Dongengfilm's Blog

November 25, 2012

Dongeng Produksi Film (Dokumenter) Asing di Indonesia – 6

Filed under: Tentang Film — dongengfilm @ 7:54 am

2002: “Borobudur Temple: One of the World Wonder”
Jenis Film: Dokumenter
Rumah Produksi Asing: ARD-TV, Jerman
Sutradara: Yasmin Bauernfeind
Jabatan: Fixer

Pencerita jarang sekali berurusan dengan Sutradara film dokumenter perempuan. Apalagi kalau terkait dengan pembuatan film dokumenter oleh koresponden sebuah televisi.

Bukan masalah suka tidak suka tapi memang baru ketika ARD-TV kantor Hamburg menghubungi pencerita tentang pembuatan sebuah film doklumenter terkait eksistensi agama Hindu dan Buddha di Indonesia, pencerita harus berurusan dengan Sutradara film dokumenter perempuan, yang kemudian ternyata ia adalah ahli antropologi religi asal India, terutama Hindu. Ia, Yasmin Bauernfeind, pernah lama menetap di India Selatan untuk penelitian candi-candi di kawasan tersebut.

Komunikasi awal lewat email berjalan lancar. Objek yang ingin ia ambil jelas dan sudah ia pelajari terlebih dahulu. Ia ingin merekam salah satu upacara di Bali sebagai wakil dari kebudayaan Hindu Bali yang masih hidup, upacara di Bromo untuk menampilkan kebudayaan Hindu (strata rakyat jelata) yang masih hidup di Jawa Timur, upacara di pelataran Candi Prambanan yang tentunya mewakili kebudayaan Hindu era Jawa Kuno dan relief yang ada di Candi Borobudur untuk nantinya dibandingkan dengan relief yang pernah ia pelajari semasa tinggal di India.

Dari beberapa permintaan itu, hanya permintaan upacara di Candi Prambanan yang sulit karena selama ini candi tersebut sudah dinobatkan menjadi monumen mati. Artinya, tidak ada lagi ritual keagamaan dilakukan secara resmi (dan rutin) di candi tersebut. Masyarakat penganut agama Hindu Jawa pun sudah nyaris punah di Jawa Tengah. Mereka bisa dikatakan bersembunyi karena pengalaman pahit pada tahun 1965. Mereka sempat diburu habis oleh aparat keamanan dengan tudingan terlibat G 30 S. Sejak saat itu sampai sekarang mereka akhirnya menjalankan ritual keagamaan secara sembunyi-sembunyi. Tapi, mereka tetap ada dan hidup di tengah-tengah masyarakat penganut agama lain. Umumnya mengaku sebagai penganut aliran kepercayaan.

Monumen mati lainnya adalah Candi Borobudur. Meski secara resmi telah dinobatkan sebagai monumen mati, pemerintah tidak bisa menolak permintaan umat Buddha sedunia untuk menghidupkan monumen itu setahun sekali, yaitu pada hari raya Waisak. Pada hari itu, ribuan penganut agama Buddha dari seluruh Indonesia dan negara-negara tetangga datang untuk merayakan hari Waisak. Pada hari itu kita bisa melihat berbagai aliran agama Buddha yang ada dan hidup di Indonesia, termasuk aliran agama Buddha yang berasal dari Tibet.

Jimmy Jib

Berbeda dengan pembuatan film dokumenter bersama tim ARD-TV yang berkantor di Singapura, tim dari Jerman ini memesan cukup banyak peralatan. Artinya, pendekatan syuting mereka tidak seperti pendekatan syuting berita. Mereka memesan dolly dengan track sepanjang 100 meter. Awalnya pencerita agak bingung tapi belakangan baru tahu bahwa track sepanjang itu diperlukan untuk merekam relief di dinding Borobudur tanpa terputus. Selain itu, mereka juga memesan barbel, pemberat angkat besi, untuk pemberat Jimmy Jib yang akan mereka bawa sendiri.

Mengingat alat yang dipesan cukup banyak, dari Jakarta berangkat satu mobil boks dan untuk kru di Bali sudah disiapkan sebuah mobil Elf yang secara khusus pencerita datangkan dari Lombok. Bukan karena tidak ada mobil Elf di Bali tapi karena pemilik mobil tersebut, Hari, sudah beberapa kali melakukan syuting keliling Jawa. Ia sudah hafal jalan di Jawa. Apalagi sebagai pengemudi ia tidak hanya handal tapi juga rajin dalam membantu kru pada saat syuting.

Jimmy Jib yang mereka bawa tergolong ringan, lebih ringan daripada Jimmy Jib yang pencerita tahu ada di Jakarta. Proses pemasangannya pun lebih sederhana. Hanya dalam waktu beberapa jam tim pendukung yang bukan grip sudah bisa memasang alat tersebut.

Kru asing yang datang hanya empat orang: Yasmin selaku Sutradara merangkap Produser, Juru Kamera, Asisten Juru Kamera merangkap Grip dan seorang Perekam Suara. Dari Jakarta ditambah seorang Dolly Operator, seorang Gaffer dan Asisten. Tentu saja ditambah Pengawal Lampu dan seorang Pengawal Dolly.

Lokasi yang dipilih adalah upacara di Puri Mengwi, Pura Besakih meski hanya bisa dari luar saja, lautan pasir Bromo, Candi Prambanan (setelah kami berhasil menemukan masyarakat penganut Hindu Jawa dan mereka bersedia untuk menjalankan ritual keagamaan di candi tersebut), dan Candi Borobudur. Ijin khusus juga berhasil kami peroleh untuk melakukan syuting upacara di Candi Prambanan meski pengelola khawatir hal itu akan mengundang tuntutan untuk menghidupkan monumen tersebut. Kekhawatiran yang tidak perlu.

(Pertengahan tahun 2011 ini seorang teman yang menetap di Gianyar, Bali, berkeliling menjalankan ritual keagamaan ke beberapa candi Hindu yang sudah dinyatakan sebagai monumen mati karena tidak ada lagi umat yang melakukan upacara di candi tersebut. Termasuk di Candi Prambanan dimana ia melakukan ritual di bawah pengawasan ketat dari para petugas di sana.)

Ketika syuting di Mengwi, nyaris saja syuting gagal karena adanya larangan kamera melewati puncak pelinggih yang ada di pura depan. Mereka mengira akan ada orang yang duduk di atas crane. Adalah ditabukan kalau ada orang yang posisinya lebih tinggi dari pelinggih yang dipercaya sebagai tempat persinggahan para dewa saat turun ke bumi. Baru setelah dijelaskan bahwa hanya kamera yang bergerak ke atas, pengelola puri mengijinkan syuting dilanjutkan.

(Alasan inilah yang dulu pernah dipakai untuk tidak mengijinkan bangunan bertingkat berdiri di Bali pada umumnya. Larangan ini sekarang sudah tidak ada lagi. Sejalan dengan lunturnya keharusan membangun bangunan dengan unsur arsitektur khas Bali. Bangunan tinggi perusak keindahan alam pun ‘bertumbuhan’ di Pulau Dewata tersebut. Salah satu hotel mutakhir “W” di Seminyak malah mengingatkan tamu asal AS akan hotel di Miami, Florida.)

Kegiatan merekam gambar juga tidak mudah karena semua warga yang datang bergerak sesuai dengan pergerakan ritual mereka masing-masing. Tidak bisa diatur sesuai dengan kebutuhan kamera. Hal ini sempat menimbulkan ketegangan antara pencerita dengan Sutradara. Awalnya Sutradara sama sekali tidak mau bersabar untuk menunggu celah yang tepat. Ingin mengatur masyarakat yang datang.

Hal itu tentu saja tidak mungkin karena masing-masing rombongan sudah tahu persis apa yang harus mereka lakukan. Rombongan masyarakat yang punya keterkaitan adat dengan Puri Mengwi pun mengalir tak putus. Mereka menjalankan ritual yang sudah mereka jalankan selama puluhan tahun. Otomatis mereka pun tidak mau diganggu oleh permintaan orang luar terkait kegiatan syuting film.

Baru setelah mengamati beberapa rombongan saat melakukan ritual mereka, Sutradara pun sadar bahwa sebenarnya ia bisa dengan mudah mendapatkan gambar yang ia inginkan asalkan mau mengikuti alur prosesi yang berjalan. Penempatan kamera bisa disesuaikan dengan aktivitas yang sedang berlangsung. Keseluruhan aktivitas bisa dibilang merupakan pengulangan, dari rombongan yang satu kemudian dilakukan oleh rombongan yang lain.

Tantangan lain adalah saat syuting di Pura Besakih. “Induk Segala Pura” ini selain memang dikenal sulit untuk dijadikan lokasi syuting, juga sangat sarat akan kegiatan upacara. Berbeda dengan upacara di Puri Mengwi, upacara yang terjadi di Pura Besakih beraneka ragam tergantung dari tujuan masing-masing rombongan masyarakat yang datang ke sana. Agak sulit untuk mencoba mencari bentuk pengulangan prosesi. Bagi warga kehadiran para pembuat film seringkali mengganggu ritual yang mereka jalankan.

Sama seperti ketika syuting di bagian dalam Puri Mengwi, praktis hanya Juru Kamera dan Perekam Suara yang boleh masuk dan tinggal pada saat syuting. Tim pendukung hanya masuk pada saat diperlukan untuk memindahkan peralatan misalnya.

Sesaji dan ‘Ruh’ Sesaji

Satu pengalaman menarik yang pencerita alami terjadi ketika merekam upacara keselamatan di lautan pasir G. Bromo. Saat itu upacara masih dipimpin oleh Pak Ja’i, kuncen yang saat ini sudah almarhum dan kedudukannya digantikan oleh anaknya.

Setelah semua sesaji diletakkan, sebelum upacara dimulai, Pak Ja’i sudah menjelaskan bahwa begitu upacara dimulai, tidak bisa dihentikan ataupun diulang. Sutradara mengiyakan. Pencerita mengingatkan Perekam Suara untuk memastikan peletakan semua mikropon sudah sesuai dengan keperluan. Posisi dan gerak yang akan terjadi dijelaskan kepadanya. Perekam muda ini beberapa kali memperlihatkan bahwa ia hanya berkonsentrasi ketika sesuatu terjadi tapi tidak benar-benar serius dalam tahap persiapan.
Setelah dua kali ditanya, ia menyatakan diri sudah siap. Demikian pula Juru Kamera. Pencerita mengingatkan Sutradara sekali lagi. Semua siap. Barulah pencerita membisikkan kepada Pak Ja’I bahwa upacara bisa dimulai.

Upacara berjalan dengan khusyuk. Juru Kamera berputar merekam gambar. Di tengah upacara, tiba-tiba pencerita melihat Perekam Suara panik bergerak dari satu titik ke titik lain. Ternyata ada posisi mikropon yang salah. Ia mencoba merekam dengan boom tapi tidak berhasil. Upacara terus berlangsung seperti telah diperingatkan sebelumnya, tidak bisa berhenti… sampai keseluruhan ritual dilakukan.

Setelah selesai, ketika rombongan warga mulai berkemas, tiba-tiba Sutradara menghampiri pencerita dan minta upacara diulang. Pasalnya, suara Pak Ja’I ternyata tidak berhasil direkam oleh Perekam Suara. Pencerita menjelaskan bahwa kalau mau diulang, harus menunggu esok hari karena Pak Ja’I harus menyiapkan sesaji baru.

“Lho, itu kan masih lengkap?” Tanyanya ngotot sambil menunjuk ke berbagai sesaji yang masih terhampar.

“Itu fisiknya tapi ‘ruh’-nya sudah diserahkan kepada para dewa,” jelas pencerita.

Ia tidak bisa menjawab lagi. Sebagai ahli agama Hindu ia tentunya mengerti apa yang pencerita kemukakan. Secara fisik, sesaji memang masih utuh. Tapi di mata para dewa, sesaji itu sudah tidak ada isinya.

Untuk mengulang menyiapkan sesaji baru, tentu saja diperlukan biaya. Untuk itu Sutradara yang merangkap menjadi Produser tidak bersedia mengeluarkan dana tambahan. Ia jadi semakin uring-uringan ketika Perekam Suara malah ngotot menyalahkan jalannya keseluruhan upacara. Berkilah bahwa tidak ada yang menjelaskan kepadanya.

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi sang Perekam Suara. Ketika kami merekam jalannya upacara di Candi Prambanan, ia tidak berani ngeyel lagi. Ia benar-benar menyiapkan seluruh peralatannya pada saat ritual berlangsung. Apalagi setelah ditekankan bahwa waktu yang diberikan oleh pengelola candi sangat terbatas karena pengelola candi tidak mau upacara ini diketahui oleh masyarakat luas. Akibatnya bisa menimbulkan kontroversi bila penganut agama Hindu Jawa di sekitar Prambanan menuntut untuk menghidupkan kembali ritual agama Hindu di Candi Prambanan itu.

Masyarakat penganut agama Hindu Jawa itu memang sudah tidak banyak lagi. Seperti juga di Bromo, mereka tidak memiliki lagi kasta Brahmana yang bisa menjalankan tugas pendeta atau pedanda. Pemimpin upacara hanyalah seorang pemangku. Ketika kerajaan Majapahit runtuh, kasta Brahmana mengungsi ke Bali yang sebelumnya hanya memiliki kasta Ksatriya sebagai kasta tertinggi yang menjalankan roda pemerintahan dan keagamaan. Kasta Brahmana yang ada di Bali saat ini merupakan keturunan kasta Brahmana yang datang dari Jawa, keturunan Majapahit.

Relief Candi Borobudur

Salah satu dongeng dari candi Borobudur yang terkenal adalah bila tangan seroang pengunjung bisa menyentuh jemari patung Siddharta yang ada di dalam sebuah stupa, maka permintaan pengunjung tersebut akan dikabulkan. Dongeng ini membuat para pengunjung berlomba untuk mencoba peruntungan mereka. Salah satu dampaknya adalah kerusakan pada stupa tersebut.

Ketika kami meminta ijin untuk syuting di candi tersebut, adegan ini dengan tegas dinyatakan sebagai adegan yang tidak boleh dibuat. Pertama karena dongeng tersebut menyesatkan. Kedua karena upaya para pengunjung selama ini sudah terbukti merusak stupa yang oleh pengunjung dipercaya bertuah itu.

Selain itu, aturan lain yang juga diterapkan dengan tegas adalah tidak boleh menambah atau mengurangi benda yang ada di areal candi. Termasuk menambah stupa untuk kepentingan syuting meskipun secara tampak kamera tidak berbeda dengan stupa yang ada. Kadang, untuk adegan yang sulit atau untuk kepentingan cahaya, penambahan elemen akan memudahkan proses syuting. Sebenarnya bahkan membantu pelestarian karena untuk angle tertentu lebih mudah diperoleh dengan menambah properti ketimbang memaksakan kamera mengambil posisi untuk mendapatkan angle tersebut dengan resiko merusak situs.

Tapi peraturan tetap peraturan. Harus dipatuhi. Apalagi kalau terkait pada penunjukkan candi sebagai World Heritage yang mendapatkan sumbangan pemeliharaan secara rutin dari masyarakat dunia. Sumbangan pemeliharaan yang diperoleh dari anggaran pemerintah sama sekali tidak mencukupi. Candi ini praktis diterlantarkan sejak abad XIV sejalan dengan kehancuran agama Buddha dan Hindu setelah kerajaan Islam berkuasa di Jawa. Baru pada awal abad XIX candi ini diketemukan kembali dan telah beberapa kali direstorasi.

Meski atas bantuan UNESCO candi ini sudah dilindungi, namun secara umum sampai saat ini pemerintah Indonesia belum memiliki kesadaran akan pentingnya merawat peninggalan budaya masa lampau, sama seperti kedangkalan kesadaran untuk pemeliharaan dan pelestarian alam semesta. Tiadanya kebijakan kebudayaan secara menyeluruh mendorong banyak pejabat memilih sikap: apa yang bisa digadaikan atau dijual untuk pendapatan (kantung sendiri), ya kenapa tidak digadaikan atau dijual saja?

Realita ini yang mendorong lembaga yang mengayomi pemeliharaan candi harus bersikap tegas kepada pengunjung untuk mencegah adanya laporan negatif terhadap lembaga dunia yang mengelola bantuan pemeliharaan dan pelestarian benda-benda peninggalan purbakala. Kalau mereka sampai menjatuhkan sanksi, bisa dibayangkan nasib benda-benda peninggalan purbakala yang ada di Indonesia.

Saat itu kami sudah menyiapkan sebuah stupa dan patung buatan untuk persiapan kalau berurusan dengan angle kamera yang sulit. Karena adanya peraturan yang ketat, properti itu akhirnya hanya ditinggal di atas truk artistik.

Syuting di Candi Borobudur berjalan dengan pengawasan ketat dari para petugas. Semua alat berat pun, khususnya yang terbuat dari besi, harus diberi alas. Sebisa mungkin dihindari persentuhan langsung antara besi dengan batu. Track dolly sepanjang 100 meter menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi tim grip. Sutradara ingin merekam semua relief yang ada. Dolly pun bergerak dari satu sisi candi ke sisi yang lain, dari satu lantai ke lantai berikutnya. Terus hingga ke lantai yang tertinggi. Tidak ada lantai yang dilewati. Rekaman ini sangat menyeluruh meskipun tidak semua bisa masuk ke dalam film setelah proses penyuntingan.

Akhir Yang Tidak Menarik

Selain candi, untuk melengkapi penggambaran wilayah yang kami datangi, kami juga membuat rekaman pemandangan alam. Tidak hanya upacara keagamaan saja. Hal itu kami lakukan di Bali, Bromo dan tentu saja juga di Yogyakarta.

Ketika ingin merekam kehidupan di kaki G. Merapi, kami mengambil rute melewati jalan ke Kaliurang, terus menuju Utara. Gunung tampak menjulang tinggi hingga satu saat jalan membelok ke kiri. Mengingat hari sudah cukup siang, Juru Kamera menjadi panik, takut kehilangan cahaya matahari pagi. Ia menghentikan mobil dan mempertanyakan kenapa tidak mengambil jalan lurus saja?

Produser yang adalah juga Sutradara langsung saja marah-marah. Saat itu perjalanan syuting sudah mendekati akhir. Pendekatan temperamental Sutradara sudah benar-benar menjengkelkan. Apalagi selama perjalanan ada kecenderungan untuk mencari kesalahan pada tim Indonesia. Kru asing yang datang ke Indonesia seringkali memang egois dan merasa paling pintar, paling berpikir logis ketimbang kru Indonesia. Bila hal itu muncul, untuk kenyataan keseharian yang dihadapi, saat mereka ingin menonjolkan ke-sok tahu-an mereka itu, mereka sebaliknya bisa menjadi sangat bodoh.

Perjalanan menuju ke kaki G. Merapi pagi itu adalah salah satu contoh. Karena saat itu kami sedang berpacu dengan naiknya matahari, mereka sendiri menolak untuk berangkat pukul 05:00 pagi, pencerita sudah tidak bisa menahan diri lagi. Kalau jalan terus ke Utara, jalan akan membawa ke desa dan hutan di kaki gunung. Tentu saja justru tidak bisa melihat gunung itu sendiri. Akhirnya Sutradara merangkap Produser itu terpaksa menelan bentakan pencerita agar kami bisa terus bergerak ke Muntilan untuk kemudian berbelok ke arah kaki G. Merapi.

Baru setelah tiba di sana, sadarlah mereka bahwa mereka benar-benar dibawa ke kaki G. Merapi, di posisi dimana mereka bisa merekam jelas dan utuh gunung yang terkenal sering meletus tersebut.

Kerjasama dengan Yasmin Bauernfeind ini bagi pencerita dan tim sangat tidak mudah. Setiap saat ada perubahan keputusan. Keputusan artistik yang semula ia setujui, bisa berubah pada saat di lokasi. Kesepakatan dengan pemilik lokasi seringkali ia labrak. Hal ini tidak hanya merepotkan penjagaan anggaran supaya tetap berada dalam batas yang disepakai tapi juga cukup menyulitkan kerja tim pendukung dari Indonesia dengan warga setempat.

Meski pada akhirnya syuting selesai tepat waktu, namun penyelesaian administratif masih berlangsung hingga enam bulan setelah tim Jerman pulang ke negaranya. Semula ia menolak adalah kelebihan anggaran yang dikeluarkan. Padahal setiap perubahan anggaran selalu dilaporkan kepadanya. Perubahan yang menjadi penambahan biaya karena permintaan dadakan di setiap lokasi yang tidak pernah ia bicarakan sebelumnya.

Pada satu saat dalam proses komunikasi perdebatan penagihan, ia bahkan berkilah bahwa ketika syuting di Yogya, terjadi penambahan kru tanpa sepengetahuan dan persetujuan dari dirinya sebagai Produser.

Sungguh proses yang tidak menarik. Untunglah pada setiap tahap perubahan pencerita selalu mengirimkan perubahan itu secara tertulis, termasuk anggaran yang rinci dan menyebutkan penambahan kru tersebut. Semula ia masih mencoba berkilah tapi dengan bukti tertulis itu, juga kesadaran bahwa tanpa penambahan kru syuting tidak mungkin selesai karena aneka tuntutan dan perubahan di lokasi yang ia selalu lakukan pada saat syuting, akhirnya kantor pusat stasiun televisi yang memesan film tersebut mengirim pelunasan pembayaran.

Lagi satu pelajaran berharga terkait dengan proses pembayaran. Sejak saat itu, diskusi terkait dengan anggaran selalu pencerita paksakan dalam bentuk tertulis. Bila ada yang memaksa bicara per telepon, pencerita seringkali berpura-pura berada di posisi sinyal yang tak jernih. Dengan demikian diskusi dilanjutkan secara tertulis. Lebih jelas dan lebih aman untuk proses penagihan selanjutnya.

Hal ini menjadi semakin penting dengan perkembangan sistem digital. Tidak ada lagi film seluloid atau kaset yang bisa disandera. Semua rekaman sudah dalam bentuk data yang secara berkala ditransfer ke hard disk yang dibawa oleh Juru Kamera ataupun data wrangler tim asing.

Untuk urusan terkait dengan uang, bangsa dan gender tidak akan menjadi jaminan. Uang memang punya nyawanya sendiri.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: