Dongengfilm's Blog

Oktober 16, 2012

Dongeng Produksi Film (Dokumenter) Asing di Indonesia – 4

Filed under: Tentang Film — dongengfilm @ 9:31 pm

2000: “The Secret of Java Mask
Jenis Film: Dokumenter
Rumah Produksi Asing: ARD-TV, Jerman
Sutradara: Robert Hetkaemper
Jabatan: Fixer

Pada suatu hari di hotel Grand Hyatt, Jakarta, koresponden televisi Jerman ARD-TV Robert Hetkaemper bertanya kepada pencerita, “Tino, what do you know about The Gajah Mada mask?

Gajah Mada mask? I know about Gajah Mada but I don’t know about the mask,” jawab pencerita.

Mulailah ia bercerita bagaimana dia telah melakukan penelitian kepustakaan mengenai eksistensi sebuah topeng yang disebut topeng Gajah Mada. Konon topeng itu sendiri sudah ratusan tahun disimpan di salah satu kerajaan di Bali. Pencerita belum pernah mendengar dongeng tersebut.

Robert kemudian meminjamkan sebuah buku dan meminta pencerita untuk membacanya. Kemudian bersama-sama kami akan mengembangkan sebuah cerita untuk film dokumenter yang nantinya akan ditayangkan di ARD-TV.

Ceritanya akan digabungkan dengan cerita perjalanan naik kereta api. Ternyata, pada awalnya Robert Hetkaemper ingin melanjutkan pembuatan serial perjalanan seperti yang pernah ia buat dari Malyasia hingga ke Vietnam. Kemudian dari Ho Chi Minh City ke Hanoi di Vietnam. Semuanya merupakan cerita perjalanan melintasi sebuah wilayah yang cukup jauh dengan menaiki kereta api di kawasan Asia Tenggara.

I like to make this traveling documentary film,“ jelasnya. “It’s easier to show a country and its people.”

Tetapi, cerita tidak bisa hanya berkisah tentang kereta apinya dan alam atau kota yang dilewati melainkan harus memiliki sebuah benang merah terkait dengan kebudayaan dan masyarakat yang dilintasi kereta api tersebut. Dari penelitian kepustakaan yang ia lakukan, ia menemukan dongeng tentang topeng Gajah Mada tersebut.

Topeng Gajah Mada ini konon dibawa oleh tokoh Kebo Iwa ini sudah disimpan oleh kerajaan Blah Batuh, Bali, selama ratusan tahun. Topeng ini merupakan hadiah yang diterima oleh Mahapatih Kebo Iwa atas pengabdiannya di kerajaan Majapahit. Kalau tidak salah dari raja Menak Jingga. Menurut hikayat, hanya Mahapatih dari kerajaan Blah Batuh inilah yang mampu menandingi kesaktian Mahapatih Gajah Mada dalam sebuah perang tanding.

Hikayat lain menceritakan bahwa Kebo Iwa adalah seorang mahapatih yang tangguh sehingga ia dianggap sebagai penghalang upaya kerajaan Majapahit melebarkan sayap ke Bali. Kebo Iwa diundang oleh Gajah Mada untuk membantu membuatkan sistem pengairan di kerajaan Majapahit agar terhindar dari bahaya banjir. Dengan imbalan salah seorang putri kerajaan.

Kebo Iwa berangkat ke Majapahit, langsung mulai membuat parit yang diminta, dan secara licik ia bersama seluruh prajuritnya dibunuh dengan cara dikubur hidup-hidup di dalam parit yang ia buat.

Sebagai tanda untuk memperingati kesaktian sang mahapatih, di perbatasan Blah Batuh dan Denpasar dibuatkan sebuah patung besar… untuk yang tidak tahu, seperti juga pencerita sebelum membuat film dokumentasi ini, patung itu dikira adalah patung Gajah Mada… padahal itulah patung Kebo Iwa, Mahapatih kerajaan Blah Batuh.

Membangun Cerita

Bagaimanakah caranya, hai tukang cerita?

Membungkus perjalanan dari Jakarta ke Bali dengan kereta api ini dengan jejak kebudayaan yang bisa menyatu menjadi sebuah cerita tanpa terasa dipaksakan?

Dari segi trayek kereta api sendiri, Perum PJKA (waktu itu, yang kemudian berganti nama menjadi PT KAI) memang memiliki trayek hingga ke Denpasar. Dari Jakarta sampai ke Banyuwangi naik kereta, yaitu Jakarta – Surabaya kemudian Surabaya – Banyuwangi, dan dari Banyuwangi perjalanan dilanjutkan dengan bis milik Perum PJKA. Karcis yang dibeli adalah karcis dari Jakarta hingga ke Denpasar.

Benang merah cerita pun mulai didiskusikan. Apakah elemen kebudayaan yang bisa disatukan? Atau lebih tepat bila dibahasakan, apakah elemen kebudayaan yang ingin diangkat tapi tidak membuat alur cerita terasa dipaksakan?
Gajah Mada hidup di jaman kerajaan Majapahit, jaman ilmu silat dan segala kesaktian dan senjata yang melekat menjadi satu kesatuan dalam dirinya. Gajah Mada sendiri tersohor tidak hanya karena ilmu ketata-negaraan, tetapi juga kesaktiannya sebagai modal awalnya meniti karier dari prajurit, pasukan khusus penjaga raja hingga menjadi seorang Mahapatih.

Topeng Gajah Mada memberikan alasan untuk mengangkat kesenian topeng yang masih ada di Pulau Jawa. Ada topeng Cirebon yang teknik pelekatan di wajah dilakukan dengan cara menggigit pegangan yang disediakan, dan ada topeng Jawa yang pelekatan di wajahnya sama dengan topeng Bali yaitu dengan cara diikat kebelakang kepala dengan seutas tali. Dari alasan ini ditetapkan tiga kota yang patut disinggahi yaitu Cirebon, Yogyakarta dan Denpasar.

Sebagai seorang Mahapatih, Gajah Mada pasti memiliki keris andalan. Alasan buat kami untuk mengangkat teknik pembuatan keris tradisional (maupun modern) menjadi bagian dari cerita. Kota yang dipilih adalah Yogyakarta dan Surabaya. Karena dia berasal dari Majapahit maka otomatis Trowulan, dekat Mojokerto, Jawa Timur, juga harus kami datangi.

Dalam hikayat kehidupannya, tidak ada yang tahu dimana Gajah Mada dikebumikan. Di lain pihak, pada tahun 1991 pencerita pernah syuting di air terjun Madakaripura. Konon, di sinilah Gajah Mada bertapa setelah turun dari jabatan Mahapatih hingga mencapai titik kesempurnaan: moksa. Air terjun Madakaripura pun dimasukkan ke dalam lokasi yang harus dikunjungi.

Mengingat kedekatan wilayahnya, Gunung Bromo pun kami masukkan ke dalam deretan lokasi. Pertama, karena memang sebuah gunung yang terkenal dan pasti menarik bagi penonton di Jerman; kedua, lebih sebagai pembenaran cerita, masyarakat di sana dipercaya merupakan keturunan dari rakyat Majapahit yang tidak menyeberang ke Bali atau lari ke Ujung Kulon ketika kerajaan Blambangan runtuh, dan sampai sekarang masih memeluk agama Hindu.

Pelabuhan penyeberangan di Ketapang, Banyuwangi, seperti halnya beberapa stasiun kereta di perjalanan Jakarta – Banyuwangi seperti Cirebon, Yogya, Probolinggo juga wajib direkam. Biar bagaimanapun gagasan dasar bahwa film yang akan dibuat ini adalah sebuah film dokumenter tentang perjalanan dengan kereta api tetap harus dijaga. Kami bahkan memasukkan kereta ulang alik Yogyakarta – Solo di dalam cerita sebagai salah satu bentuk pelayanan dari Perum PJKA kepada masyarakat di Jawa Tengah.

Pergantian turangga dari kereta api ke bis kota juga memiliki sisi menarik untuk disebutkan meski hanya sekilas. Anak-anak pemburu uang logam yang berenang menarik perhatian penumpang kapal ferry merupakan gambar yang cukup menarik untuk disuguhkan kepada pemirsa di Jerman.

Nanti setelah tiba di bumi Pulau Dewata, barulah cerita akan mengkonsentrasikan diri dengan topeng Gajah Mada itu sendiri. Topeng yang belakangan kami ketahui disimpan di pura kerajaan Blah Batuh, pura desa saat ini, dan hanya diambil dari tempat penyimpanan dan diperlihatkan kepada ‘umum’ pada waktu-waktu tertentu dan harus dengan alasan istimewa. Misalnya, saat bencana melanda, topeng dikeluarkan untuk meminta petunjuk cara mengatasi bencana tersebut. Topeng ini hanya bisa dikeluarkan dari kotak penyimpanannya bila disaksikan oleh wakil-wakil dari keluarga kerajaan lain di Bali. Benar-benar diperlakukan sebagai sebuah pusaka yang jarang sekali dikeluarkan.

Setelah elemen kebudayaan berhasil diseleksi, barulah dimulai ‘perburuan’ tokoh yang dianggap layak, mumpuni di bidangnya, dan bersedia untuk diwawancarai. Ada banyak penari dan pembuat topeng Cirebon, siapa yang paling tepat? Ada banyak empu pembuat keris, tapi siapa yang paling tepat dan bisa cerita soal Gajah Mada?

Mobil, KA, Pesawat

Dari hasil riset kota dan daerah yang akan dikunjungi adalah Cirebon, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Trowulan Mojokerto, Madakaripura, Gunung Bromo, Probolinggo, Banyuwangi, Denpasar dan Blah Batuh.

Unsur kebudayaan yang akan diangkat adalah kesenian topeng, pembuatan sekaligus tariannya, serta seni pembuatan keris dan upacara terkaitnya.

Untuk memudahkan proses syuting, selain kru baku film documenter yang terdiri atas empat orang (Koresponden/Sutradara, Juru Kamera, Penata Suara/Asisten Kamera dan Fixer), kami didukung oleh sebuah mobil produksi dengan dua orang pengemudi. Mobil ini membawa semua koper berisi pakaian dan buku referensi, serta mengangkut kotak peralatan. Di atas kereta kami hanya membawa peralatan syuting saja. Perangkat charger pun kami titip ke mobil. Mobil harus terus mengikuti kami, kadang menurunkan kami di sebuah stasiun dan kemudian secepatnya bergerak ke stasiun kota tujuan untuk menjemput kami.

Di Cirebon kami tidak hanya dapat mewawancarai seorang penari tua, menyaksikannya beraksi hingga mendapatkan salah satu topeng pertama yang dibuat oleh suami dari sang penari yang sudah mendampinginya seumur hidup. Sang suami bertindak sebagai manajernya.

Di Yogyakarta kami masuk ke pelosok daerah Sleman dan berhasil mewawancarai seorang empu pembuat keris yang modern, kalau tidak salah ingat ia adalah seorang sarjana pertanian dari Universitas Gajah Mada. Selain membuat keris, ia mengembangkan tanaman salak, mengawinkan salak Pondoh dan salak Bali sehingga menghasilkan buah salak yang tidak hanya memiliki kegurihan salak Bali saat digigit tapi juga rasa manis salak Pondoh. Lumayan kami datang pada saat panen.

Dari Yogyakarta kami juga mencoba kereta untuk kaum commuter Solo – Yoyga. Kami naik kereta di Yogya. Setelah mengantar kami ke stasiun, mobil logistik mengejar dan menjemput kami di Solo. Dari Solo perjalanan dilanjutkan lewat udara, mobil mengejar lagi ke Surabaya. Di Surabaya kami juga sempat mewawancarai seorang empu keris lagi dan merekam caranya membuat keris. Kami pun sekarang kaya akan gambar proses pembuatan sebilah keris.

Kemudian lewat darat ke Trowulan, Bromo hingga Probolinggo. Dari Probolinggo naik kereta ke Banyuwangi, menyelusuri Taman Nasional Alas Purwo di selatan, dan bertemu dengan mobil produksi di stasiun Banyuwangi. Kami mengambil gambar bis PJKA tapi melanjutkan perjalanan dengan mobil produksi hingga ke Denpasar.

Setiba di Denpasar, barulah tiba tantangan yang sesungguhnya: meyakinkan pemilik topeng Gajah Mada untuk mengijinkan kami melihat topeng tersebut sebagai pembuktian bahwa eksistensi topeng tersebut bukan hanya sebuah dongeng saja.

Dari keluarga Puri Blah Batuh kami mendapatkan penjelasan bahwa mereka adalah keturunan dari Raja Erlangga di Jawa. Raja yang lahir di Bali pada tahun 991 dan kemudian menyeberang ke Tanah Jawa dan berhasil mendirikan kerajaan Kahuripan pada tahun 1025. Topeng Gajah Mada sudah mereka simpan di pura desa Blah Batuh dari generasi ke generasi. Setahun sekali topeng tersebut diupacarakan.

Dengan sejuta jurus rayuan maut, akhirnya kami berhasil meminta sang raja untuk mengadakan upacara untuk memperlihatkan topeng tersebut kepada umum. Dengan syarat, pada saat topeng dikeluarkan dari kotaknya, tidak boleh direkam oleh kamera. Yang penting dibuktikan bahwa topeng tersebut memang ada.

Tentu saja kami iyakan. Tanggal upacara pun ditentukan.

Pada hari upacara tersebut, puri Blah Batuh dipenuhi utusan anggota keluarga dari beberapa kerajaan di Bali, termasuk dari kerajaan Karangasem. Kami mengambil posisi strategis. Tentu saja dengan niat “mencuri” gambar saat topeng dikeluarkan dari kotak.

Bern, juru kamera yang tidak pernah berhenti merokok bahkan saat kamera berputar, siaga dengan kamera Betacam SP dan tripod dari pinggir ruangan. Pencerita, dengan kamera Sony kecil dari tengah hadirin. Robert berdiri di samping Bern mengamati jalannya upacara agar ia dapat menggambarkannya dengan tepat saat menulis dan membacakan narasi film.
Upacara berlangsung khidmat. Terasa sekali. Apalagi saat topeng perlahan-perlahan dikeluarkan dari kotaknya. Meski berpura-pura bodoh, pencerita bisa melihat jelas betapa pandangan sang raja menghujam ke pencerita yang berusaha merekam dengan kamera kecil. Pencerita ingat benar ucapan beliau sebelumnya tentang karakter orang Bali yang seperti dua sisi mata uang logam. Di satu sisi baik, di lain sisi bisa menjadi musuh bebuyutan bila kita tanpa sadar telah menyinggung perasaannya.

Saat itu, sambil memegang kamera, pencerita sadar bahwa pencerita telah membangkitkan sisi yang satunya itu. Dari kejauhan pencerita bisa melihat perubahan ekspresi sang ratu saat mengeluarkan topeng Gajah Mada itu dan memperlihatkannya kepada para hadirin. Topeng yang cara pemasangannya tidak sama dengan topeng Bali pada umumnya tapi justru seperti topeng Cirebon.

Suasana sangat tegang. Begitu upacara selesai, kami langsung pamit. Hengkang persisnya.

Di dalam mobil, kami pun mengecek hasil rekaman kedua kamera itu. Kamera Betacam SP berhasil merekam gambar tapi wide shot. Sedangkan kamera kecil tidak berhasil merekam apa-apa. Pencerita sadar bahwa itu disebabkan oleh kebodohan pencerita berurusan dengan kamera. Selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia film, pencerita tidak pernah mengoperasikan kamera kecuali saat membuat film dokumenter pribadi. Gagap teknologi persisnya.

Robert Hetkaemper sangat marah ketika mengetahui bahwa kamera kecil itu tidak menghasilkan gambar apa-apa. Pencerita juga hanya bisa minta maaf.

Don’t worry, shit happens,” hibur Bern melihat pencerita yang juga sangat frustasi menyadari kebodohan yang terjadi.

Untunglah kami sudah merekam beberapa foto yang diperlihatkan sang raja sebelumnya. Foto yang juga menegaskan bahwa teknik pembuatan topeng Gajah Mada ini justru mengikuti teknik pembuatan topeng Cirebon.

Film “The Secret of Java Mask”-pun bisa diselesaikan dengan baik. Kegagalan itu bahkan menjadi ‘bumbu’ mempertegas kemisteriusan (sekaligus kesaktian) topeng Gajah Mada!

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: