Dongengfilm's Blog

September 23, 2012

Dongeng Produksi Film (Dokumenter) Asing di Indonesia – 1

Filed under: Tak Berkategori — dongengfilm @ 3:35 am

Apa Yang Dicari di Indonesia?

Lokasi

Lokasi biasanya menjadi pemicu nomor satu dari kedatangan produksi asing ke negara lain.

Kita seringkali bangga dengan keindahan alam Indonesia. Sebagai negara tropis ada beberapa pemandangan baku yang bisa ditawarkan: hutan, gunung, pegunungan, pantai, gugusan pulau dan segala isinya.

Alam

Salah satu bagian dari alam kekayaan Indonesia yang sering dijadikan lokasi syuting adalah gunung.

Gunung mencakup pegunungan, jajaran bukit, gunung dengan es abadi, atau gunung berapi yang memiliki daya tarik tersendiri. Indonesia memiliki banyak gunung berapi, aneka bentuk dan sangat kaya dalam ragam kawah serta kalderanya. Ada kawah kering dengan anak gunung di dalamnya seperti lautan pasir di kawasan Taman Nasional Tengger-Bromo-Semeru, ada kawah yang berujud danau besar dan memiliki anak gunung di dalamnya seperti Segara Anak di puncak Gunung Rinjani, Danau Batur di Bali ataupun Danau Toba di Sumatera Utara, dan masih banyak lagi kemungkinan gambar yang terkait dengan gunung berapi.

Selain gunung ada juga aneka jenis dan bentuk danau, dengan kedalaman yang juga beragam. Salah satu danau yang terkenal tapi sulit di jangkau adalah Lembah Danau-danau di puncak Gunung Jayawijaya yang lokasinya tidak jauh dari es abadi. Es abadi di kawasan beriklim tropis. Di beberapa tempat sudah dikembangkan kegiatan menyelam ke dasar danau… artinya ada kemungkinan untuk menjadikan kehidupan bawah air di danau sebagai gambar yang menarik

Begitu pula halnya dengan pantai. Ada pantai bertebing curam seperti di Uluwatu, P. Bali; pantai pasir hitam di pesisir utara dan timur P. Bali dan banyak daerah lain di Indonesia; pantai pasir putih di berbagai pulau di Kepulauan Maluku; pantai dengan butir pasir sebesar biji lada di Tanjung Aan, Lombok Selatan; pantai berbatu raksasa di pulau-pulau kecil yang tidak jauh letaknya dari pantai di sebelah Barat Laut Pulau Belitung dan masih banyak lagi.

Pantai menawarkan ombak. Ombak menawarkan kemungkinan berolahraga selancar air. Indonesia merupakan salah satu dari negara yang banyak memiliki tempat menarik sekaligus menantang bagi para peselancar air. Besar ombak, untuk alur cerita yang tepat, bisa menawarkan gambar yang menarik dalam sebuah film.

Selain gunung berapi, pantai, pulau, ombak, masih ada gua alam dan hutan. Tapi tidak mudah untuk merekam hutan ataupun gua alam untuk tampil indah seperti gambar post card gunung ataupun pantai. Air terjun bisa menjadi elemen tambah untuk memperindah penampilan sebuah hutan. Tentu saja kalau air terjunnya bertingkat seperti di kawasan Sukabumi atau di kabupaten Timor Tengan Selatan, atau bahkan terdiri atas beberapa air terjun yang berdekatan seperti air terjun Madakaripura di kaki Gunung Bromo.

Hutan sebagai kumpulan pohon, hanya tampak cantik bila direkam dari ketinggian atau udara. Sepanjang pengalaman pencerita berkeliling di nusantara, tidak ada gambar hutan yang bagus dengan posisi kamera di darat.

Secara gambar tidak ada perbedaan hutan di Sumatera, Kalimantan, Jawa Barat Selatan, Sulawesi Tengah ataupun Papua. Dalam gambar hanya akan tampak sebagai hutan tropis… titik.

Nah, apakah produksi memiliki anggaran cukup untuk menyewa sebuah helikopter dengan segala mounting yang diperlukan untuk pemasangan kamera? Kemudian, apakah lokasi gunung atau kawah yang dipilih bisa disyut dengan helikopter? Pencerita punya pengalaman tersendiri terkait pilot helikopter yang akan diceritakan dalam sub-dongeng terkait pembuatan film iklan “Djarum Super: My Great Indonesia Adventure“.

Di Indonesia ada banyak hutan, yang primer maupun sekunder, yang masih bagus maupun yang sudah rusak.

Untuk wilayah yang tidak memiliki air terjun, eksistensi sungai bisa memperkaya kemungkinkan menampilkan hutan (dari udara) agar kelihatan cantik atau seram… tentunya sesuai dengan tuntutan skenario ataupun tema cerita yang difilmkan.

Flora dan Fauna

Kenyataan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan variasi perairan tenang di antara pulau-pulaunya memberikan kekayaan akan dunia di bawah air yang indah. Pulau-pulau tersebut merupakan pelindung gugus karang dari hantaman arus deras di bawah air. Karang merupakan tempat ikan dan biota laut hidup.

Dulu Bunaken di Sulawesi Utara pernah menjadi primadona untuk merekam keindahan kehidupan di bawah air. Disusul Kepulauan Togian di teluk Tomini di ‘tenggorokan’ P. Sulawesi. Kemudian perairan di sekitar Pulau Komodo dan Pulau Rinca di Flores Barat. Kehidupan bawah air di kawasan ini masih lumayan terjaga karena banyaknya pulau di kawasan tersebut. Akhir-akhir ini, Wakatobi di Sulawesi Tenggara dan kawasan Raja Ampat di Papua menjadi primadona wisata bawah laut.

Selain kehidupan di bawah air, bagian dari alam yang tidak bisa dipisahkan adalah ratusan ribu jenis binatang yang hidup di dalamnya. Mulai dari yang kecil hingga yang berukuran raksasa. Kondisi alam yang beragam otomatis juga mengandung kekayaan binatang yang tak terhingga termasuk berbagai binatang langka yang sudah nyaris punah atau bahkan binatang yang hanya ada dan hidup di alam Indonesia.

Binatang yang tidak ada di bagian lain di dunia ini adalah komodo. Binatang ini hanya ditemukan di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Kalaupun ada nelayan yang menyatakan pernah melihat komodo berkeliaran di pesisir selatan P. Flores, hal itu tidak benar. Yang mereka lihat adalah sejenis biawak liar berukuran besar.

Jenis binatang purba juga terdapat di dekat Ruteng, Flores Barat. Yaitu semacam tikus raksasa yang diperkirakan menjadi musuh sekaligus santapan orang-orang kerdil yang pernah hidup di kawasan tersebut. Beberapa tahun lalu dunia arkeologi digemparkan dengan penemuan peninggalan masyarakat hobbit di Liang, tidak jauh dari Ruteng. Dari obrolan dengan beberapa orang yang berasal dari Ruteng, mereka menyebutkan bahwa keturunan hobbit ini masih bisa ditemui di wilayah itu. Begitu juga tikus raksasa. Kita bisa memesan tikus itu kepada penduduk setempat untuk menangkapnya.

Minimal diperlukan waktu 2 (dua) minggu, kata mereka… he he he…

Komodo dan tikus raksasa telah menarik cukup banyak pembuat film dokumenter ke kawasan tersebut. Dalam bentuk animasi binatang ini bahkan pernah ditampilkan di film cerita.

Alur cerita film “Point Break II” yang pada tahun 2008 akan diproduksi di Bali bahkan memasukkan adegan komodo duduk di lapangan terbuka ketika sang jagoan melintas dengan motor dikejar kawanan penjahat.

Pencerita sempat diminta melakukan riset untuk kemungkinan tersebut. Meski tertawa di dalam hati, riset tetap dilakukan. Hasilnya, tentu saja tidak ada kebun binatang yang mengijinkan untuk memindahkan komodo dari kandangnya. Jangankan di Bali, di P. Komodo sendiri tidak ada orang yang berani menyebut diri sebagai pawang komodo.

Film “Point Break II” tidak jadi diproduksi di Bali. Film ini belum diproduksi sampai sekarang

Selain komodo, wilayah lain di Indonesia juga memiliki binatang khas mereka. Binatang purba lain seperti buaya juga banyak ditemukan di P. Belitung serta Rawa Biru, di Taman Nasional Wasur, Merauke, Papua. Badak bercula satu terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon.

Isi hutan, padang ilalang, rawa-rawa tidak hanya binatang tetapi juga aneka jenis tumbuh-tumbuhan. Bila dikelola, lagi-lagi unsur menarik untuk pembuatan film dokumenter, iklan ataupun film cerita. Pencerita pernah riset sampai ke hulu Sungai Mahakam untuk mencari tumbuhan anggrek hitam (yang aslinya berwarna kuning itu). Kebetulan produksi tersebut ingin mengangkat keindahan dan keunikan alam Indonesia dengan segala isinya, termasuk manusianya.

Kehidupan masyarakat di tepi sungai cukup menjanjikan gambar yang menarik. Suasana pagi hari di tepi sungai yang tepat posisinya dengan arah matahari terbit bisa menghasilkan gambar desa dan kehidupan masyarakat di pagi hari yang berwarna keemasan. Interaksi warga tepi sungai dengan sungai itu sendiri menarik untuk disimak. Kendaraan utama adalah perahu, baru kemudian kendaraaan darat misalnya.

Elemen-elemen khas seperti tanaman (anggrek hitam) bisa dipakai hanya sebagai set dressing atau bisa juga jadi tema utama sebuah film cerita yang membahas tentang jenis tanaman langka tertentu. Pendekatan yang sama juga bisa terhadap binatang yang hampir punah. Ketika syuting iklan untuk salah satu rokok di kawasan Komodo, pencerita bertemu dengan beberapa rekan pekerja film yang sedang riset tentang kehidupan di Kampung Komodo. Mereka akan membuat film cerita bertemakan percintaan tapi lokasinya di kawasan Taman Nasional Komodo. Pasti juga akan memasukkan binatang purba itu ke dalam gambar mereka.

Bukan tidak mungkin kelak ada produksi asing yang datang ke Indonesia dengan membawa sebuah skenario yang judul “The Komodo Hunter”… siapa tahu?

Manusia dan Budaya

Seperti halnya alam, Indonesia pun memiliki keragaman manusia. Dari barat sampai ke timur, manusianya beraneka. Perbedaan warna kulit dan rambut juga cukup mencolok. Orang Sumatera mungkin mirip dengan orang Jawa. Tapi di Sumatera sendiri orang Batak berbeda dengan orang Palembang. Orang Nias berbeda dengan orang Mentawai. Di Jawa pun perbedaan sosok manusia bila terlihat dari fisik mereka. Wajah orang Sunda berbeda dengan wajah orang Jawa. Wajah orang Jawa juga berbeda dengan wajah orang Betawi asli dan seterusnya.

Kalau kita menyeberang lagi, sosok orang Kalimantan Melayu dengan Kalimantan Dayak juga berbeda. Sosok orang Sulawesi Selatan suku Bugis berbeda dengan orang Sulawesi Selatan suku Toraja. Orang Minahasa di Sulawesi Utara juga berbeda. Orang Ternate yang banyak bernenek-moyangkan bangsa Arab berbeda lagi. Turun ke selatan, orang Ambon berbeda. Orang Flores meski berambut keriting, tidak sama dengan orang Timor daratan. Orang Timor daratan juga berbeda dengan orang Sawu yang bernenek-moyangkan bangsa Gujarat.

Selain bentuk fisik yang sedikit banyak berbeda, elemen budaya di masing-masing lokasi mempertegas perbedaan tersebut… yaitu ketika mereka memakai busana daerah masing-masing dan berbicara dalam bahasa mereka. Dialek asal biasanya terdengar saat mereka berbahasa Indonesia. Perbedaan tentu saja semakin jelas kalau mereka berbicara dalam bahasa suku masing-masing.
Selain bentuk fisik, busana dan bahasa, tradisi keseharian, tradisi yang terkait dengan hukum adat, tradisi yang terkait dengan pola mencari nafkah juga ikut berperan dalam memperkaya keragaman manusia di Indonesia.

Tapi, apakah keragaman manusia dan budaya ini bisa dibilang menjadi unsur kedua dan ketiga yang menarik perusahaan film asing syuting ke Indonesia?

Alur Cerita

Untuk film dokumenter yang temanya berhubungan dengan ilmu antropologi Indonesia sudah pasti merupakan lokasi syuting yang kaya dilihat dari sudut pandang disiplin ilmu tersebut. Adat dan budaya yang masih kental di banyak daerah merupakan objek film yang tak ada habisnya. Apalagi dengan kenyataannya masih terdapat banyak suku terasing di kawasan nusantara ini seperti suku Anak Dalam di Jambi, suku Badui di Banten, suku Kajang di Sulawesi Selatan, suku Tagutil di Halmahera, suku Boti di Timor Tengah Selatan, dan beberapa suku terasing lain di Sulawesi Tengah, Kepulauan Maluku ataupun di Provinsi Papua..

Begitu pula yang berkaitan dengan ilmu ekonomi. Bila film dokumenter tersebut membahas mata pencaharian dalam suatu masyarakat tertentu, banyak tema yang bisa diangkat. Sebut saja bertani, berkebun di sawah maupun di ladang, meramu hasil hutan, berburu di darat maupun di laut, beternak, industri tradisional seperti kerajinan tangan, berburu ikan paus, pembuatan perahu dari ukuran sekoci sampai kapal phinisi dan lain sebagainya.

Atau film dokumenter “modern” seperti film-film perjalanan yang menampilkan hidangan khas daerah atau masyarakat tertentu.

Untuk tema kuliner ini produksi bahkan sudah tidak perlu pergi ke daerah asal hidangan khas tersebut. Di banyak kota besar hidangan dari berbagai suku bangsa bisa didapatkan. Tapi kemudahan ini tidak berarti menutup kemungkinan untuk para pembuat film melaksanakan produksi di lokasi asal usul suatu hidangan sambil menampilkan tata cara memasak dan menghidangkan terkait dengan adat ataupun kepercayaan setempat.

Negara Indonesia memang indah tapi tiap wilayah harus diteliti sudut pengambilan gambar dan kaitannya dengan alur cerita sebuah film, baik itu film iklan (pasti berhubungan dengan produk yang diiklankan), film dokumenter (tema yang diangkat) maupun film cerita (skenarionya).

Dari Sabang sampai Merauke menawarkan beraneka lokasi dengan pemandangan tropis yang indah. Selain pemandangan alam,masing-masing daerah menawarkan unsur kebudayaan yang khas. Tapi ciri khas sebuah wilayah hanya bisa tampil bila secara khusus memang dimasukkan ke dalam alur cerita. TIdak hanya benda sebagai properti, bangunan sebagai set, tetapi juga manusianya itu sendiri.

Bila tidak, kita akan melihat gado-gado elemen kebudayaan di dalam satu gambar. Sebagai warga Indonesia, pekerja film seringkali merasa risih melihat berbagai elemen kebudayaan disatukan begitu saja. Acak kadul. Tapi, di mata pekerja film asing, terutama tim kreatif mereka, sebagai satu kesatuan di dalam gambar komposisi acak kadul (dari segi asal usul) terkadang malah tampak sempurna untuk tuntutan cerita yang sedang diproduksi.

Meski banyak keragaman yang ditawarkan oleh Indonesia namun alasan utama kedatangan produksi film asing adalah tetap berpegang pada tema atau alur cerita yang disepakati bersama. Kalau kebetulan berkaitan dengan bangsa Asia Tenggara, persisnya alam beriklim tropis, barulah Indonesia masuk ke dalam nominasi lokasi tujuan syuting mereka. Apalagi kalau disebutkan gunung berapi di dalam alur cerita, pencalonan Indonesia sebagai lokasi menjadi semakin kuat.

Alur cerita adalah kunci ketertarikan produser film asing ke Indonesia. Tentu saja alur cerita itu bisa dibuat. Dan dalam sejarah film internasional, khususnya Hollywood, mereka biasanya selalu mencari lokasi baru. Ketika film-film bertemakan Perang Vietnam marak dibuat, Thailand dan Filipina berkembang menjadi negara lokasi syuting film-film Hollywood. Setelah bosan produksi di kedua negara itu, Hollywood pindah ke Malaysia.

Upaya menjadikan Indonesia sebagai lokasi syuting film cerita besar internasional sudah dicoba sejak pertengahan tahun 1990an. Namun pada masa itu upaya selalu terbentur pada birokrasi perijinan. Pemerintah Orde Baru yang mengambil aliran sistem kediktatoran itu selalu melihat film sebagai alat propaganda. Jangankan film cerita, film dokumenter antropologi saja sulit sekali ijinnya. Film iklan nasional yang kebetulan memakai tenaga kerja asing juga tidak mulus jalur perijinannya.

Selama masa Orde Baru itu bisa dibilang seluruh jajajaran pemerintahan, sipil maupun militer, dari RT sampai Presiden, seperti mengidap penyakit kudis musiman. Kalau melihat orang asing di lingkungan wilayah tinggal atau kerjanya, badan pun langsung gatal-gatal.

Saat ini, sejak kaum reformasi berhasil menggusur Soeharto dari kekuasaan, proses perijinan syuting sudah lebih mudah. Penyederhanaan ijin terus berlangsung sampai dengan pencerita ikut dalam produksi “The Philosophers” awal tahun 2011 lalu.

Nah, dengan keragaman yang dimiliki Indonesia, dengan proses perijinan yang semakin sederhana, apakah kita di tahun 2011 ini… dan seterusnya… memang sudah siap untuk menjadi lokasi syuting film besar dunia?

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: