Dongengfilm's Blog

Januari 18, 2013

Wahai Pewarta… Kapan?

Filed under: Umum — dongengfilm @ 4:41 am

Bencana banjir bukan buatan manusia. Tapi jelas bukti keteledoran kita sebagai manusia, manusia yang selama berpuluh tahun tidak memperhatikan perawatan aliran air.

Bumi serapan air sudah semakin berkurang. Manusia memang semakin banyak tapi adalah tugas pemerintah untuk mengatur pembangunan. Banyaknya mall dan gedung pencakar langit seperti kantor ataupun apartemen membuktikan ketidak-becusan pengelola kota.

Di pedalaman, jauh dari kota besar, penghancuran semacam juga terjadi. Hutan ditebang, bumi dirusak oleh berbagai pertambangan dan tanaman seperti kelapa sawit. Terbukti predator lingkungan tapi tetap diijinkan oleh pengelola negara. Ironisnya, kita sebagai rakyat tahu, sekali lagi TAHU, bahwa pemberian ijin bangun gedung serampangan, penghancuran hutan ataupun pertambangan itu diberikan berlandaskan suap dan korupsi.

Tindak tercela pecabat terkait yang tidak bisa kita buktikan dan tidak ada itikad dari penegak hukum untuk mencari bukti dan kemudian menjatuhkan hukum yang adil. Kasus Angelina Sondakh justru membuktikan sebaliknya. Kasus ‘BMW Maut’ membuktikan perbedaan derajat warganegara di mata hukum dan penegak hukum. Kasus Aceng membuktikan betapa korupnya UU dan peraturan, saling timpah tindih sehingga negara tidak bisa bertindak tegas pada pejabat yang terbukti menyakiti hari rakyat. Kasus Daming membuktikan betapa kerdilnya jiwa pejabat penting. Jelas-jelas salah, tetap tidak mau mengundurkan diri dari pecalonan hakim agung secara jantan.

Reformasi sebentar lagi diperingati untuk ke-15 tahun. Hasilnya?

Pemerintah dan politisi busuk petantang-petenteng. Malah ada sosok tak becus dikasih kesempatan bertengger lebih dari 1 periode jabatan.

Kapan media bangkit melawan tindak tercela pengelola negeri, pengelola kota dan politisi busuk?

Kapan pewarta diharuskan menolak pemuatan berita dari sosok-sosok yang rekam jejaknya jelas menunjukkan tindak tercela selama memegang jabatan atau menjadi politisi?

Kapan pimpinan redaksi melarang pewarta-pewartanya menghadiri konferensi pers yang diadakan oleh kaum laknat ini?

Tidak ada gunanya berharap pada orang gajian kita yang menyebut diri pelayan masyarakat, wakil rakyat ataupun penegak hukum. Apalagi politisi yang menjadi anggota partai karena partai dianggap sebuah perusahaan dagang. Tanpa ideologi yang terbukti berpihak pada rakyat.

Harapan tinggal di media pemberitaan. Bila mereka tidak diberikan ranah untuk membohongi rakyat, seperti Soeharto membungkam rakyat selama 32 tahun, kita pasti bisa memperbaiki negeri ini. Mereka tidak dilarang bicara tapi tidak diberikan tempat untuk bicara.

KAPAN?

“Kapan, kapan,
kita bersatu padu…
kapan, kapan,
kita bertindak tegas…”

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: