Dongengfilm's Blog

Desember 22, 2012

Dongeng Produksi Film (Dokumenter) Asing di Indonesia – 9

Filed under: Tentang Film — dongengfilm @ 8:31 am

2010: “GLM Video Documentary: Customers First”
Jenis Film: Dokumenter
Rumah Produksi Asing: New York, AS
Sutradara: Jody Sheff
Jabatan: Manajer Produksi

Proses pembuatan film ini cukup unik. Pencerita dihubungi untuk melakukan wawancara tapi tidak akan ada kehadiran tim dari pihak pemesan yang berasal dari New York, Amerika Serikat.

Yang mereka inginkan hanyalah footage dari kota Jakarta sebagai wakil dari Indonesia tempat klien mereka bekerja. Klien adalah sebuah perusahaan farmasi. Obat yang dibahas adalah obat vaksinasi yang sudah mendapatkan label “halal” dari Majelis Ulama Indonesia.

Selain di Indonesia, mereka juga melakukan syuting di Filipina dan Jepang.
Persiapan yang dilakukan tidak banyak. Hanya menghubungi perusahaan yang bersangkutan dan dari mereka diperoleh daftar nama yang bisa diwawancarai.

Kru yang terlibat pun hanya kru kecil: Juru Kamera, Asisten, Perekam Suara dan Penata Cahaya. Untuk keamanan saat syuting, kami tetap membawa sebuah generator 5 KVA. Lampu tidak banyak tapi tetap aman kalau kita tidak tergantung pada listrik tuan rumah.

Persiapan dilakukan dengan cepat. Untuk meyakinkan pemesan, kami melakukan sebuah conference call. Yang paling mereka tekankan adalah masalah framing. Pencerita langsung teringat pada gaya Benjamin Moses. Dan memang pendekatan itulah yang akhirnya kami lakukan pada saat wawancara.

Hari pertama syuting kami berkeliling untuk merekam kehidupan kota Jakarta. Tidak sulit. Kegiatan pasar di pagi hari di Pasar Mampang Prapatan, macet saat warga berbondong-bondong berangkat ke kantor diambil dari jembatan penyeberangan di Jalan Warung Buncit, motor dan mobil dari arah Pasar Minggu ‘menyerbut’ kota, suasana di jalan protokol seperti Jalan Sudirman, dan tentu saja bumbu kota metropolitan yaitu pemukiman kumuh harus disertakan. Pemukiman kumuh yang cukup ‘ramah’ dan lengkap adalah di salah satu persimpangan rel kereta api di Jalan Gunung Sahari. Rumah kumuh di sisi Selatan rel, pertokoan mewah di sisi Utara.

Ketika footage resolusi rendah kami kirim, benar saja, mereka gembira melihat gambar yang telah kami rekam.

Tantangan justru muncul pada saat wawancara. Bahasa menjadi kendala. Dengan terpaksa akhirnya kami membiarkan para responden untuk menjawab pertanyaan dalam bahasa Indonesia untuk kemudian dibuatkan terjemahannya.

Audio wawancara dan terjemahannya langsung kami kirimkan malam itu juga. Ternyata mereka juga mengalami hal yang sama di Jepang. Responden menolak untuk menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris.

Tidak banyak hal baru yang pencerita dapat dari proses syuting ini kecuali bahwa syuting dilakukan tanpa kehadiran kru asing padahal untuk film dokumenter yang akan diedit di negara yang warganya tidak bercakap dalam bahasa Indonesia.

Sebelumnya, kalaupun mayoritas kru adalah orang Indonesia, untuk sebuah film yang akan diedarkan di luar negeri, biasanya akan didampingi paling tidak oleh satu orang dari mereka. Yaitu untuk memastikan bahwa cara film disyut sesuai dengan cara yang diinginkan oleh pemirsa di negara mereka.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: