Dongengfilm's Blog

Oktober 7, 2012

Dongeng Produksi Film (Dokumenter) Asing di Indonesia – 3

Filed under: Tentang Film — dongengfilm @ 4:26 am

1997: “Amway: Worldwide Success
Jenis Film: Dokumenter
Rumah Produksi Asing: Red Productions, Yunani
Sutradara: Odysseas Lappas
Rumah Produksi Indonesia: Padi Films
Jabatan: Manajer Produksi

Saat itu pencerita masih menjadi pekerja lepas ‘abonemen’ di PT Katena Films. Kantor mereka berada di kawasan Kuningan. Siang itu Finn Galtres, Produser asal Inggris di Katena, menginformasikan bahwa ada rumah produksi dari Yunani yang mencari pencerita. Apakah saat itu pencerita sedang terlibat sebuah pekerjaan? Kalau tidak, ia akan memberikan nomor telepon pencerita kepada mereka.

Kebetulan pencerita baru saja masuk masa pengangguran. Telepon mereka pun ditunggu.

Sore harinya datanglah telepon tersebut. Yang menelepon adalah Produser mereka. Rumah produksinya berasal dari Yunani, Red Productions, dengan Sutradara asal Yunani, Odysseas Lappas. Produsernya sendiri adalah orang Canada. Saat itu pencerita masih selalu terkagum-kagum bila mendengar orang dari benua yang berbeda bisa menjadi satu tim. Nama pencerita sendiri mereka peroleh dari rekan Produser mereka yang tempo hari mengerjakan iklan “Merril Lynch.”

They told me that we should only come to Indonesia if we can find you,” ucap sang Produser.

Sumpah, pencerita tidak bohong. Pencerita ingat betul kalimat tersebut karena setelah telepon tersebut hati pencerita berbunga habis. Kepala rasanya selebar dunia. Tidak percuma waktu itu kerja seperti orang gila, bikin rekor tidak tidur hanya untuk sebuah syuting.

(Kalau hal itu diucapkan sekarang-sekarang ini, pencerita akan paham betul bahwa inilah basa-basi Produser dari negara-negara Barat, penuh puja puji, tapi kita tidak akan pernah tahu apakah puja-puji itu jujur atau bagian dari ucapan selamat pagi atau selamat sore… ha ha ha… Puja puji itu juga kehilangan makna ketika kebetulan kita melakukan sebuah kesalahan kecil yang bisa menjadi pembahasan seumur hidup…)

Red Production bukan sedang membuat film iklan tetapi sebuah company profile mengenai kegiatan multi level marketing, Amway, yang pada waktu itu adalah sesuatu yang baru mendunia. Dari kantor pusat Amway di Amerika Serikat (AS) mereka diminta membuat film tentang kegiatan Amway di beberapa negara, termasuk Indonesia, profil anggota Amway yang berhasil selain menampilkan profil singkat masyarakat setempat.

Singkat kata, kesepakatan kerja pun diikrarkan. Pencerita menunggu kedatangan mereka sambil melakukan riset lokasi sesuai dengan daftar yang mereka kirim.

Lampu HMI Joker

Saat mereka datang ke Indonesia, pencerita langsung menemui mereka di hotel. Pencerita tidak perlu memikirkan bagaimana mereka bisa masuk dengan peralatan mereka, meskipun video, kemudian perijinan syuting mereka. Semua diurus oleh PT. Katena Films. Untuk ijin lokasi, mengingat titik beratnya adalah wawancara anggota Amway, pencerita pun memutuskan untuk melakukan pendekatan cara seorang wartawan mendekati calon responden. Tidak mengurus ijin lokasi ke lingkungan tempat tinggal atau polisi tapi langsung saja datang ke tempat asalkan pemilik rumah sudah tahu akan kedatangan kami. Pendekatan hanya dilakukan secara ‘kekeluargaan’ dengan satpam dan pengurus lingkungan setempat.

Untunglah mereka memang tidak mau pendekatan syuting film iklan tetapi cenderung ke pendekatan pembuatan film dokumenter, kru kecil. Artinya, pas dengan menggunakan cara wartawan atau seperti ketika pencerita masih bekerja di program “Jakarta Masa Kini”. Saat di lokasi, inilah kali pertama pencerita merasakan betapa besar manfaat pengalaman menjadi door to door salesman. Jago dalam ‘mengemis” tapi sekaligus yakin diri menghadapi orang yang baru dikenal.

Satu hal yang juga tak pernah pencerita lupakan adalah jenis lampu baru yang mereka bawa. Tidak perlu generator karena jenis lampu yang mereka bawa adalah jenis lampu HMI Joker, yang tidak membutuhkan listrik banyak. Ada lampu yang hanya 200 Watt tapi bisa mengeluarkan sinar sebesar 1 KVA. Pencerita bengong mendengar (dan kemudian) melihat kemampuan lampu tersebut. Sebelumnya, syuting bisa jalan tanpa generator kalau memakai lampu maksimum lampu red head yang 750 Watt. Dengan catatan, rumah yang dipakai syuting tersebut memiliki listrik paling kecil 2.200 Watt.

Salah satu anggota Amway yang mau mereka wawancarai adalah seorang penjahit yang tinggal di kawasan Jembatan Dua, Jakarta Barat. Daerah kumuh. Kemampuan listrik hanya 750 Watt. Mereka santai saja. Yakin kombinasi lampu yang menempel di kamera dan lampu HMI Joker bisa mengatasinya. Dan… benar saja. Persoalan terbesar adalah justru membawa minibus masuk ke kawasan Jembatan Dua. Anggota Amway itu sudah pencerita hubungi per telepon tapi belum sempat pencerita kunjungi sendiri. Saat mencari alamat, ternyata pencerita berurusan dengan tim yang tidak sabaran.

Sutradara sempat menggerutu ketika melihat pencerita menanyakan alamat ke penduduk yang pencerita temui. Dalam anggapan mereka, seharusnya kan gampang saja. Jalan yang dimasuki kan sudah benar, tinggal cek nomor rumahnya saja. Tidak salah. Hanya saja, seperti banyak jalan di Jakarta, nomor rumahnya nggak jelas antara nomor di pagar dengan nomor yang tercantum di nomor yang diberikan oleh kelurahan terkait RT dan RWnya… kawasan Jembatan Dua pula… ha ha ha…

Akhirnya, untuk menghentikan celoteh tentang cara kerja yang lamban karena mobil harus sering berhenti saat bertanya ke warga setempat, pencerita memutuskan untuk berlari di depan mobil. Paling tidak telinga tidak bising dengan celoteh tak penting. Mobil mengekor di belakang, sambil tanya alamat rumah itu kepada warga yang berpapasan, dan bengkel kerja penjahit itupun berhasil ditemukan. Mobil itu sendiri tentu saja terlalu besar untuk parkir lama-lama di sana.

Untung saja cara kerja mereka sangat cepat. Cara kerja yang belakangan pencerita akrabi saat menjadi fixer untuk kru ARD-TV dari Jerman. Setelah basa-basi sebentar, wawancara dimulai. Pertanyaan baku, bagaimana dampak Amway dalam memperbaiki tingkat pereknomian keluarga?

Jawaban sudah bisa ditebak lah. Saat wawancara, tugas pencerita bertambah dengan menjadi penerjemah bahasa. Pengalaman menjadi penerjemah langsung ini juga merupakan latihan yang sangat berguna ketika menjadi fixer bagi media asing yang meliput ke Indonesia di kemudian hari.

Setelah wawancara selesai, Juru Kamera pun mulai merekam kegiatan para pekerja. Sama seperti cara tim kamera “Jakarta Masa Kini” dulu. Semua anggota kru bekerja rangkap dan ikut mengangkut semua barang demi kecepatan. Waktu kami tidak banyak untuk setiap lokasi karena lokasi yang dikunjungi cukup banyak.

Teori Bayangan

Dari kawasan kumuh kami pindah ke Gedung MPR/DPR. Mewawancarai anggota parlemen yang bagi Amway dianggap sangat gigih dalam menyokong upaya Amway memasyarakatkan multi level marketing. Semua perjanjian sudah diatur oleh klien sebagaimana mereka ceritakan ketika kami menemui salah seorang anggota peringkat Diamond mereka di kantor pusat mereka. Kantor dimana pencerita terbengong-bengong melihat seorang yang berpredikat Diamond diperlakukan bak seorang dewa.

Setelah menelepon anggota parlemen tersebut, mengkonfirmasi ulang waktu wawancara, kami tinggal melapor kepada satpam di gedung dimana anggota parlemen tersebut berkantor saja. Tidak perlu mengajukan surat resmi ke pengelola Gedung MPR/DPR. Satpam sudah tahu perkara. Jadi mudah bagi kami untuk naik ke kantornya.

Usai wawancara, saat pencerita sedang pamitan dengan komandan satpam, tiba-tiba pencerita dipanggil oleh salah seorang kru mereka. Dia bilang bahwa Sutradara sedang kesal karena ketika mencari pencerita, dia tidak melihat keberadaan pencerita.

Prepare yourself for ‘shadow theory’ lecture,” ujarnya saat pencerita bergerak mencari Odysseas.

Benar saja. Saat menunggu mobil di depan lobi, Odysseas Lappas menjelaskan bahwa kalau bekerja dalam produksinya, pencerita tidak boleh jauh darinya. Paling jauh hanyalah sepanjang posisi bayangan pada pagi hari. Itu paling jauh. Artinya, tetap kelihatan dari manapun ia berada. Hal ini, katanya kemudian, tidak hanya berlaku untuk fixer tetapi untuk semua kru.

Wah, ilmu baru lagi kalau berurusan dengan seorang Sutradara yang merangkap menjadi Produser.

Selain pentingnya wawancara dengan anggota parlemen untuk mempertegas kehadiran Amway di Indonesia adalah sah, satu lagi acara yang harus disyut: pertemuan akbar para anggota Amway, kalau tidak salah ingat, di stadion Istora Senayan.
Kami datang sebelum acara dimulai. Tim keamanan mereka melihat kedatangan kami dengan penuh kecurigaan. Mungkin karena ‘di luaran’ multi level marketing belum diterima akrab oleh masyarakat. Sebagai penjual produk-produk Amerika Serikat, kehadiran Amway juga dianggap sebagai agen produk asing yang berjualan di Indonesia. Produk Amway kan produk akrab lingkungan. Produksinya pun (saat itu) masih produksi langsung dari Amerika.

Setelah mengambil posisi kamera, kami kagum sekaligus bingung melihat begitu banyak orang yang datang. Sepintas lalu pencerita teringat pada pertemuan sekte keagamaan dari Amerika yang pernah datang ke Indonesia pada awal tahun 1970-an. Atau pertemuan partai politik. Ruang dipenuhi aneka slogan yang memberi semangat para anggotanya.
Suasana semakin mirip seperti sekte keagamaan ketika para anggota peringkat tinggi dipanggil satu per satu ke atas panggung. Masing-masing disambut dengan tepuk tangan gempita. Saat anggota dengan peringkat Diamond dipanggil, hadirin praktis histeris. Inilah orang yang berhasil mencapai jenjang impian semua hadirian.

Setiap orang diperkenalkan dengan prestasinya, dielukan proses kenaikan jenjang mereka, sekaligus dijadikan contoh untuk membangkitkan motivasi anggota yang lain. Setiap anggota yang memiliki peringkat tinggi tampaknya punya pengikut yang solid. Kemungkinan itulah down line yang bersangkutan. Yang paling pencerita tidak bisa terima adalah penyebutan perkiraan nilai pendapatan mereka. Ukuran keberhasilan adalah uang.

Keseluruhan proses syuting ini sudah pencerita lupa. Tapi hanya satu hal yang masih diingat yaitu apapun maksud pertemuan akbar tersebut, suasana mirip sekte keagamaan itu membuat pencerita maupun kru yang lain menjadi tidak tertarik untuk bergabung dengan Amway.

Sunda Kelapa

Selain anggota Amway yang diwawancara, kami juga mengambil beberapa gambar untuk menjadi awal dari bagian Amway di Indonesia yang diwakili oleh Jakarta. Established shot kota Jakarta. Kawasan perumahan diwakili oleh salah satu kompleks perumahan kelas menengah di Jakarta Barat. Tidak hanya mengambil gambar static dari atas tripod tapi juga tracking dengan mobil pick up keliling perumahan.

Untuk suasana kota yang bisa mencerminkan kekerasan hidup sekaligus perputaran ekonomi nasional, Odysseas memilih syuting di Pelabuhan Sunda Kelapa. Simbol kekerasan hidup yang ditampilkan adalah kegiatan bongkar muat kapal kargo antar pulau yang ada di sana. Syuting di kawasan ini bisa berjalan lancar karena pendekatannya adalah kami menyamar menjadi wartawan yang sedang membuat feature news terkait promosi pariwisata di ibukota. Pendekatan yang sama juga pencerita lakukan ketika mengambil gambar Masjid Istiqlal yang berdekatan dengan Katedral dari loteng Gedung Kantor Pos Pasar Baru untuk film dokumenter “Mistery of Democracy” belasan tahun kemudian.

Meskipun kedatangan Red Productions ke Indonesia adalah atas permintaan klien mereka, tapi tetap saja mereka harus menampilkan ‘warna’ Jakarta itu sendiri untuk mewakili Indonesia. Kalau hal itu ditanyakan kepada pencerita, tentu saja jawabannya adalah memang seharusnya begitu. Ada teorinya kalau kita memperlajari pembuatan film dokumenter. Penggambaran ruang dimana peristiwa terjadi harus selalu dilakukan untuk melengkapi film tersebut.

Beberapa tahun kemudian pencerita akrab dengan sebutan “B roll” yaitu gerak kamera merekam hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan inti yang direkam tapi penting untuk memperkenalkan wilayah dan/atau masyarakat ‘habitat’ sosok atau topik yang diangkat.

Setelah keterlibatan dalam program “Jakarta Masa Kini”, membantu Red Productions merupakan pembuatan company profile pertama yang pencerita ikuti. Saat itu pencerita juga masih tahap terkagum-kagum melihat kenyataan untuk pembuatan sebuah company profile, seorang pekerja film juga bisa keliling dunia gratis… bahkan digaji pula!

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: