Dongengfilm's Blog

Januari 21, 2013

Gelitik kosa kata: Antara ‘blusukan’ dan ‘sodetan’.

Filed under: Tak Berkategori — dongengfilm @ 12:30 pm

Kedatangan Joko Widodo alias Jokowi sebagai gubernur DKI Jakarta memperkenalkan kata baru bagi warga Jakarta… “blusukan”… yang dalam waktu singkat menjadi sangat populer.

“Blusukan” kata yang terdengar kampungan ini tidak tercantum dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI ) terbitan Balai Pustaka, 2002. Dari bunyinya, saya menangkap kesan menyusup di antara ranting dan daun, semak-semak atau hambatan lain hingga mencapai apa yang ingin didekati.

Terus terang saya tidak tahu apakah akar katanya “susuk”? Dalam KUBI, arti akar kata “susuk” adalah “bentuk” tubuh (– tubuh) atau “tusuk”. Ini arti dalam bahasa Indonesia. Kalau arti dalam bahasa Jawa disebutkan berarti uang penyongsong atau uang kembali (kelebihan dari pembayaran). Apa yang tertulis dalam KUBI ini sama sekali tidak sesuai dengan arti yang saya tangkap ketika kata “blusukan” dikaitkan dengan gerak Jokowi.

Kata “blusukan” yang dikaitkan dengan Jokowi, bagi saya artinya adalah gerak seorang pimpinan yang mau turun ke akar rumput, bicara dengan rakyat tanpa hambatan dari sistem protokoler (yang biasanya kaku membuat adanya jurang pemisah antara pejabat dan rakyat), sang pejabat melihat dan mendengar langsung persoalan yang dihadapi warga dalam keseharian hidup mereka.
Kata yang kemungkinan besar berasal dari bahasa Jawa, atau slenk dalam bahasa Jawa ini kemudian menjadi pengganti kata “turba” (turun ke bawah) era Soekarno dulu atau kata “sidak” (inspeksi mendadak) pada masa kekuasaan Soeharto.

Lain lagi kata baru yang diucapkan pertama kali oleh YBS terkait dengan proyek mega untuk mencegah terulangnya banjir di ibukota Jakarta: “sodetan”.

Ketika kata itu saya tulis dalam status FB pagi ini, langsung ada teman yang menanyakan artinya. Apa perbedaan sodetan, codetan dan cobekan? Ketika sore hari kata tersebut saya tulis kembali, ada lagi teman yang menanyakan artinya.

Kenalah saya pada tulah reffrain lirik lagu “Penasaran” karya Rhoma Irama. “Sungguh mati aku jadi penasaran, sampai mati pun akan kuperjuangkan…”

Pulang langsung geledah kamus. Gedubrak ancur tuh lemari dibongkar. Maklum sudah lama tidak bercengkrama dengan KUBI.

Dan… ternyata di KUBI, tidak ada kata “sodet” apalagi “sodetan”. Masih penasaran.

Cari di Kamus Indonesia-Inggris terbitan PT Gramedis Pustaka Utama cetakan September 2004. Ada kata “sodet” yang padan katanya dalam bahasa Inggris adalah “spatula”. Makin penasaran.

Buka lagi Kamus Inggris-Indonesia dari penerbit yang sama, cetakan April 2006. Lhadalah! Padanan kata “spatula” bukan “sodet” tetapi “sudip” atau “kape”. Barusan rekan Dhamawan menyebut kata “sutil” sebagai padanan kata “sodet”.

Jadi dari mana YBS bisa menemukan kata yang langsung di-amin-i media massa sebagai kata bahasa Indonesia? Kata yang dianggap dimengerti oleh semua orang.

Penelusuran saya lanjutkan. Mencoba menelesuri komentar rekan tadi pagi, kata “codetan” dan “cobekan”. Tadi saya hanya bisa memastikan bahwa pasti artinya kata “sodetan” tidak berhubungan dengan kata “cebokan”.

Dyarrrr! Kata “codet” ada dalam KUBI. Kata dari bahasa Jawa, artinya bekas luka.

Endus lagi. Eh, kata “cobek” juga ada, arti pertama piring dari tanah untuk menggiling lombok, sambal dsb; atau cuik. Arti kedua, nah ini sangat menarik, artinya sobek. Huruf pertama kata yang ‘c’ dibaca dengan bunyi ‘s’. Seperti anak kecil yang masih pelo, tidak bisa mengucap huruf “s” dengan baik maka dibunyikan sebagai “c”.

“Cayaaaang,” sering kita dengar dalam bahasa keseharian bila seorang ibu mencoba menenangkan anaknya yang menangis.

Apakah YBS, yang selama ini memang seringkali tidak jelas logikanya itu, sebenarnya sedang mencoba melucu ketika menyebut kata “sodetan”? Sebetulnya kata itu plesetan dari kata “codetan”? Tapi kok terbalik ya. Anak kecil justru menjadikan huruf “s” di awal kata menjadi “c”. Ini kata “c” justru diucapkan menjadi kata “s”.

Mudah-mudahan tidak demikian. Kasihan kan kalau pada suatu ketika, dalam kunjungan kenegaraan ke Eropa tiba-tiba dia berujar ke sebelahnya, “Cayaaang, nanti malam caya mau makan daging singcang ya…”

“Cini cini ke eyang,” ujarnya (mungkin) ketika menenangkan sucunya di Taman Safari. “Ah, cayaaang! sep sep sep, udah yah, itu cinga bukan macan…”

Pusing gak looooo…

*Ciyus, miaaapaa?”

Catatan:

Mohon masukan dari teman-teman seperti Henry CH Bangun dan banyak lagi, yang adalah dedengkot bahasa Indonesia, mengenai kata “sodetan” ini.

Iseng-iseng, mari kita perkaya kosa kata bahasa nasional kita sendiri.

Di akun FB, ada teman yang memberi masukan mengenai arti kata “sodetan” sebagai berikut… Saya mencoba untuk mengartikan “sodetan” ini mungkin biasa dalam bahasa jawa memang ada artinya disobek atau disayat tetapi ini dalam kasus kalau tangan kita kena duri kecil (bahasa jawa tlusupen) maka untuk mengeluarkan duri kecil yang mengganggu itu perlu disudet biasanya pakai ujung peniti hingga duri atau benda kecil yang mengganggu itu keluar dari tangan atau bagian dari tubuh kita biasanya di telapak tangan , jari atau telapak kaki, kira kira itu yang bisa saya jelaskan semoga dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang sesungguhnya, trims.

Terima kasih mas Nouw Nouw Samadiman.

2 Komentar »

  1. Ciyus nih penulis artikel sudah buka-buka utk mencari arti kata “sodetan”? Dengan googling aja saya dengan mduah mendapat ini:

    http://artikata.com/arti-378918-sodetan.html

    Artinya “membuat terusan”…kata dasarnya “sodet”

    Halaman ini menunjukan sebuah hasil sodetan di Sungai Ciliwung di tahun 2009:

    http://www.gettyimages.com/detail/news-photo/the-sodetan-citarum-river-on-december-03-2009-in-north-news-photo/93901599

    Tahun segitu belum ada Jokowi-Ahok tuh…

    Komentar oleh Edwin — Januari 24, 2014 @ 3:38 am | Balas

  2. Ralat. Orang Jawa (Tengah) jika terkena duri atau serpihan kayu yang sangat lembut sehingga sulit dikeluarkan barulah menyebutnya SUSUBEN. Cobek di Jawa menyebutnya COWEK atau COWET. Kalau sedang masak menyebut Sodet dengan sebutan SUSUK, tetapi kalau sedang berbelanja SUSUK adalah sebutan untuk uang kembalian. Di Jawa Tengah lain kota dan lain desa memiliki bahasa dan dialek yang sangat beragam. Belum lagi tingkatan sopan santun berbahasanya.

    Komentar oleh Syafana — Juli 9, 2014 @ 4:06 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: