Dongengfilm's Blog

Januari 11, 2013

Tengah minggu kelabu di awal 2013.

Filed under: Umum — dongengfilm @ 3:54 am

Kamis 10 Januari 2013 bisa kita catat sebagai (lagi-lagi) titik awal kehancuran bangsa di bawah kekuasaan YBS. Bukan kehancuran YBS, tapi kehancuran BANGSA. Meski sudah berulang kali, namun ada dua kejadian khusus yang membuat hari ini tetap lebih istimewa dari catatan-catatan terdahulu.

Kejadian pertama berita vonis terdakwa (kemudian tampil pahlawan) Angelina Sondakh yang hanya dihukum 4,5 tahun dan denda Rp. 250.000.000,00 untuk korupsi milyaran rupiah. Uniknya, hakim menyatakan dia terbukti bersalah. Bahasa awamnya, dia terbukti MENCURI! Tapi dia tidak harus mengembalikan hasil curiannya.

(Mungkin, mungkinkah, bisa jadi, nantinya hanya akan untuk dijadikan sumber dana arisan bersama para penegak hukum?)

Kalau kita bandingkan nilai uang yang dicuri seorang maling ayam atau pencopet dengan nilai uang yang dicuri oleh Angie, panggilan sayangnya, rasanya kita perlu mendirikan Institut Koruptor Indonesia. Para penyidik KPK bisa dilibatkan untuk menjadi pengajar mata kuliah ‘Cara Menutupi Jejak Korupsi’; para hakim menjadi tenaga pengajar khusus untuk mata kulian Kiat Melunakkan Hakim Saat Pengadilan’ dan seterusnya.

Kalau dulu kita selalu melihat menjadi PNS, TNI atau POLRI sebagai jalur karier yang aman dan banyak “kemungkinan”-nya, maka kini koruptor bisa diresmikan (secara hukum) sebagai jalur karier baru yang memberikan jaminan masa depan. Kalaupun harus masuk penjara, nilai pendapatannya tetap sangat layak. Kehidupan dalam penjara merupakan bagian dari ‘cobaan’ kerja yang harus dilakoni saat menjalani karier tersebut.

Koruptor menjadi bukan lagi menjadi kata yang melekat dengan aib tapi gelar Sama dengan dokter, insinyur ataupun sarjana hukum. Korupsi menjadi pekerjaan terhormat karena berbeda dengan maling, korupsi (sekarang ini) lebih jujur dan terbuka.
Yang pasti, seperti kita amati sejak KPK berdiri, menjadi tahanan korupsi tidak berarti menjadi residivis. Bukan sesuatu yang aib sama sekali. Terbukti jelas dengan yang kita saksikan kemarin.

Usai vonis, Angie mengadakan jumpa pers. Kalau di dalam film terkait hukum sering kita lihat adegan setelah vonis, tahanan langsung digelandang dari ruang pengadilan ke mobil untuk dibawa ke penjara. Hanya pengacara yang melakukan jumpa pers. Tapi itu di dalam film dan karena penegakan hukum di NKRI sering hanya pada tahap ‘kurang lebih’ maka kita pun umumnya menjadikan film asing sebagai referensi. Maaf dunia, kami masyarakat Indonesia berpegang pada peribahasa luhur warisan pendahulu kita: Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

Para penyidik KPK pasti geram. Segala upaya mereka menjadi bagian dari ‘drama’ upaya pemberantasan korupsi. Kalau di dalam alur cerita film, menjadi ‘bumbu’ drama ketegangan meskipun di akhir cerita kita melihat happy ending bagi para tokoh. KPK bukan tokoh protagonis tetapi justru antagonis. Pengganggu ketenangan karier tokoh-tokoh koruptor namun pada akhirnya karier para koruptor tidak akan terganggu.

Para tersangka korupsi menjadi seperti tokoh-tokoh jahat yang justru dibuat sedemikian rupa sehingga memperoleh simpati penonton. Seperti dalam banyak film Hollywood satu dua dekade terakhir ini. Para koruptor menjadi semacam Robinhood atau Jesse James. Perbedaannya, Robinhood dan Jesse James dipuja rakyat sedangkan koruptor tetap dicerca rakyat. Tentu saja oleh rakyat yang tidak punya hubungan keluarga atau pertemanan dengan para koruptor. Rakyat yang punya hubungan justru ikut menikmati hasil jarahan mereka dan mengamini karier para koruptor.

Kejadian kedua adalah terpilihnya Roy Suryo sebagai Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) menggantikan Andi Alfian Mallarangeng yang terpaksa mundur karena terjegal oleh isu di-tenggara-i (bukan di-barat-daya-i, di-utara-kan atau di-selatan-i) terlibat dalam kasus Hambalang. Juga kasus korupsi yang seperti saya singgung di atas sudah bisa dimasukkan sebagai pekerjaan resmi, bagian dari karier yang bisa dirintis oleh seseorang di era Reformasi.

Pada suatu saat, Roy Suryo Notodiprojo, seorang Kanjeng Raden Mas Tumenggung, pernah menggemparkan rimba gubuk dan kemiskinan Indonesia dengan keahliannya di bidang informatika, multimedia dan telematika. Ia sering menjadi nara sumber di bidang teknologi informasi, fotografi dan multimedia. Di kepartaian, ia duduk sebagai pengurus Partai Demokrasi di bidang komunikasi dan informatika.

Terlepas dari berita-berita terkait analisa-analisa yang ia lakukan terhadap kasus-kasus foto atau video menghebohkan, rekam jejaknya sama sekali tidak menunjukkan kedekatannya dengan dunia olah raga.

Beberapa hari lalu website YBS sempat diserang ‘hacker’ yang mengaku dari Jember tapi kemudian dilacak hingga ke Amerika Serikat. Apakah pemilihan Roy Suryo untuk mencegah terjadinya hal semacam? Kalau itu alasannya, kenapa tidak memindahkan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) menjadi Menpora dan mengangkat Roy Suryo sebagai Menkominfo yang baru?

Saya tidak bermaksud sinis ataupun sarkartis. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya pribadi bahwa YBS itu pemimpin yang tolol atau dikelilingi oleh staf pemikir yang goblok. Ini multiple choice. Silakan pembaca pilih dan simpulkan sendiri. Pembaca juga bisa tidak memilih dari keduanya.

Ketika ia mengadakan reshuffle kabinet Oktober 2011, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) diubah menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (KemenParekraf). Salah satu dampaknya terlihat jelas pada adanya dua induk bagi dunia perfilman. Yang industi (masuk Kemenparekraf) dan yang terkait sebagai penjaga kebudayaan masuk ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kok bisa?

Pengubahan nama Kementerian ternyata tidak menyimak UU No 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman. Sebagai mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Mari Elka Pengestu melihat perfilman adalah bagian dari industri kreatif. Artinya, merupakan bagian dari Kemenparekraf yang ia pimpin sejak tanggal 19 Oktober 2011. Tapi, dalam UU No 33 dinyatakan bahwa perfilman termasuk dalam kementerian yang membawahi bidang kebudayaan. Artinya, masuk bagian dari Kemendikbud.

Perfilman sendiri bisa masuk ke keduanya. Ya industri, ya kebudayaan. Malah bisa juga masuk ke dunia telekomunikasi dan informasi. Artinya, masuk naungan Kemenkominfo, ujud baru dari Departemen Penerangan di jaman Orde Baru yang dibubarkan oleh Gus Dur.

Kalau satu bidang saja bisa diurus oleh beberapa kementerian, diatur oleh kebijakan-kebijakan yang dibuat beberapa kementerian (dengan sudut pandang masing-masing) maka bisa dibayangkan timpang tindih kekangan (dan mungkin kemudahan) yang ada. Tinggal pintar-pintarnya pelaku memilih kementerian yang menguntungkan pelaku. Inilah yang sekarang sedang berlangsung di dunia perfilman.

Nah, kembali ke pemilihan Roy Suryo sebagai Menpora, saya geram dan marah. Saya sudah lama tidak berharap pada YBS, bahkan sejak awal berkuasa sudah saya perhatikan menjadi sumber bala bencana. Rekam jejaknya menunjukkan bahwa alam semesta mengamuk ketika ia menjadi penguasa. Tapi saya masih juga terpojokkan untuk geram dan marah karena saya tidak menyangka pemilihan menteri terakhir ini akan setolol itu.

Terlepas dari Roy Suryo adalah seorang genius, yang (maaf) saya ragukan, tapi pemilihan itu menunjukkan bahwa YBS benar-benar tidak mencermati perkembangan rakyat yang semakin kritis. Dalam melontarkan kritik, rakyat tidak lagi asal cablak, tapi memang jaman telah membuat rakyat menjadi kritis.

Kalau dilihat dari sejarah, dari jaman dulu rakyat Indonesia sudah berpikir kritis. Justru karena banyaknya pemikir dan politisi kritis itulah Indonesia bisa menjadi negara merdeka. Tapi selama 32 tahun sikap kritis itu dibungkam oleh Soeharto. Setelah Reformasi 1998, rakyat bisa dibilang merdeka kembali dalam menyuarakan pendapat mereka.

Pemilihan Roy Suryo sebagai Menteri Pemuda dan Olah Raga adalah tingkat PENGHINAAN tertinggi yang telah dilakukan oleh YBS terhadap rakyat Indonesia.

Ijinkan saya bergabung dengan rekan-rekan FB lain dengan menuliskan sebuah kutipan:
We now live in a nation where doctors destroy health, lawyers destroy justice, universities destroy knowledge, governments destroy freedom, the press destroy information, religion destroys morals, and our bank destroy economy,” Chris Hedges.

Salam tolol dan goblok!*

*Silakan pilih.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: