Dongengfilm's Blog

November 17, 2012

Dongeng Produksi Film (Dokumenter) Asing di Indonesia – 5

Filed under: Tak Berkategori — dongengfilm @ 3:40 am
Tags: , ,

2000: “Pricewater House in Indonesia”
Jenis Film: Dokumenter
Rumah Produksi Asing: @radicalmedia, New York, AS
Sutradara: Lenard Dorfman
Rumah Produksi Indonesia: GMM Films
Jabatan: Manajer Produksi

Beberapa saat setelah syuting bersama @radicalmedia dari London di Bali, pencerita diajak oleh Gary Hayes untuk mengurusi rencana syuting company profile Pricewater House di Indonesia. Sebuah lembaga keuangan yang terkait dengan Bank Bali, bank yang saat itu sedang di-merger-kan sehubungan dengan kehancuran beberapa bank akibat krisis ekonomi pada akhir dekade 1990-an itu.

Waktu kedatangan mereka dengan kontak awal yang mereka lakukan terhadap GMM Films sangat pendek. Hanya sekitar tiga minggu, menjelang liburan akhir tahun. Dengan cepat pencerita memberikan perkiraan anggaran kepada Gary dengan catatan: kalau mereka memang serius akan syuting dengan jadwal yang mereka inginkan itu, mereka harus mengirim 50% dari pengajuan anggaran itu hari itu juga. Pasalnya, penundaan bisa berakibat fatal karena berurusan dengan proses pengiriman uang antar negara menjelang liburan natal.

Meski semula agak ragu, Gary akhirnya mengirimkan persyaratan itu. Pencerita juga pernah melakukan hal yang sama dengan @radicalmedia dari London. Artinya, kebijakan yang sama juga bisa diterapkan saat berurusan dengan @radicalmedia dari New York ataupun Sydney. Mereka adalah pembayar yang baik meski selalu memiliki permintaan aneh-aneh dan serba dadakan. Kemana pun mereka berkeliling, perusahaan seringkali membekali uang kontan sekitar USD 9,500.00 kepada masing-masing kru sebagai cadangan uang produksi apabila saat produksi berjalan di negara asing, mereka terbentur pada keterlambatan pengiriman uang.

Ada satu aturan main dalam produksi film asing yang dipegang di seluruh dunia. Rumah produksi pendukung setempat punya hak untuk menahan film negatif bila perusahaan asing belum membayar lunas tagihan mereka pada saat syuting selesai. Mereka bisa pulang ke negara asal tapi tidak membawa footage apapun. Aturan baku inilah yang mendasari ‘tradisi’ manajemen @radicalmedia untuk membekali kru mereka dengan uang kontan masing-masing di bawah USD 10,000.00 sehingga tidak perlu melaporkan diri ke petugas bea cukai di bandara pada saat meninggalkan negara asal mereka. Bagi mereka, adalah pantang untuk tidak membawa pulang footage syuting saat meninggalkan lokasi syuting. Kerahasiaan hasil syuting merupakan bagian dari kesepakatan kontrak mereka dengan klien.

Sebaliknya, bagi rumah produksi setempat, ‘penyanderaan’ negatif film kadang terpaksa dilakukan untuk memastikan pelunasan pembayaran. Perubahan angka seringkali terjadi akibat permintaan dadakan dari berbagai departemen pada saat pelaksanaan syuting. Permintaan yang seringkali memang tidak bisa direncanakan pada saat pembuatan anggaran yang hanya berdasarkan story board. Bila seluruh petinggi rumah produksi asing sudah angkat kaki, otomatis rumah produksi lokal tidak punya kekuatan apa-apa untuk memaksa pelunasan pembayaran dan hanya bergantung pada itikad baik dari pihak asing. Hukum dagang sendiri pada intinya tidak pernah bisa mengandalkan itikad baik… he he he…

Dan seperti dugaan pencerita, uang 50 persen dari perkiraan anggaran awal langsung ditransfer dari New York. Gary Hayes sendiri kebingungan pada kenyataan bahwa mereka langsung melakukan hal tersebut.
Selain ingat akan pengalaman sebelumnya berurusan dengan @radicalmedia, pencerita teringat nasehat Odysseas Lappas sebelumnya, “Kalau ada rumah produksi asing yang minta tolong akan data dan kamu sudah harus menyeluarkan biaya seperti telepon untuk mendapatkan data tersebut, jangan ragu-ragu untuk minta mereka kirim uang. Paling sedikit USD 1,000. Hanya dengan transaksi itu posisi kamu terjamin akan menjadi mitra kerja bila akhirnya mereka syuting di Indonesia.”

Pencerita pernah beberapa kali mengalami hal itu kemudian. Data sudah dikirim, tak ada jawaban apa-apa. TIba-tiba dapat kabar mereka sudah syuting dan menghubungi responden ataupun orang lokasi yang pencerita infokan kepada mereka. Tak ada kabar pembatalan. Hal ini pernah terjadi dengan produksi dari Belanda, Jepang, Malaysia, Thailand dan Taiwan.

Adalah tidak mungkin menuntut kontrak kerja pada saat masih tahap mencari data. Akibatnya, bila mereka ‘lari’ ke rumah produksi lain, rumah produksi lokal tidak punya kekuatan hukum terhadap mereka. Satu-satunya cara adalah meminta mereka mengirim uang operasional sebelum mengirim data apapun kepada mereka.

Apalagi kalau mereka langsung mengirim 50 persen, pastinya mereka tidak mau kehilangan uang tersebut!

1 Komentar »

  1. When someone writes an paragraph he/she keeps the image of a user in his/her mind that how a user can know it.
    So that’s why this post is amazing. Thanks!

    Komentar oleh Teresa — September 1, 2013 @ 1:41 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: