Dongengfilm's Blog

September 27, 2012

Jean Hatzfeld, “Machete Season: The Killers In Rwanda Speak”. Translated by Linda Coverdale. Picador, 2005.

Filed under: Resensi Buku — dongengfilm @ 4:18 pm

Saya sudah baca berbagai buku cerita perang, pembantaian, mulai dari Perang Dunia II, perang di Timur Tengah, Perang Vietnam, Ladang Pembantaian di Kamboja, berbagai buku tentang kerusuhan (yang diikuti dengan pembantaian) seperti yang terjadi di Afrika Selatan pada pertengahan dekade 1990an, bahkan pernah berada di tengah pergolakan seperti di Timor Timur ataupun Ambon.

Sejalan dengan banyaknya buku, juga berbagai film dokumenter maupun fiksi tentang pembantaian tersebut di atas.

Pada tahun 2005 saya menonton film “Hotel Rwanda” (Terry George, 2004) untuk pertama kalinya. Film itu saya dengar pertama kalinya di Sundance Film Festival tahun itu. Kebetulan di kawasan lain di Amerika Serikat film itu diputar. Kebetulan saya berada di dekat kota yang sedang memutar film tersebut. Duduklah saya di dalam gelap, di tengah bioskop yang nyaris kosong menyaksikan film tentang pembantaian suku Tutsi yang terjadi tahun 1994.

Ketika sedang meliput referandum di Timor Timur, sehari setelah referandum, saya sempat melihat pertikaian dahsyat antara anggota PBB dengan pimpinan mereka. Pertikaian yang terjadi karena New York memutuskan untuk menarik tim PBB setelah pelaksanaan referandum. Cetusan yang paling keras adalah ketika salah seorang dari tim perdamaian menyatakan, “We are not leaving them like we did in Rwanda.”

Pertikaian itu pula yang mendorong saya memutuskan menonton film “Hotel Rwanda” setelah dari Sundance Film Festival.

Sekembali di Jakarta, secara tidak sengaja saya menemukan VCD “Sometimes in April” (Raoul Peck, 2005). Dari film itu saya melacak lebih jauh dan ternyata ada cukup banyak film yang sudah dibuat tentang pemusnahan suku Tutsi di Rwanda itu. Termasuk juga film dokumenter sesudah masa rekonsiliasi dimulai.

Buku “Machete Season: The Killers In Rwanda Speak” tetap saja mengejutkan. Padahal seperti saya tulis di awal, saya sudah sering menonton film terkait pembantaian manusia. Tingkat kekejaman dimana tindakan manusia lebih kejam dari perilaku binatang apapun. Dari buku itu baru saya sadar bahwa apa yang terjadi di Rwanda melebihi kekejaman pertikaian antar suku atau bangsa dimanapun di bumi yang pernah saya.

Perintah penguasa Hutu jelas: musnahkan suku Tutsi. Musnahkan! Kaum pria langsugn diorganisasi menjadi pembantai. Tidak ada latihan perang. Pada hari yang ditentukan, semua dikerahkan untuk berburu. Iya, berburu suku Tutsi. Tidak pandang bulu. Lelaki. Perempuan. Anak kecil. Bahkan bayi. Siapapun suku Tutsi harus dibantai.

Bila berburu binatang, pemburu pulang membawa binatang sebagai hasil perburuan, maka dalam perburuan suku Tutsi, upah mereka adalah apa yang bisa mereka jarah. Dalam sekejap mereka menjadi lebih makmur dari sebelumnya. Pembantaian pun mereka anggak sebagai ganti pekerjaan bertani. Tapi, mereka tidak punya pilhan. Siapa yang bersimpati terhadap suku Tutsi, mereka pun akan berakhir seperti suku Tutsi.

Dalam buku ini sekelompok pembantai membuka diri, menceritakan apa yang terjadi, bagaimana perubahan mereka dari petani menjadi pembantai dan sebagainya. Gila betul.

Kegilaan menjadi sempurna karena tidak ada orang yang bisa diminta pertanggung-jawaban. SEMUA suku Hutu bertanggung-jawab. Tidak ada tokoh sentral seperti Hitler, Polpot ataupun Soeharto. Tidak ada cecunguk yang bisa diajukan ke pengadilan internasional seperti Wiranto.

Mungkin pembantaian di Rwanda ini bisa kita sebut digerakkan oleh “Big Brother” (George Orwell, 1994) tanpa ada sosok yang diidentikkan sebagai “Big Brother“. Adalah “Big Brother” yang mengerahkan mereka untuk memusnahkan suku Tutsi dari bumi Rwanda.

Dalam waktu tiga bulan, seluruh suku Hutu menjadi pemburu manusia dan suku Tutsi menjadi manusia yang diburu. Kalau di Kamboja pernah dihebohkan dengan penemuan ‘ladang-ladang pembantaian” setelah Khmer Rouge digulingkan, maka yang terjadi di seluruh Rwanda adalah ‘ladang perburuan’.

Bisakah rekonsiliasi terjadi? Upaya terus dilakukan namun para pembantai yang menjadi nara sumber buku ini sendiri tidak yakin kalaupun mereka dimaafkan, hidup berdampingan sebagai tetangga seperti masa sebelum pembantaian, sampai kapan kedua suku itu memang dapat hidup berdampingan?

“Pada akhir musim pembantaian itu, kami kecewa karena kami telah gagal. Kami kecewa menyadari apa yang akan hilang, takut akan menghadapi nasib buruk dan kemungkinan datangnya pembalasan. Tapi jauh di lubuk hati, kami tidak merasa kapok sama sekali,” bunyi salah satu pengakuan mereka.

Mengerikan!

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: