Dongengfilm's Blog

Desember 12, 2012

Antara AFI dan FFI…

Filed under: Tentang Film — dongengfilm @ 12:27 pm

Tahun ini dunia perfilman nasional menyaksikan kehadiran sebuah festival film baru yang diikuti oleh film-film yang dibuat dua tahun terakhir. AFI, Apresiasi Film Indonesia, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai pengayom dunia perfilman sesuai UU Film no 33 Tahun 2009; dan FFI, Festival Film Indonesia, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai pengayom industri kreatif dimana film dimasukkan sebagai bagian dari industri kreatif.

Yang menggembirakan, sekaligus membingungkan, adalah kriteria pemilihan pemenang. Tidak hanya pemenang berbeda tapi kategori pun ada yang tidak sama. Untuk aktor misalnya, Fuad Idris di AFI menang sebagai Pemeran Utama Pria untuk penampilannya sebagai Hasyin dalam film “Tanah Surga… katanya”; tapi di FFI untuk peran dan film yang sama ia menang sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik. Apa sebenarnya kriteria kategori pemeran utama dan pemeran pendukung dalam sebuah film?

Selain itu, hampir semua pemenang dari kedua acara ini benar-benar berbeda. Film Terbaik pun berbeda. Di sini harus kita akui ketegasan tim juri masing-masing perhelatan memegang teguh buku pedoman kriteria penjurian masing-masing festival.

Penyelenggaraan malam pengumuman dan pemberian piala bagi kedua acara itu bisa ditonton rakyat Indonesia melalui siaran tunda ANTEVE (untuk AFI) dan SCTV (untuk FFI). Meski tidak dinyatakan terbuka, otomatis kita bisa merasakan persaingan antar kedua acara tersebut. Daftar film cerita yang diunggulkan hampir sama. Panggung acara sama-sama besar dan mubazir. Jalannya acara sama-sama kedodoran dan seterusnya.

Terlepas dari kemungkinan kesimpulan bahwa AFI dan FFI 2012 adalah cermin persaingan ketat dua kementerian pengayom dunia perfilman nasional, saya lebih tertarik untuk menyoroti penyelenggaraan malam pemberian Piala Citra FFI di Jogja. Alasannya?

Pertama, FFI adalah perhelatan agung dunia perfilman nasional yang seharusnya tidak dipakai sebagai ujud persaingan antar kementerian. FFI sudah memiliki sejarah yang panjang. Terlepas dari adanya catatan sejarah bahwa FFI pernah diboikot oleh (sebagian) masyarakat perfilman nasional, FFI tetap berasal dari manusia yang berprofesi di dunia perfilman dan para pencita film; seharusnya dilaksanakan dan ditujukan untuk kelompok manusia tersebut.

(Kutu kupret juga. Istilah mahluk Tuhan yang bekerja dan berkarya dalam dunia perfilman saja bisa membawa kita masuk ke dalam kubu tertentu. Ada ‘insan perfilman’, ‘pekerja film’, ‘pelaku kegiatan perfilman’, ‘sineas’ dan terakhir muncul istilah ‘penggiat film’. Dan sekarang terjadi pemecahan dunia film terkait dua kementerian pengayom akibat kegoblokan perombakan kabinet, perubahan nama kementerian tanpa melihat UU Perfilman yang baru. Kera kupret!)

Kedua, angka dana yang saya baca di media massa sangat aduhai: Rp 16,2 miliar. Harapan terbesar saya adalah angka tersebut memang merupakan angka yang diterima oleh panitia. Kalaupun ada potongan, paling-paling dipotong pajak PPN dan PPH. Katakanlah 12,5% meskipun agak aneh kalau pemerintah mengenakan pajak PPN pada sebuah pekerjaan oleh pemerintah untuk kepentingan rakyat. Mungkin eksistensi potongan pajak inilah yang membuat orang kadang melihat kegiatan pemerintah sebagai sebuah proyek.

Dari sudut produksi sebuah film, kalau malam perhelatan dianggap sebagai tolok ukur, maka tidak kelihatan sama sekali production value dari nilai bombastis yang ada dalam pemberitaan itu. Apalagi kalau membaca keluhan yang dilontarkan oleh para peserta yang datang ke Jogja. Pasti sangat menarik bagi seorang akuntan untuk membaca laporan keuangan dan pengeluaran perhelatan tersebut.

Tidak ada kejelasan sebelum berangkat. Tidak ada wakil panitia yang menjemput di bandara. Tidak ada pengarahan terkait penginapan. Tidak ada susunan keseluruhan kegiatan selama di Jogja. Tidak ada penggantian uang transpor bagi peserta yang datang sendiri padahal sudah dijanjikan oleh… nah, oleh siapa coba? Event Organizer (EO) atau Panitia Penyelenggara? EO adalah sama dengan Panitia Penyelenggara? Kalau ternyata berbeda, SIAPA yang bertanggung-jawab untuk masing-masing kelompok?

Kalau membaca berbagai keluhan yang ada terkait penyelenggaraan puncak acara, melihat production value puncak acara yang tampil di televisi, adanya pemenang khusus yang tidak mendapat piala, saya sangat tertarik untuk mendengar kelanjutan atau penyelesaian perhelatan FFI ini.

Pertama, kepada SIAPA pihak EO dan/atau Panitia harus bertanggung-jawab? Kepada Kemenparekraf? Kas Negara?

Kedua, SIAPA yang mempertanggung-jawabkan keuangan? EO dan/atau Panitia Penyelenggara?

Ketiga, SIAPA yang mempertanggung-jawabkan segala kekacauan yang dirasakan para peserta sebagai cermin ketidak-profesionalan pelaksanaan acara itu? EO dan/atau Panitia Penyelenggara?

Pertama, kedua dan ketiga menjamin akan terjadinya saling lempar tanggung-jawab. Itu kalau memang ada proses pertanggung-jawaban secara profesional tentu saja. Apakah akan ada sanksi kalau dianggap nilainya merah?

Kalau atas dasar kekeluargaan, musywarah mufakat, maka kita pun harus bersiap diri karena ‘badai’ pun pasti ‘diberlalukan’…

1 Komentar »

  1. “Panggung acara sama-sama besar dan mubazir. Jalannya acara sama-sama kedodoran dan seterusnya.” — wakakakk😀😀😀

    Komentar oleh ranty yustina dewi — Desember 12, 2012 @ 12:56 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: