Dongengfilm's Blog

Januari 9, 2013

Antara (R)SBI dan Tanggung-jawab Pemerintah

Filed under: Umum — dongengfilm @ 5:29 am

Selamat siang rintik hujan, teman-teman.

Apa isu terhangat hari ini?

(R)SBI! Bukan singkatan (Rumah) Sakit Binatang Indonesia melainkan (Rintisan) Sekolah Bertaraf Internasional.

Menurut data yang dipampang di salah satu harian nasional, saat ini terdapat 1.305 buah (R)SBI, mulai dari jenjang SD hingga SMA dan SMK.

Persayaratan nilai untuk masuk RSBI di atas nilai yang dituntut oleh sekolah REGULER atau BIASA. Sekolah biasa itu, sebelum ada Pasal 50 Ayat (3) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, mencakup sekolah NEGERI dan SWASTA, baik swasta PARTIKELIR ataupun terkait AGAMA tertentu misalnya sekolah Katolik (seperti Pangudi Luhur ataupun Tarakanita), sekolah Kristen (seperti PSKD) ataupun sekolah Islam (seperti Madrasah).

Dulu, lagi-lagi dulu, pada jaman saya masih di bangku sekolah jenjang tersebut (1964-1976), sekolah internasional yang saya kenal hanyalah sekolah internasional BETULAN, bukan RINTISAN. Waktu itu ada JIS (Jakarta International School) dan Gandhi Memorial School yaitu fasilitas pendidikan bagi anak-anak warganegara asing yang bekerja di Indonesia agar bisa melanjutkan pendidikan mereka di negara masing-masing setelah masa kerja orangtuanya selesai di Indonesia.

Kurikulum sekolah tersebut disesuaikan dengan kurikulum di luar sana. Sekolah-sekolah internasional ini berkembang menjadi sekolah asing karena masing-masing negara yang memiliki banyak warganegara yang menetap di Indonesia juga mendirikan sekolah sejenis. Misalnya ada British International School, Japan International School, Australian Internasional School dan sebagainya.

Teoritis hanya keturunan warganegara asing yang bisa bersekolah di sana. Tapi dalam prakteknya, orang Indonesia pun bisa masuk JIS asalkan memiliki keterkaitan asing dan yang penting mampu membayar uang sekolah yang mahal itu.

Tuntutan nilai untuk masuk RSBI mengingatkan saya akan tuntutan nilai masuk ke sekolah Katolik dulu. Lagi-lagi dulu. Dan tuntutan itu setahu saya masih tetap lebih berat ketimbang mendaftar ke sekolah negeri. Anak didiknya pun sangat banyak yang menjadi ‘orang sukses’. Karena kunci sukses sama sekali bukan di jenjang SD-SMA/SMK.

Kalau dilihat dari tingkat pendidikan, kunci sukses terletak di perguruan tinggi. Tapi realita juga menunjukkan kunci sukses adalah bagaimana individu melakoni peran mereka di dunia pekerjaan sehari-hari. Kegigihan dan keuletan dalam menjalani hidup adalah kunci sukses seseorang.

Kemarin Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Pasal 50 Ayat (3) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.

Nah lho, pusing lah sekolah-sekolah yang sudah mencoba menaikkan derajat mereka menjadi internasional? Salah satu ciri (R)SBI adalah bahasa yang dipergunakan dalam mengajar adalah bahasa Inggris. Maksudnya tentu supaya murid langsung bisa ngomong ‘cas cis cus’, ‘spak spik spak spik’ sehingga bisa melanjutkan pendidikan ke negara lain atau paling tidak bersaing di dunia internasional.

Kalau kunci kelebihan (R)SBI adalah bahasa asing yang jadi pengantar, kenapa tidak mata pelajaran bahasa asing saja yang diperbanyak? Saya masih ingat berkenalan dengan bahasa Inggris ketika masuk SMP, kemudian bahasa Jerman ketika duduk di bangku SMA. Di SMA yang sama itu, diajarkan juga bahasa Perancis sebagai bahasa asing pilihan. Bahasa Inggris adalah mata pelajaran bahasa asing wajib. Dewasa ini di cukup banyak sekolah, mata pelajaran bahasa asing pilihan bertambah dengan bahasa Cina (Mandarin) dan Jepang.

Selain pelajaran bahasa asing di sekolah ada cukup banyak tempat-tempat kursus bahasa asing, baik yang diselenggarakan oleh pusat kebudayaan asing seperti British Council, Centre Cultural Francais, Erasmus Huis, Goethe Institute, Japan Foundation dan sebagainya; ataupun oleh swasta. Artinya, ada banyak kemungkinan bagi anak didik untuk menambah ilmu pengetahuan bahasa asing mereka.

Itu dulu, apalagi sekarang.

Bahwa (R)SBI bisa berkembang pesat karena menurunnya kualitas pendidikan nasional secara umum, itu sudah menjadi rahasia umum. Orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Kalau ada kemampuan, membayar lebih mahal tidak menjadi masalah asalkan ada jaminan bahwa pendidikan yang lebih baik akan diperoleh oleh putra-putri mereka. Tak heran (R)SBI pun berkembang menjadi bisnis baru yang sangat menggiurkan. Guru pun terkenal lebih disiplin dalam mengajar.

Karena uang sekolah lebih tinggi, otomatis (R)SBI bisa memberi upah lebih besar kepada staf pengajar. Artinya, staf pengajar tidak perlu pontang-panting mengajar di beberapa sekolah hanya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari mereka dan menyekolahkan anak mereka sendiri. Entah dimana, entah kapan, saya pernah membaca ada guru yang tidak bisa menyekolahkan anaknya sendiri karena penghasilannya sebagai guru sangat pas-pasan untuk hidup.

Ada lagi yang harus bekerja sampingan sebagai tukang ojek seusai mengajar hanya untuk memastikan keluarganya bisa makan tiga kali sehari. Ada lagi… ada lagi… dan banyak ada lagi cerita trenyuh tentang nasib para guru yang mengajar di sekolah negeri, baik di kota-kota besar, seputar kota besar apalagi di daerah terpencil. Semakin banyak koleksi dongeng ‘adalagi’ yang bisa dibukukan untuk menceritakan salah satu contoh nyata ketidakperdulian pemerintah terhadap rakyat.

Kasus (R)SBI sebenarnya bentuk lain dari swastanisasi kewajiban pemerintah terhadap fasilitas dan pelayanan umum yang seharusnya menjadi tanggungjawab pemerintah, eh maaf, hak rakyat. Bagian dari hak rakyat yang membayar pajak dalam berbagai bentuk. Bukan hanya rakyat yang membayar pajak pendapatan (secara resmi).

Telepon rumah dan telepon umum sekarang sudah menjadi komoditi para provider. Jalan raya menjadi milik perusahaan jalan tol. Kalau mau jalan mulus ya bayar lagi disamping kewajiban bayar STNK. Mau aman di rumah, ya bayar satpam. Di lingkungan tempat tinggal, juga bayar satpam karena sistem ronda sudah tidak bisa berjalan. Masing-masing warga harus bekerja keras setiap hari untuk menopang hidup mereka sehingga tidak mungkin menyisihkan waktu untuk ikut ronda. Alhasil, mau jaminan pendidikan bagus dan anak bisa bersaing dengan tamatan luar negeri, ya bersekolah di (R)SBI.

Keputusan Mahkamah Konstitusi memberi angin segar terkait hal rakyat sekaligus tantangan bagi lembaga pendidikan. Tantangan lembaga pendidikan hanya bisa terjawab kalau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa meningkatkan kinerja mereka, bisa mengalokasikan dana dengan baik dan seterusnya. Jangan lagi berpikir atau mengambil sebuah keputusan berdasarkan asas ‘proyek’.

Dana yang ada sebaiknya dimaksimalkan untuk meningkatkan kemampuan para pendidik (bukan hanya jadi pengajar dengan kemampuan terbatas), pendapatan para pendidik (sehingga tidak harus membagi konsentrasi ke banyak sekolah dimana ia terpaksa mengajar untuk memenuhi tuntutan nafkah keluarga), menjaga kondisi fisik sekolah yang ada, melengkapi kebutuhan sekolah (baik buku dan fasilitas pendidikan lainnya), dan seterusnya.

Untuk memaksimalkan dana yang ada, kementerian harus mengurangi kegiatan ‘proyek’ yang hanya bersifat seremonial, pameran pendidikan yang tidak berguna bagi anak didik selain untuk membantu pejabat kementerian bisa pamer atawa ‘kelihatan kerja’, pencanangan gerakan yang tidak jelas tapi menghabiskan biaya dan masih banyak lagi kegiatan kementerian tak guna bagi peningkatan pendidikan pada umumnya.

Bagi saya, kunci keberhasilan pendidikan adalah di rumah dan di sekolah yang memang mengajar dan mendidik. Gabungan keduanya lah yang akan menjadi modal bagi anak didik untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas atau langsung terjun ke dunia pekerjaan. Keuletan, kegigihan dan disiplin didapatkan dari perjalanan waktu ketika anak sedang menempuh pendidikan tingkat SD – SMA.

Itulah modal dasar seorang anak dalam menghadapi, menjalani, dan menaklukan kehidupan yang sebenarnya.

Untuk kemudian, akhirnya ia menjadi ORANG!

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: