Dongengfilm's Blog

Oktober 1, 2012

Dongeng Produksi Film (Dokumenter) Asing di Indonesia – 2

Filed under: Tentang Film — dongengfilm @ 4:35 pm

Belajar Membuat Film Dokumenter

Berbeda dengan pembahasan pengalaman di dunia pembuatan film iklan ataupun film cerita, pencerita merasa perlu untuk menceritakan asal muasal keterlibatan di dunia audio-visual sebelum menceritakan pengalaman membuat film dokumenter dengan produksi film dokumenter asing yang datang ke Indonesia.

Ketika awal terjun ke dunia audio-visual kegiatan utama pencerita adalah melakukan riset objek yang akan dibuatkan cerita, kemudian mengkoordinasi tim syuting saat berada di lokasi milik objek. Waktu itu, maklum belajar sendiri, pencerita bekerja dengan seorang penulis asal Kanada yang sudah lama bermukim di Indonesia, Jeremy Allan. Dia hanya bilang bahwa untuk memperkaya cerita, siapkan materi seperti membuat sebuah tulisan feature news.

Saat itu pencerita memang asli baru ‘lepas’ dari dunia media cetak. Setelah bekerja di tiga media cetak bukan harian, pada saat baru saja keluar dari majalah “Jakarta-Jakarta”, pencerita diperkenalkan dengan Jeremy Allan. Adalah seorang Leila S. Chudori yang paling bertanggung-jawab menjebloskan pencerita ke dunia yang saat itu bisa dibilang sedang naik daun bersamaan dengan munculnya tayangan televisi swasta pertama: Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI). Masih ingat masa dimana pemirsa hanya bisa mengakses siaran RCTI melalui dekoder?

Selama bergabung dengan Jeremy, pencerita tidak sadar bahwa pencerita sedang dalam proses belajar membuat sebuah film dokumenter. Yang ada di dalam benak saat itu adalah membuat berita feature tapi penyuguhannya dalam bentuk audio-visual. Tanggung jawab pencerita hanya sampai mendampingi saat syuting. Saat syuting tidak pernah tertarik melihat playback, sama halnya saat kembali ke kantor ataupun studio. Tidak pernah menyentuh tahap penyuntingan apalagi penulisan narasi. Apalagi pada saat syuting atau penyuntingan, biasanya pencerita sudah harus mempersiapkan topik berikut.

Dunia syuting yang masih sangat jarang itu membuat pengurusan ijin syuting pun sangat sederhana. Cukup mendatangi lokasi, tidak pernah berurusan dengan kantor polisi ataupun militer yang saat itu pastinya masih sibuk menjadi begundal Orde Baru dalam meneror dan menindas rakyat, kulo nuwun kepada tetangga kiri dan kanan, lalu syuting. Umumnya masyarakat di sekitar lokasi masih senang kalau daerahnya disyut. Pendekatan syuting dengan kru kecil juga semakin memudahkan proses perijinan itu.

Sekali lagi perlu saya tekankan bahwa syuting untuk televisi masih merupakan sesuatu yang sangat baru. Bisa menonton syuting adalah hiburan yang ‘wah’ dan kalau daerahnya yang ketempatan, banggalah semua orang di lingkungan tersebut. . Apalagi kalau bisa ‘masuk RCTI’! Tidak apa-apa tidak bisa menonton sendiri karena di rumah tidak mampu berlangganan dengan dekoder tapi yang penting, ya itu tadi, daerah atau kenalannya bisa ‘masuk RCTI’. Derajatnya lebih tinggi dari sekadar ‘masuk tivi’.

(Tidak seperti sekarang. Dengan banyaknya stasiun televisi, masyarakat meski kadang masih melihatnya sebagai hiburan, tapi kehadiran sebuah syuting sudah sering dirasakan sebagai gangguan kegiatan sehari-hari masyarakat yang ketempatan.)

Saat menjalani proses syuting feature news ini, pencerita sempat benar-benar bodoh dalam hal perijinan. Pencerita sama sekali tidak sadar bahwa kemudahan itu melulu disebabkan karena pendekatan syuting yang hanya mengandalkan kamera, tidak memakai peralatan lain seperti lampu, dolly dan sebagainya itu. Nama besar RCTI pun saat itu masih sangat sakti.

Tetapi, meski di atas pencerita sebut bahwa awam merasa derajatnya naik karena ‘masuk RCTI’ namun kebesaran nama RCTI yang diikuti dengan segala kemudahan syuting dari segi perijinan sebenarnya terkait dengan kepemilikan stasiun swasta tersebut. RCTI adalah milik dari salah salah seorang putra dan juga menantu Soeharto. Kalau menolak RCTI otomatis bisa dituding berpotensi menjadi pembangkang pemerintah. Meski belum sampai tahap subversif namun cukup untuk menggelisahkan warganegara Indonesia manapun. Apalagi pejabat di daerah.

Selama tiga bulan pencerita belajar menjadi periset untuk program feature news berjudul “Jakarta Masa Kini” sebelum petinggi RCTI menganggap program ini gagal karena potongan film yang diajukan dinilai tidak layak tayang. Sempat juga terjadi ketegangan berkaitan dengan built-in sponsorship.

Pendekatan “Jakarta Masa Kini” adalah pendekatan peliputan berita sehingga kadang juga membuat cerita tentang keberhasilan sebuah usaha perdagangan. Ketika diajukan, pihak manajemen RCTI mensyaratkan perusahaan yang diliput untuk membayar karena dianggap sebagai iklan tersamar. Terus terang, waktu itu pencerita masih sangat awam soal bisnis perlevisian sehingga tidak bisa menerima persyaratan itu. Bagi pencerita, saat itu, usaha perdagangan itu seharusnya diperlakukan sebagai nara sumber dalam sebuah peliputan berita. Masih untung boleh syuting di tempat mereka, kenapa justru mereka yang bayar?

Alhasil, meski berhasil mengangkat banyak topik menarik, program “Jakarta Masa Kini” tidak pernah mengudara. Langkah awal pencerita masuk ke dunia audio visual pun gagal, kembali ke media cetak, melakoni peran reporter freelance.

Yang pencerita tidak sadari adalah dalam masa tiga bulan itu pencerita sebenarnya secara tidak langsung sudah mempelajari cara pembuatan film dokumenter. Mulai dari pemilihan subjek, pengumpulan data, pembuatan daftar syot untuk mendukung cerita, hingga mendampingi pada saat syuting (kadang-kadang). Meskipun tidak terlibat dalam penentuan sudut pengambilan gambar, framing ataupun penyuntingan, modal pembelajaran itu ditambah pengalaman ketika menjadi reporter di media cetak telah membentuk fondasi teknik pembuatan film dokumenter.

Manfaat proses ini pencerita rasakan saat membantu Robert A. Chappell membuat film dokumenter tentang proses masuknya Timor Timur sebagai bagian dari Republik Indonesia. Tidak hanya mengatur wawancara tapi juga dalam merencanakan dan mengorganisasi syuting keliling dengan kru kecil.

Hal sama juga terjadi ketika pencerita bergabung dengan tim reportase televisi dari Jerman, ARD-TV. Di sini pengalaman sebagai door to door salesman, reporter di media cetak, periset untuk program (tak jadi) “Jakarta Masa Kini” semuanya menyatu dan menjadi jurus-jurus handal saat berkeliling meliput aneka berita dengan mereka.

Artinya, apapun yang kita lakukan, selama kita lakukan dengan serius, pasti akan bermanfaat di kemudian hari.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: