Dongengfilm's Blog

Desember 16, 2012

Dongeng Produksi Film (Dokumenter) Asing di Indonesia – 8

Filed under: Tentang Film — dongengfilm @ 2:29 am

2010: ”Mistery of Democracy
Jenis Film: Dokumenter
Rumah Produksi Asing: Appleseed Den. Doc. LLC, AS
Sutradara: Benjamin Moses
Rumah Produksi Indonesia: SYZYGY Productions
Jabatan: Manajer Produksi

Media massa tidak pernah memberitakan akan diadakannya sebuah konferensi para pembangkang pemerintah yang sah dari seluruh dunia di Jakarta. Pencerita pun semula tidak percaya. Baru setelah ikut dalam conference call antara Gary Hayes dengan para peoduser di Amerika Serikat (AS), pencerita sadar bahwa akan bertemu dengan para pembangkang dunia… di Jakarta. Tepatnya di hotel Shangri-la. Panitianya ternyata sudah ada di Jakarta!

Keesokan harinya, pencerita menemui sang ketua panitia. Sosok ini, tak bisa disebutkan namanya, mendedikasikan seluruh hidupnya untuk perjuangan demokrasi di berbagai belahan dunia. Salah satu caranya adalah menjadi motor untuk penyelenggaraan konferensi para pembangkang yang diadakan setiap beberapa tahun sekali.

Demi keamanan penyelenggaraan konferensi berpindah dari satu negara ke negara lain, tidak jarang dari satu benua ke benua lain. Meskipun ia sudah mengunjungi banyak negara namun hanya tahu perjalanan dari bandara ke hotel dimana konferensi akan dilaksanakan. Tidak pernah sempat jalan-jalan karena sejak tiba di sebuah kota, ia langsung sibuk berurusan dengan manajemen hotel untuk meyakinkan keamanan para peserta konferensi.

Pembangkang Dunia

Peserta konferensi asli adalah para pembangkang di negara asal masing-masing. Ada yang sudah berstatus “diampuni” oleh pemerintahnya, tapi banyak pula yang masih dalam status “dicari”. Panitia di Jakarta sempat berang ketika mendengar adanya niat dari kedutaan salah satu negara di Timur Tengah untuk menghadiri konferensi. Pasalnya, salah seorang peserta justru adalah seorang pembangkang yang masih berkeliling dunia dengan cap “musuh nomor satu” pemerintah di negara asalnya.

Kru pembuat film dokumenter sendiri tidak menjadi bagian dari panitia. Mereka kebetulan sedang membuat film tentang arti dari demokrasi. Kedatangan mereka ke Jakarta memang sudah termasuk dalam rencana mereka karena ada beberapa tokoh yang sedang mereka kejar untuk diwawancarai. Mereka bisa mewawancarai beberapa orang yang selama ini bersembunyi di berbagai belahan dunia, di satu tempat, tanpa perlu mengkhawatirkan kejaran penguasa. Ideal sekali.

Sutradara film dokumenter ini adalalah Benjamin Moses, pelaku penyiar radio “Good Morning, Vietnam” yang sebenarnya. Atas permintaan salah seorang sobat akrabnya, ia menuliskan pengalamannya ketika ikut dalam Perang Vietnam menjadi sebuah skenario film. Skenario yang kemudian dijadikan sebuah film cerita yang dibintangi oleh Robin Williams, “Good Morning, Vietnam” (Barry Levinson, 1987).

Meski semua sudah ada di Jakarta, penetapan waktu wawancara ternyata tetap tidak mudah. Para peserta datang dengan agenda mereka masing-masing. Mereka memanfaatkan forum ini untuk melobi satu sama lain, tidak hanya saling bercerita tentang penderitaan ataupun keberhasilan. Dalam forum besar dimana kami diijinkan meliput, tampak jelas bahwa semua peserta sadar bahwa perjuangan demokrasi di masing-masing negara asal mereka masih panjang.

Pencerita terbengong-bengong melihat begitu banyak pembangkang yang hadir. Ada satu kenyataan yang membuat pencerita terhenyak: konferensi ini berlangsung setelah Munir ditiadakan!

Almarhum Munir adalah sosok yang paling tepat hadir dalam konferensi ini mewakili Indonesia. Pengalamannya mirip dengan yang dialami pembangkang dari RRChina. Sama-sama pernah dicari, pernah harus sembunyi, akhirnya terkesan sudah ‘merdeka’ padahal masih terus diikuti dan diawasi dengan seksama. Dan terbukti ia tidak pernah ‘merdeka’ karena akhirnya dilenyapkan dalam perjalanannya menuju Belanda.

Andaikan saja… Ah!

Setelah pertemuan dengan seluruh kru, kami berkeliling hotel mencari tempat yang paling tepat untuk wawancara. Tidak hanya agar tidak diketahui oleh wartawan yang mungkin mau mencuri kesempatan itu untuk wawancara eksklusif dengan peserta yang kami wawancarai, tetapi juga dari sudut keamanan. Pencerita ikut dalam tur lokasi ini untuk menghitung pengaturan peralatan.

Peralatan yang dipakai tidak banyak. Hanya beberapa lampu, butterfly dan reflektor. Tapi tetap saja perlu dibicarakan sumber listrik dengan teknisi hotel. Kamera sendiri memakai kamera Canon 5D. Kali pertama pencerita berurusan dengan Canon 5D sebagai kamera video. Audio direkam terpisah.

Dengan pendekatan peralatan yang ringkes ini sebuah kamar pun diubah menjadi studio. Ruang yang itu-itu juga diubah setiap kali sehingga setiap aktivis seakan-akan diwawancarai di lokasi yang berbeda. Seru juga ketika semua kru bergerak menjadi tim artistik. Tidak ada perbedaan antara Produser, Sutradara, Juru Kamera, Penata Cahaya, Perekam Suara, semua ikut mengangkuti properti yang ada di kamar tersebut.

Proses persiapan dan pelaksanaan syuting ini mengingatkan pencerita pada saat syuting bersama ARD-TV keliling daerah-daerah ‘panas’ di Indonesia antara tahun 1998 – 2000. Tidak grabak grubuk seperti syuting sebuah iklan ataupun film cerita.

Agama Cermin Demokrasi

Kontras antara kehidupan kaum kaya dan miskin di sebuah kota besar merupakan cirri khas kota megapolitan di manapun di dunia, tidak terkecuali di Jakarta. Untuk itu kami memilih persimpangan rel kereta api di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Utara sebagai lokasi syuting. Tidak hanya kontras kampung kumuh yang berdekatan dengan pertokoan mewah, tapi juga ada sarana transportasi darat lain selain bis kota. Yaitu kereta api.

Karena termasuk jalur kereta api yang padat ke dan dari Jawa Tengah, di sana kita bisa merekam kendaraan yang menunggu kereta api lewat, serabutan menyerbu ke depan pada saat palang pintu kereta diangkat, dan kalau beruntung, setelah semua kendaraan bermotor lewat, kita bisa mendapatkan orang yang menarik gerobak menyeberangi rel. Meski perkampungan kumuh, warga bermain di tepian rel kereta api, namun perkampungan ini masih cukup ramah terhadap pendatang yang merekam secuil kehidupan mereka.

Kalau kehidupan (katakanlah) kelas atas, mal-mal yang bertebaran di ibukota merupakan lokasi yang paling gampang direkam untuk menampilkan gaya hidup kehidupan kelas tersebut.

Tapi, bagaimana menampilkan kesehatan demokrasi dalam satu gambar? Apa unsur hakiki kemanusiaan yang bisa menampilkan hal tersebut.

Religion,” cetus Ben Moses. “Does Jakarta have a church standing by next to a church? Somewhere that can be identified straight a way as Jakarta at the same time?”

Pencerita langsung teringat pada Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Letakknya berseberangan jalan. Tapi, bagaimana kedua tempat ibadah ini bisa tampil dalam satu frame tanpa perlu melakukan panning?

Setiba di lokasi, kami langsung berjalan berkeliling, mencari lokasi ketinggian untuk posisi kamera. Sementara Juru Kamera merekam dari jalan raya, pencerita dan Ben Moses berjalan sambil mendongakkan kepala, melihat ketinggian, menengok ke kedua tempat ibadah itu… akhirnya, Gedung Kantor Pos Pasar baru yang terletak di depan Lapangan Banteng.

There! We should go up to the roof of that building,” Ben Moses menunjuk ke bangunan itu.

Mampus lah, batin pencerita.

Bagaimana caranya ngurus ijin on the spot di bangunan milik institusi pemerintah? Kalau kantor pos kecil sih tidak terlalu sulit, ini kantor pos besar, pusat kantor pos di Jakarta.

Give me some times to deal with the permit,” ucap pencerita kepada Ben.

Okay, we’ll keep shooting while waiting for your sign.”

Pencerita langsung meninggalkan mereka, menemui Satpam dan keberuntungan awal ada di pihak pencerita: pejabat yang berwewenang terkait dengan ijin gedung tersebut masih ada di kantor. Setelah pencerita jelaskan sedikit, ia pun mengajak pencerita menemui pejabat yang berwewenang yang berkantor di lantai 2 atau 3. Pencerita sudah lupa.

“Ini teman-teman dari televisi Amerika, pak, mereka sedang buat film tentang kerukunan beragama di Indonesia,” jelas pencerita kepada kepala bagian rumah tangga.

Mengarang bebas.

“Salah satu cara yang paling gampang adalah menampilkan gereja dan masjid dalam satu gambar,” lanjut pencerita. “Setelah keliling kota, kami melihat bahwa yang paling dekat adalah Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal.”

Pencerita kemudian mengarang lebih bebas lagi. Tapi sama sekali tidak berbohong. Pencerita jelaskan bahwa cara merekam yang terbaik adalah dari atap gedung. Tidak hanya kedua tempat ibadah itu akan kelihatan dalam satu frame, kubah masjib dan menara gereja, tapi juga Monas akan tampak di kejauhan.

Bentuk bangunan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral sudah cukup dikenal masyarakat dunia. Ditambah dengan Monumen Nasional, jelas adalah bukti bahwa gambar itu memang direkam di Jakarta, ibukota Republik Indonesia. Gambar yang bisa menampilkan eksistensi kerukunan beragama di sebuah negara yang memiliki populasi pemeluk satu agama sebagai penduduk mayoritas. Di ibukota negara pula.

Karena pencerita tidak berhenti nyerocos, mungkin dia capai juga mendengarakan, akhirnya pengurus gedung mengijinkan kami syuting di atas atap, tanpa perlu melewati proses perijinan tertulis seperti lazimnya berurusan dengan institusi negara.

Kami naik ke atas atap, langsung merekam gambar. Makin cepat makin baik. Pencerita bersyukur punya pengalaman sebagai seorang door to door salesman (‘jurus’ nyerocos tanpa henti), reporter berita, pencari lokasi dan fixer untuk ARD-TV. Gabungan keempat pengalaman itulah yang membuat pencerita bisa dengan lancar berceloteh kepada pengurus gedung tersebut.

Uang yang lazimnya untuk sewa lokasi pun menjadi tip untuk para Satpam yang membantu.

Teknik Wawancara

Meski mengawali karier di dunia komunikasi sebagai reporter, pencerita harus akui teknik wawancara Ben Moses jago banget. Berbeda dengan umumnya pewawancara televisi yang selalu memilih duduk atau berdiri di sebelah kiri atau kanan kamera, ia tetap duduk di depan kamera. Kedekatan obrolan antara pewawancara dan responden terasa sekali. Kalaupun ia ingin pewawancara melihat ke arah samping sedikit, ia hanya menggeser kursinya ke kiri atau ke kanan. Sedikit saja sehingga arah pandang responden tidak menyimpang terlalu jauh.
Wawancara juga diawali dengan obrolan bebas. Mulai dari apa kegiatan sekarang, tempat tinggal, apakah sudah tinggal terbuka atau masih bersembunyi hingga akhirnya meminta tokoh tersebut untuk menceritakan pengalaman terburuk yang pernah ia alami dari penguasa ataupun kaki tangannya. Umumnya adalah siksaan badan untuk mematahkan semangat juang mereka.

Kalau dibandingkan dengan cerita horor kelakuan ABRI dan aparat intel jaman Soeharto, maaf, cerita penderitaan dari para pembangkang yang diwawancarai ini tidaklah terlalu seram. Belum lagi cara Soeharto menghukum keluarga dan keturunan mereka yang dicap terlibat G 30 S. Kalau hitung generasi, satu generasi adalah 10 tahun, maka ada tiga generasi ikut dihukum selama masa 32 tahun kekuasaannya. Sayang sekali Munir saat pembuatan film ini sudah wafat. Kalau tidak, dia pasti bisa bercerita banyak.

Pada saat responden mulai bercerita tentang penderitaan mereka, barulah kita bisa melihat bagaimana Ben berubah menjadi seorang pewawancara yang berdarah dingin. Di satu pihak dia berusaha menenangkan emosi responden tapi bersamaan dengan itu terus mencecarnya dengan pertanyaan agar responden bisa menjelaskan pengalaman buruk mereka dengan bahasa yang lugas. Bisa direkam kamera. Bisa dipakai sebagai penegas kekejaman para rezim anti demokrasi yang masih berkuasa di dunia.

Satu hal yang pasti, tim ini bukan aktivis. Berbeda dengan anggota panitia yang keliling dunia untuk penyelenggaraan konferensi sejenis ini. Ben Moses dan kawan-kawan pada dasarnya tetap adalah pembuat film dokumenter. Pekerja film bukan aktivis. Mereka juga tidak terbawa dengan emosi keterlibatan setelah wawancara selesai.

Hal ini jelas tampak dari diskusi mereka setelah wawancara selesai. Bila ada penekanan cerita yang kurang dari responden, maka penekanan cerita itu akan dicari dari responden berikut. Daftar pertanyaan disiapkan tidak hanya berangkat dari informasi tentang responden, aktivitas di negeri mereka, tetapi juga tidak pernah melupakan keterkaitan jawaban responden terhadap alur cerita: misteri demokrasi!

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: