Dongengfilm's Blog

Januari 2, 2013

Catatan Awal Tahun 2013.

Filed under: Umum — dongengfilm @ 4:01 am

Selamat 02 Januari. Hari pertama kerja tahun 2013.

Kucek mata, geliat tubuh pagi, menguap sebesar-besarnya tapi hari kerja tetap harus dijalani. Apalagi bagi teman-teman penganut tradisi Barat yang menjadikan pergantian tahun sebagai kesepakatan tekad pada diri sendiri dalam bentuk resolusi untuk tahun yang baru.

(Saya sendiri bingung membaca aneka ucapan selamat tahun baru yang menyebut ajakan menetapkan aneka resolusi. Selama ini hidup saya hanya mengalir, tanpa target tapi mengalir seperti air. Kadang deras, kadang pelan, kadang lurus, kadang harus meliuk… mengalir bebas mengikuti kondisi tanah yang dilalui. Dan… kadang diam menjadi genangan. Hidup dalam kerja pun demikian. Mengalir sejalan aneka tantangan yang muncul untuk diatasi dan dilalui demi kelanjutan hidup itu sendiri.)

Satu hal yang menarik perhatian saya pagi ini adalah pemberitaan terkait penguasa di bagian bawah halaman pertama sebuah harian terkemuka nasional. Kebetulan saja, kalau dilihat dari prestasi kerjanya, menurut saya, penguasa yang satu ini sebenarnya memang tidak (pernah) layak untuk menjadi berita utama. Penyanyi lagu melankolis tanpa penjualan album yang dahsyat tidak akan pernah masuk ke pemberitaan di halaman pertama.

Selama bertahun-tahun, sejak awal berkuasa, penguasa yang satu ini saya anggap sebagai pangkal penyebab bala di seluruh negeri. Mulai dari tabarakan maut di jalan tol Jagorawi saat ia baru memegang tampuk kekuasaan. Tabrakan yang disebabkan oleh ketidak-becusan para pengawal dalam mengatur arus lalu lintas. Dan keluarga korbanlah yang disalahkan.

‘Tumbal’ pertama itu kemudian diikuti oleh aneka bala bencana, mulai dari kemarahan alam semesta, sampai bala akibat kelalaian manusia. Bagaimana kita bisa berharap dia tegas terhadap pemilik perusahaan penyebab mala petaka kalau dia sendiri di kemudian hari terbukti tidak bisa mengatasi ulah negatif anggota partai yang ia dirikan? Berteriak anti korupsi tapi melindungi anggota partainya yang ‘diramalkan’ terlibat korupsi.

(Sengaja saya pakai kata ‘diramalkan’ karena meski sudah meringkuk di dalam penjara pun, masih saja ada yang bisa berkoar bersih dari tindak pidana korupsi!)

Nah, menjelang akhir masa jabatannya, kembali ‘tumbal’ jatuh di jalan tol Jagorawi. Kali ini melalui anggota keluarga dari hubungan perkawinan.

(Mungkin karena kepercayaan atas ‘sial’ bisa merambah ke garis keluarga inilah yang menyebabkan Soeharto, mencontoh pola pergantian kekuasaan sejarah kerajaan di Indonesia pada umumnya, mengeluarkan kebijakan pembantaian tak terbatas kepada semua keluarga yang berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia dan juga para pendukung setia Soekarno setelah Peristiwa G30S yang tidak pernah akan diluruskan dalam kaitan sejarah Republik Indonesia itu… mungkin…)

Derasnya komunikasi media sosial, membuat peristiwa itu terkuak lebih cepat tanpa bisa disembunyikan. Usianya baru 22 tahun. Setelah berbagai ‘mobil murah’ maut, kini kosa kata media punya kata baru, ‘BMW Maut’.

(Tidak hanya dari segi devisa, industri otomotif memboyong devisa ke luar negeri sementara industri rokok menghasilkan pemasukan pajak untuk negara… semakin jelas terbukti industri otomatif lebih mematikan ketimbang industi rokok… he he he… )

Bagi polisi, tantangan baru di awal tahun. Harus mengadili ‘pengemudi maut’ yang kebetulan anak pejabat. Sama seperti kasus ‘Xenia Maut’, pengemudi bukan pembunuh. Tetapi, mereka tetap harus mempertanggung-jawabkan kelalaian dalam mengemudi yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia.

(Baru saja saya membaca salah satu akun FB yang menyatakan keluarga pejabat tersebut baru saja mengalami ‘musibah’. Yang terkena musibah itu adalah mobil yang ditabrak, bukan yang menabrak. Yang menabrak namanya ‘kelalaian’! Pantas saja kasus Kasus Lapindo dianggap musibah bagi perusahaan sementara rakyat malah disebut korban bencana alam. Perlu ada penataran ulang untuk perbedaan kata ‘musibah’ dan ‘kelalaian’.)

Harus kita acungkan jempol kecepatan keluarga menginformasikan bahwa pengemudi ‘BMW Maut’ adalah penderita sakit maag akut dan keterbukaan untuk diperiksa. Artinya, sejak awal kemungkinan pengaruh alkohol ataupun narkoba sudah dinetalisasi. Tapi, tahu begitu, kenapa boleh mengemudi, pak? Apakah perlu dikeluarkan peraturan baru, UU kalau perlu, yang menyatakan bahwa penderita sakit maag akut tidak boleh mengemudi?

Bila kita bandingkan kasus “Xenia Maut’ dan ‘BMW Maut’ maka satu hal yang bisa dipastikan adalah terjadinya perbedaan treatment di dalam tahanan dan keleluasaan koprs oknum kepolisian dalam memeras (keluarga) pengemudi. Perbedaan ini terkait pada nyali kops oknum polisi dalam menghadapi penguasa.

Menjadi negara civil society memang tidak mudah. Dan selaku penegak hukum, polisi akan terus menjadi sorotan. Apalagi selama ini terbukti bahwa belum bisa membuktikan kebersihan lembaga dari ulah korps oknum di dalamnya!

Jadi, apa resolusi kepolisian RI tahun 2013?

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: