Dongengfilm's Blog

September 16, 2012

Dongeng Produksi Film (Iklan) Asing di Indonesia – 16

Filed under: Tentang Film — dongengfilm @ 6:04 am

Penutup Dongeng

Lucu juga upaya menceritakan kembali pengalaman syuting production service ini. Apalagi ketika harus menggali ingatan yang sudah terkubur selama belasan tahun. Untunglah ada dokumentasi berupa foto-foto dan juga internet dewasa ini.

Percaya atau tidak, ada cukup banyak produksi yang belum pernah pencerita lihat hasil akhirnya. Ternyata. Baru ketika menulis dongeng ini, pencerita iseng mencoba mencari di internet. Ternyata banyak yang berhasil ditemukan. Penemuan yang sangat membantu.

Ketika melakukan kilas balik, ternyata pencerita sering membantu kru asing yang datang syuting di Indonesia dan mereka kebanyakan berasal dari negara bangsa kulit putih seperti Amerika Serikat (AS), Australia, Canada atau Inggris. Kalaupun ada yang dari Afrika Selatan, timnya juga keturunan bangsa kulit putih. Hanya waktu syuting ke Cape Town pencerita beruntung berkenalan dengan beberapa kru yang berasal dari Zimbabwe dan Congo dengan warna kulit hitam sehitam-hitamnya… tapi struktur fisiknya tetap berbeda satu dengan yang lain… mengingatkan pencerita ketika menghadiri pertemuan mahasiswa akbar se-Papua di Universitas Cendrawasih, Jayapura… berbeda-beda tapi hitam semua… ha ha ha…

Di Jakarta pencerita pernah juga bertemu dengan beberapa produser kulit hitam dari AS yang mengaku pernah bekerja sama dengan Sutradara kondang kulit hitam Spike Lee. Mereka baru datang untuk tahap penjajakan dini, mencari informasi soal kru, peralatan yang ada dan juga perijinan syuting bagi produksi asing di Indonesia. Tak ada realisasi apa-apa sampai sekarang.

Hal sama seperti yang terjadi ketika Bruce Beresford, Sutradara “Driving Miss Daisy” (1989), datang ke Jakarta bersama Produsernya mencari informasi dimana lokasi di Indonesia yang masih banyak bangunan peninggalan jaman Belanda. Kalau bicara gedung saja, tanpa lingkungan, masih banyak dan rata-rata tidak terawat. Ia menyukai kota Palembang dan Sumedang namun tidak menemukan bangunan untuk set utama. Cirebon memiliki cukup banyak bangunan Belanda tapi posisinya di jalan protokol, sulit untuk jadi lokasi syuting. Ada isu lalu lintas dan suara. Sama dengan Pasuruan. Inti cerita, siang itu di hotel Mandarin, Jakarta, pencerita menganjurkan Bruce Beresford untuk syuting di studio yang ada di Australia saja.

Kalau ada dananya, lebih mudah dan pasti membangun set ketimbang mencari lokasi jaman dulu di Indonesia yang dimana-mana sudah diharu biru oleh pembangunan dan aneka papan iklan. Beberapa tahun terakhir ini, dengan berkembangnya digital printing, lokasi banyak yang semakin dirusak oleh penempatan baliho di pojok-pojok persimpangan jalan dengan wajah-wajah para penipu rakyat saat mereka sedang menjual diri dengan aneka janji kosong.

Taiwan, Jepang dan India

Pencerita juga pernah dihubungi oleh pembuat film iklan dari Taiwan tapi sistem kerjanya agak beda dari yang pencerita kenal. Kalau kita melakukan production service untuk rumah produksi dari Barat, sistem pembayaran adalah real cost kemudian mark up company fee untuk rumah produksi setempat. Meski kita tetap mengelola dana yang ada seefisien mungkin, tidak berfoya-foya, tapi kita juga tidak takut dengan kemungkinan permintaan yang gila-gilaan secara harga.

Prinsip pencerita dalam production service, kasarnya, adalah kalau mereka mau bayar, bukit pun akan pencerita geser atau pindahkan. Itu kan hanya bicara mengumpulkan (katakanlah) 10.000 kuli Sindang untuk bekerja secepat mungkin. Kalau tim asing minta perpindahan terjadi sesegera mungkin, ya tambah aja kulinya menjadi 20.000 orang. Yang penting mereka memang memiliki anggaran tambahan untuk itu.

Sistem yang ditawarkan oleh rumah produksi dari Taiwan adalah sama dengan sistem transaksi beli putus a la grosir di Glodok. Mereka menyebutkan sebuah angka sebagai anggaran yang mereka miliki untuk dipakai di Indonesia. Kalau pengeluaran lebih kecil dari angka tersebut sisanya menjadi keuntungan ‘tuan rumah’ tapi sebaliknya kalau ternyata pengeluaran lebih besar, ya, menjadi tanggung jawab alias kerugian ‘tuan rumah’. Itu sih gaya jual suku cadang kendaraan bukan pembuatan film. Film bukan suku cadang yang tidak berubah ujud. Proses kreatif pembuatan film di lokasi bisa selalu berkembang. Pencerita bukan pedagang. Oleh sebab itu tawaran tersebut pencerita tolak.

Tawaran kerja sama melalui http://www.mandy.com juga pernah datang bertubi-tubi dari India. Pencerita tahu dari Bollywood sana banyak perusahaan iklan yang berproduksi membuat iklan keliling dunia untuk klien dari negara yang sekarang berpenduduk satu milyar lebih itu. Namun diskusi dan cerita dari berbagai teman pembuat film asal mancanegara, pengalaman mereka bila syuting di India adalah ditipu mentah-mentah. Janji tidak pernah sesuai dengan kenyataan.

“Jangan pernah percaya kalau mereka bilang iya… harus terus dikejar dan dipastikan sampai dia bisa memperlihatkan apa yang ia janjikan sebelum hari syuting dan diperlihatkan kembali pada awal hari syuting. Kalau tunggu pas hari syuting, barang yang datang boleh jadi sejenis, tapi belum tentu barang yang sama dengan yang kita minta,” cerita Kent Allen yang lumayan sering syuting ke sana pada akhir dekade 1990-an sebelum menyerah dan memindahkan lahan pekerjaannya ke Dubai pada awal tahun 2000-an. “Kalau tidak, bersiaplah menunggu kekacauan pada hari syuting.”

“Kami harus membongkar salah satu dinding set ashram karena sama sekali tidak sesuai dengan yang diminta,” cerita Bill Groom, Production Designer film “Eat Pray Love” pada masa persiapan di Bali awal tahun 2009. “Bahan dasarnya sama sekali berbeda dengan yang seharusnya. Itu kenapa Charley Beal (Penata Artistik) tidak bisa ikut datang sekarang. Ia harus jadi mandor di sana.”

Gilanya, mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Hal itu bagi mereka adalah sesuatu yang biasa. Apalagi setelah film “Slumdog Millionaire” (Danny Boyle & Loveleen Tandan, 2008) meraih delapan Piala Oscar dan sukses besar di pasaran internasional.

“Kesalahan utama kemarin adalah kita bekerja dengan kru yang sebelumnya bekerja untuk ‘Slumdog Millionaire’. Karena film tersebut mendapatkan (Piala) Oscar, mereka pun merasa sudah paling pintar dalam membuat film,” ungkap Bill Groom dengan nada kesal.

Dan masih banyak lagi cerita-cerita nightmare tentang syuting di India. Bila mencari nafkah di Indonesia sudah cukup nyaman dengan perkembangan industri perfilman iklan yang ada, kenapa pencerita harus cari penyakit kerja sama dengan rumah produksi asing yang menawarkan resiko blangsak?

Alhasil, ajakan kerja sama dari Taiwan ataupun India tidak pernah pencerita gubris.

Dengan kru Jepang pernah hanya satu kali, waktu buat iklan “Master Card” di Bali. Harus pencerita akui, pengalaman bekerja sama dengan mereka di satu pihak tidak terlalu sulit karena praktis ada tim bemper yang menjadi penengah antara kru dengan para petinggi itu, tim bemper tersebut adalah para penerjemah seperti Budi ‘Taro’ yang mengerti tradisi mereka; tapi di lain pihak pencerita jengah juga melihat perlakuan mereka terhadap tim bemper.

Para Sutradara

Pertimbangan tersebut di atas adalah dari sudut kerja sehari-hari pada saat produksi.

Dari segi hasil akhir, nah, di sini letak permasalahan pencerita dengan para pembuat film iklan dari Jepang misalnya. Hasil akhirnya, terus terang, terlihat dan terasa biasa-biasa saja. Secara gambar umumnya mereka ambil pendekatan main aman, harus serba terang. TIdak ada kepuasan atas jerih payah selama persiapan dan syuting ketika melihat hasil akhir setelah tayang.

Hal itu berbeda dengan kalau kita bandingkan dengan hasil akhir para sutradara ‘penyiksa’ seperti Kent Allen, Robert A. Chappell atau Bob Gordon. Kita mungkin benar-benar harus sungsang sumbel selama proses persiapan sampai dengan pelaksanaan pada setiap hari syuting. Tapi ‘penderitaan’ ini langsung terobati pada saat melihat hasil akhir… yang nota bene seringkali di luar dugaan sama sekali.

Pengalaman yang unik misalnya pada saat pembuatan Djarum Super “My Indonesia Great Adventure”. Konsepnya kan memang tidak ada story board. Konsepnya hanya di mana pun sedang syuting, Bob Gordon akan mensyut para pemain sampai dia capek atau bosan syuting sendiri. Segala macam ia lakukan. Kadang sama sekali tidak masuk akal seperti menyuruh anak-anak muda itu berselancar di kubangan air di Lombok. Hasilnya, justru suatu keunikan. Bisa diterjemahkan oleh para penonton sebagai perilaku eksentrik kaum surfer sejati.

Keputusan melakukan adegan aneh dan ekstrim ini bisa muncul setiap saat. Kami semua, meski sama sekali tidak tahu akan diapakan semua footage itu nantinya –bahkan Bob Jenkis, Editor yang sudah bekerja puluhan tahun bersama Bob Gordon– namun kami berpegang pada kenyataan bahwa ia seorang Sutradara iklan internasional. Pasti akan menjaga reputasinya dengan baik. Caranya, ya, dengan karya!

Don’t worry, he knows what he’s doing,” ucap Bob Jenkis suatu kali. “Or,maybe actualy he doesn’t know it now but he will figure it out later.”

Bob Gordon pernah syuting tentang India tapi mengambil lokasi di New Zealand. Dan pada kenyataannya klien yang dari India itu percaya padanya.

Artinya, ia pasti punya konsep yang matang. Dan…

Benar saja.

Ketika iklan “Djarum Super: My Indonesia Great Adventure” tayang, ‘dunia persilatan’ iklan geger. Semua bertanya siapa Sutradaranya? Apa nama rumah produksinya? Kami semua bangga telah menjadi bagian dari syuting tersebut.

Yang paling ideal tentu saja bekerja sama dengan Sutradara seperti Chris Turner, George Muskens, Mark Lawry, Rich Lee, Tarsem Singh atau Tony Williams. Biasanya mereka didampingi oleh Produser yang juga easy going. Kita bangga pada hasil akhirnya, dan selama perjalanan syuting semua kendala diselesaikan secara bahu-membahu, bersama-sama, tanpa membedakan kru asing ataupun kru Indonesia.

Yang paling sial adalah bila berurusan dengan Sutradara yang memang pembuat masalah seperti Andy Delaney dan Monty Whitebloom. Pontang panting mencoba mengejar tuntutan mereka. Hasil akhirnya boleh jadi bagus, tidak mengecewakan seperti hasil syuting tim dari Jepang, tapi jalannya syuting sangat tidak enak. Apapun permintaan mereka terasa seperti sengaja order mendadak agar kru setempat panik. Untungnya, mereka didampingi oleh Produser yang sangat diplomatis dan pandai berakting untuk menenangkan kru lokal dengan menanamkan kesan bahwa ia sebenarnya berpihak pada kita. Bokis sih!

Kalau tim Big TV ini ‘sumber penyakit’ ada pada duo Sutradara tersebut, lain lagi ceritanya dengan Stephen Mead. Sutradaranya tidak banyak berurusan, bahkan praktis pencerita tidak kenal. Tapi Produsernya menjalankan perannya dengan cara selalu berusaha mencari kesalahan kru setempat. Mungkin sang Sutradara sebenarnya meneror Produser, tapi hal itu tidak pernah kita lihat. Apapun yang terjadi, kru lokasl pasti yang menjadi kambing hitam. Itulah yang terjadi di negara manapun mereka syuting. Tampaknya hal itu mereka anggap sebagai pencapaian (ego) tersendiri dalam bekerja.

Bisa jadi ulah Andy & Monty atau Stephen Mead disebabkan karena mereka punya nama besar di benuanya (di negaranya!) dan didukung oleh rumah produksi raksasa. Anehnya, meski bernaung dalam rumah produksi yang sama, bahkan lebih terkenal dan diakui daripada mereka, Tarsem Singh sama sekali berbeda. Meski saat persiapan dan syuting tetap pontang panting, sungsang sumbel karena tidak ada istilah kompromi dalam tuntutan lokasi ataupun isi frame yang ia inginkan tapi paling tidak semua dikerjakan tanpa perasaan mangkel atau marah.

Terus Belajar

Ada satu hal yang menonjol dari rumah-rumah produksi besar internasional. Mereka pasti membayar tagihan mereka. Tidak ada istilah meninggalkan utang di sebuah negara. Bekerja sama dengan mereka memang sangat atau teramat sangat melelahkan, kadang disertai tidak tidur beberapa hari di antara hari-hari panjang kurang tidur, tapi pencerita tahu bahwa tidak terjadi isu kru tidak dibayar.

Itulah sebenarnya ‘kartu truf utama’ mereka seringkali menuntut macam-macam dari tim production service. Itu juga reputasi yang harus mereka jaga. Tanpa itu, mereka akan sangat kesulitan mencari rumah produksi di negara lain yang mau bekerja-sama dengan mereka.

Selain itu, bagi kru setempat, kesempatan bertemu tim kualitas dunia memang hanya bila kita bekerja sama dengan mereka. Dulu pada setiap pekerjaan pencerita pasti mendapatkan ilmu produksi baru. Tapi sekarang ilmu terkait departemen produksi baru sudah agak kurang yang didapat. Mungkin karena pencerita sendiri sudah terlalu lama bekerja di bidang ini. Kalau berkaitan dengan jurus-jurus produksi, praktis sudah khatam.
Apalagi setelah berurusan dengan Sony Pictures Entertainment Inc. ketika syuting “Eat Pray Love”. Kalau studio dari Hollywood adalah tolok ukur produksi dunia, maka tradisi yang dibawa mereka pasti bisa jadi patokan.. Sony Pictures Entertainment terkenal paling sulit aturan mainnya bila dibandingkan dengan studio-studio besar dari Hollywood lainnya.

Kalau pun kadang masih terimbas pontang panting saat produksi sebuah iklan, paling-paling terkait masalah fasilitas pendukung yang memang sangat tergantung pada selera kru asing yang datang.

Ada yang suka gegap gempita, ada yang justru suka syuting hanya dengan kru kecil tapi efisien. Ada yang mau hanya berurusan dengan kru dengan job description yang spesifik, ada yang mau semua kru bisa multi tasking. Ada yang santai dalam hal makanan, ada yang harus makan sesuai dengan segala diet yang dijalani. Ada yang minta total vegetarian food disediakan di meja, tapi diam-daiam kru bersangkutan masih melipir ke hidangan Asian non-vegetarian food yang disantap oleh kru lain.
Intinya, buat mereka, berbeda menunjukkan kelas.

Buat pencerita, selama mereka mau membayar perbedaan itu, monggo berbeda.

Tapi begitu ada keluhan atau pertanyaan soal anggaran yang meledak karena unsur agar ‘berbeda’ tersebut maka saat itu juga segala perbedaan akan dihapus. Dampaknya pasti marah-marah dan minta perbedaan diadakan kembali… tiba-tiba kenaikan anggaran pun tidak menjadi isu lagi… ha ha ha…

Hanya dalam satu bidang ilmu baru masih terus didapat… segala hal yang berkaitan dengan peralatan. Pada setiap syuting, tim asing biasanya membawa sebuah alat baru yang belum pernah pencerita kenal. Semakin sering bekerja sama, semakin banyak perkembangan alat bisa dilihat di lapangan, saat alat itu dipakai.

Pada dasarnya pencerita tidak punya bakat terkait teknologi, baik dari jaman masih manual, apalagi pada era digital sekarang ini. Kalau hanya membaca dari internet, pencerita tidak akan pernah mengerti. Melihat langsung saja kadang hanya berakhir bingung, apalagi mengandalkan internet!

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: