Dongengfilm's Blog

Desember 9, 2012

“Jagal” aka “The Acti of Killing” (Joseph Oppenheimer, 2012)

Filed under: Resensi Film — dongengfilm @ 2:07 am

Film “Jagal” merupakan contoh karya dari seorang pembuat film dokumenter yang sabar, tekun dan memiliki keleluasaan waktu dalam pembuatannya, di samping dana tentu saja.

Dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk melakukan pendekatan dan bisa diterima di lingkungan kelompok preman. Apalagi bila kedekatan itu bisa membuat sang preman bicara terbuka tentang “pengalaman” masa lalu yang, katakanlah, m
enyimpang dari norma kebiadaban menurut ajaran kemanusiaan dan direkam oleh kamera.

Pembuat film “Jagal” tidak hanya sampai di situ. Ia bisa masuk dan keberadaannya diterima utuh oleh kelompok tersebut. Ia bahkan diterima oleh jajaran petinggi kelompok tersebut.

Selain keterbukaan yang utuh dan boleh direkam, kesabarannya bahkan memberikan bonus adegan bagi film tersebut. Adegan akhir ketika sang preman menjadi mual ketika kembali ke TKP (di bagian akhir film) menunjukkan kesabaran tak terbatas dari si pembuat film. Dengan sabar ia membiarkan kamera terus merekam berbagai reaksi sang preman. Kesabaran yang patut dipuji karena biasanya sebagai pewawancara atau perekam gambar kita tergoda untuk mengalihkan topik pembicaraan ketika melihat subyek yang direkam itu berubah emosi.

Pertanyaan seusai menonton film “Jagal” adalah apakah pembuatan film yang direkam oleh si pembuat film dokumenter itu memang ada dan menjadi sebuah film? Atau pembuatan film itu merupakan bagian dari strategi/skenario si pembuat film dokumenter dalam mendorong sang preman untuk lebih membuka rahasia perannya dalam sebuah peristiwa besar 40 tahun lalu?

Kenyataan bahwa ada penonton yang terperangah melihat kekejaman yang diceritakan oleh sang preman membuktikan bahwa masih banyak anggota masyarakat yang tidak (mau) percaya bahwa kekejaman penguasa negara ini (melalui aparat resmi maupun kaki tangannya) adalah kenyataan pahit hidup di negeri ‘gemah ripah loh jinawi’ ini.

Setiap senyum, senyum Indonesia, mengandung berjuta makna. Termasuk kekejian jiwa yang disembunyikan di balik senyuman itu. Kekejian tidak selalu terwujud dalam bentuk pembantaian berdarah.

Banyak kekejian lain yang lebih kejam. Deretan nama pejabat yang menjadi tersangka korupsi, terbukti koruptor, merupakan bagian dari kekejian jiwa penguasa yang berujung pada kematian rakyat dalam kemiskinan.

“Jagal” membuka luka lama. Tapi setelah luka lama yang satu itu, dalam perjalanannya hingga tahun 2012 ini, bangsa dan negara Indonesia sebenarnya tidak pernah lepas dari bentuk kekejian yang sama (namun berbeda alasan) ataupun kekejaman lain yang juga berakhir dengan banyak kematian.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: