Dongengfilm's Blog

Oktober 1, 2012

Celoteh Jumat 28.09.2012:

Filed under: Umum — dongengfilm @ 4:41 pm

Selamat hari Jumat, republik,

HU Kompas pagi ini memberitakan antara si pandir, tolol dan goblok!

Entah siapa penggeraknya, siswa salah satu SMA di Surabaya berdemonstrasi untuk menyatakan keprihatinan mereka terhadap kasus tawuran yang (untuk entah kepentingan siapa) tiba-tiba marak diberitakan media.

Salah satu pimpinan LSM terkait nasib anak minta YBS untuk mencana
ngkan hari berkabung nasional atas meninggalnya para pelajar akibat tawuran.

Orang yang sama meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk bertindak tegas terhadap kasus tawuran (dan pelakunya tentu saja). Memangnya dia menteri penegak hukum.

Pertama: prihatin terhadap tawuran kok ya menggalang siswa untuk bergerombol turun ke jalan?

Kedua: Catatan media beberapa hari terakhir ini menunjukkan kasus korban jiwa dalam tawuran bukan hal yang baru sama sekali. Sebaliknya, kalau dihitung rata-rata jumlah korbannya, sudah bisa dibilang terhitung kegiatan ektrakurikuler rutin lah. Kok ya baru menjadi berita besar sekarang?

Bagian dari skenario besar pengalihan berita kebobrokan pemerintah dan pejabatnya?

Ketiga: Penting banget ya pencanangan hari berkabung nasional itu? Masih asyik bermain dengan retorika. Mengejar bukti kerja sebagai LSM perlindungan anak yang hidup dari bantuan funding?

Tawuran tidak perlu dibesar=besarkan. Anak remaja berkelahi, satu lawan satu ataupun keroyokan itu adalah hal biasa. Bagian dari proses pendewasaan di masa remaja. Anak lelaki gitu loh!

Pada jaman kejantanan masih ditegakkan, mereka akan digiring ke lapangan dan diadu. Itu jaman ketika remaja masih terkagum-kagum pada berbagai cerita jagoan… baik dongeng dari Barat seperti Old Shatterhand, Winetou, Lone Ranger, Django dan sebagainya; maupun dongeng asli Indonesia seperti si Jampang, si Buta Dari Goa Hantu dan sebagainya.

Untung saja waktu itu gaya keroyokan TNI ataupun ormas tertentu dalam membantai sesama awak negeri pada tahun 1965 tidak bisa digembar-gemborkan karena penguasa menhindari terbangunnya citra penguasa yang membantai. Kalau saja disebar-luaskan dan diceritakan sebagai tindak kepahlawan. generasi remaja saya dulu pasti juga melakukan tawuran seperti generasi remaja saat ini. Keroyokan dan bunuh yang terdekat.

Pada jaman dimana remaja diadu oleh guru ataupun teman bila berseteru supaya perkara bisa langsung tuntas di lapangan itu terjadi pada jaman dimana belum ada ‘gerakan’ over acting terhadap HAM dan segala omong kosong yang terkait dengan perlindungan hak anak.

Menuntut perlindungan hak anak tapi tidak diimbangi dengan kampanye pengharusan kewajiban anak: sekolah untuk menuntut ilmu dan bukan jadi jagoan seperti terungkap dengan mulia dalam lagu karya Ibu Sud.

O ibu dan ayah, selamat pagi
kupergi belajar sampaikan nanti

Selamat belajar nak penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat

Hormati gurumu sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman

Jaman sekarang, pada jaman edannya kaum pengecut (mulai dari rakyat sampai pejabat) keroyokan pun lebih marak dipilih sebagai cara penyelesaian perkara. Bagian dari penerapan ‘hukum sampah’ di masyarakat yang sudah tidak percaya pada penegakan hukum oleh para penegak hukum.

Sejak proses reformasi 1998 kita sering melihat derajat kemampuan dan kejiwaan aparat bersenjata yang latihannya menghabiskan entah berapa besar dana APBN. Ini baru kalau menghitung anggaran resmi, belum lagi uang rakyat yang dikorupsi dari dana APBN. APBD, pendapatan negara non APBN, ataupun uang yang langsung ‘dirampok’ oleh aparat dari rakyat dengan dalih perlindungan keamanan.

Hasilnya?

Aparat pengecut yang bisanya hanya keroyokan. Dana yang habis untuk beli senjata dipakai untuk menakut-nakuti, mengeroyok dan bahkan menembaki rakyat tak bersenjata.

Kalau aparat (bersenjata) sering tampil dalam siaran berita di layar kaca beraninya hanya mengeroyok para demonstran (tak bersenjata), bukankah memang cara seperti itu yang dicontohkan kepada rakyat (baca: remaja)? Bukankah itu cara yang oleh media elektronik terus disiarkan untuk mengejar rating penonton tanpa memikirkan dampak psikologisnya terhadap penonton?

Biarkan saja kaum remaja lelaki berkelahi. Itu bagian dari proses pembuktian kejantanan diri sebagai manusia. Bagian dari persiapan untuk menghadapi kehidupan kelak setelah dewasa. Kehidupan yang menuntut kemampuan individu (lelaki) untuk melindungi keamanan keluarganya. Baik perlindungan ekonomi maupun keamanan hidup.

Apalagi untuk negara yang aparat hukumnya telah terbukti sejak negara itu didirikan tidak becus dalam menjamin keamanan rakyatnya. Seperti Indonesia lah contohnya.

Kumpulkan mereka yang sedang bersitegang itu di sebuah lapangan. Siswa sekolah ini dan siswa sekolah itu. Biarkan mereka berkelahi sampai bengap, bonyok dan akhirnya lelah sendiri.

Kalau perkelahian terjadi di jalan raya seperti tawuran yang sedang marak diberitakan itu, tangkap semua siswa terlibat dengan pasal KUHAP terkait gangguan ketertiban di ranah publik. Kalau ada yang terlihat membawa senjata tajam, tangkap dan hukum dengan UU terkait pelarangan membawa senjata tajam. Kalau sampai ada yang terbunuh, tangkap, adili, dan jatuhkan hukuman terkait pasal pembunuhan.

Bukan saling lontar pendapat!

Oii, pejabat, ahli ataupun petinggi LSM, nyawa manusia itu bukan topik untuk cari akreditasi ‘supaya kelihatan kerja’. Ini saatnya memberi contoh penegakan hukum secara sederhana tapi tegas. Pembunuh itu ditangkap, diperiksa, diadili dan kemudian dijatuhi hukuman sesuai pasal KUHAP yang ada.

Tidak perlu diskusi ahli sosial, ahli kejiwaan ataupun ahli agama. Kembalikan penegakan hukum ke kitab-kitab hukum, bukan kitab suci agama.

Selamat pagi lagi, temans, selamat melanjutkan kehidupan sambil menonton dagelan ulah tingkah kaum pandir, tolol dan goblok!!!

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: