinan kaki pemakai berkeringat? Kalau ya, bukankah itu berarti yang haram adalah percampuran keringat si pemakai dan kulit babinya? Air yang mengenai bulu anjing tidak haram. Tapi bulu anjing itu menjadi haram setelah menjadi basah. Apakah kaus kaki bisa ‘menghalalkan sepatu tersebut?

*****

Nah, kemarin kita disodorkan kasus baru oleh KPK (sambil pemerintah berharap rakyat melupakan kasus tak terungkap apalagi terselesaikan sebelumnya).

Ada tokoh partai yang sejak awal meng-claim diri sebagai partai ‘suci’, garda depan melawan korupsi, santun dalam bergaul, tidak pernah mau bersalaman dengan lawan jenis kelamin kecuali first lady negara asing dan seterusnya, ditangkap oleh KPK.

Menurut pemberitaan resmi dari KPK, presiden partai (yang juga anggota DPR RI itu) ditahan karena dicurigai menerima suap dari perusahaan pengimpor daging sapi.

Nah, kembali ke logika ludah anjing itu haram, sepatu dari kulit babi itu haram… untuk kasus daging sapi ini, yang bisa masuk kategori haram itu si presiden partai yang menerima uang suap tersebut atau daging sapi impor yang beredar di Indonesia melalui proses hukum yang cacat sehingga terkena ‘getah’-nya?

Hukum yang disahkan melalui suap kan menjadi hukum yang ‘basah’. Daging pun menjadi daging haram dan tidak bisa mendapatkan label ‘halal’ dari MUI.

(Saya coba browsing, ternyata tidak berhasil menemukan fatwa MUI yang dengan tegas mengharamkan korupsi. Mungkin saya salah, mohon masukan informasi kalau memang ada. Makasih.)

****
Seru juga iseng-iseng mencoba menyelami logika definisi ‘halal’ dan ‘haram’ ini di suatu Kamis pagi.

Saya tidak paham hukum-hukumnya menurut kitab suci agama Islam yang terkait haram dan halal. Jujur saja, saya tidak terlalu memasukkan hukum atau peraturan yang baik dan tidak, boleh dan tidak, yang terdapat di dalam ayat-ayat kita suci (manapun). Kenyataan keseharian menunjukkan bahwa semua peraturan agama itu seringkali dilanggar penganut agama yang bersangkutan.

Janji dan kepercayaan bahwa YMK adalah Maha Pemaaf membuat banyak penganut menjadi seenaknya. Yang penting berjaga-jaga, waspada, beberapa saat sebelum mati, cepat-cepat minta maaf. Begitu kira-kira logika mereka.

Dalam menulis “Republik Halal Haram” ini, saya melulu hanya berangkat dari pengalaman empirik. Pengalaman yang biasanya mengandung atau mengajarkan logika tertentu.

Kalau dilihat dari kehidupan bernegara, adanya kemajemukan yang diakui oleh para bapak pendiri bangsa sebagaimana tertuang dalam dasar negara, ditambah kenyataan sejarah dari dulu bangsa Indonesia menganut berbagai agama dan aliran kepercayaan (tradisional), tindakan menuding sesuatu sebagai haram secara umum, sebenarnya… adalah suatu tindakan yang haram hukumnya!

Mari kita tunggu fatwa MUI terkait daging sapi yang diimpor berdasarkan hukum yang ‘basah’ tersebut.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: