Dongengfilm's Blog

September 6, 2012

“Rumah Di Seribu Ombak” (Erwin Arnada, 2012)

Filed under: Resensi Film — dongengfilm @ 5:11 am

Ini contoh film yang membutuhkan kesabaran dalam menonton, harus sepenuhnya didukung dengan semangat pluralisme (tambah sedikit embel-embel nasionalisme), tingkat kecerdasan khusus untuk menangkap inti sari cerita tanpa tergoda oleh kemasan yang tampil di layar.

Juring pemilihan cerita jelas. Kehidupan kalangan minoritas di pedesaan Bali, pemeluk agama Islam minoritas di tengah masyarakat Hindu. Pesannya jelas: perlu kesadaran dan jiwa tolernasi untuk menerima eksistensi mahluk Tuhan yang mengenalNya melalui jalan yang tidak (harus) sama.

Tak heran bila seusai menonton film ini, ada pejabat pemerintahan yang melihatnya dari sudut pandang hidup bernegara. Film ini dijadikan contoh film yang bercerita tentang kemajemukan, saling menghormati dan lain sebagainya jargon (yang terbukti kosong kalau melihat kebijakan pemerintah saat ini) yang memang harus fasih keluar dari mulut seorang pejabat itu.

Tapi, bagaimana dari sudut hasil akhir itu sendiri?

Saya jarang sekali membahas masalah teknis bila berbagi pengalaman menonton dengan siapapun. Kecuali kalau mengganggu. Dan dalam film ini, entah apa yang terjadi pada saat produksi, tapi cukup banyak yang terasa mengganjal.

Seperti disinggung di atas, perlu kesabaran dalam menonton “Rumah Di Seribu Ombak” ini. Kenapa? Inti cerita yang jelas itu tidak didukung alur yang mengalir. Jalannya cerita terasa sangat bertele-tele. Pertemanan antara seorang anak pendatang dengan seorang anak Bali juga tidak terasa cair.

Film ini sama sekali tidak membantu menguatkan teori bahwa anak kecil lebih mudah belajar ketimbang orang dewasa. Anak yang sekolah di sekolah negeri di Bali, sama sekali tidak bisa berbahasa Bali. Apakah memang tidak ada lagi mata pelajaran bahasa daerah? Misalnya. Mungkin alasannya adalah untuk menjadikan ketidak-pengertian sehingga kalimat harus diterjemahkan sebagai penambah unsur humor di dalam alur cerita film yang praktis sama sekali tidak memiliki kesegaran ataupun keceriaan anak-anak itu… ya bisa saja.

Saya juga bingung melihat pendekatan gambar adegan flash back yang dipilih. Apakah perlu seekstrim itu sehingga bedak di kulit para pemain tampak seperti acihan tembok? Pencapaian apakah yang diinginkan dari tingkat kontras setinggi itu? Entahlah.

Kehadiran seorang pedofil bule dalam film ini patut diacungkan jempol. Indonesia dan Bali khususnya sudah menjadi surga bagi kaum pedofil. Keberanian Erwin Arnada mengangkat isu itu secara tidak langsung mengkritik pemerintah yang selalu membela para wisatawan atau ekspatriat sebagai sumber pemasukan devisa. Kehadiran mereka, termasuk dampak negatifnya, lebih dihargai oleh pemerintah ketimbang para TKI yang mengirim devisa dari mancanegara ke kampung halaman.

Tapi, ada satu keganjilan di sequence adegan pedofil itu. Kenapa kelian banjar bisa diusir begitu saja oleh si bule? Kalau dari orang Bali yang saya kenal, tindakan usir yang ada di dalam film itu pasti akan mengundang amok massa. Si Bule bisa diusir dari desa itu. Apakah Erwin sebenarnya sedang mengkritik masyarakat Bali yang semakin ‘kalah’ oleh orang asing yang menetap di sana? Bahkan seorang kelian banjar sudah kalah wibawa dan tidak bisa bersikap tegas?

Atau… Erwin, sejalan dengan begitu banyaknya amok massa terkait agama di berbagai daerah di Indonesia, sebenarnnya mengingatkan penonton (baca: kita) akan pentingnya bukti sebelum bertindak agar tidak dituding main hakim sendiri? Ia justru ingin mengangkat keadilan menurut hukum sangatlah dijunjung tinggi oleh masyarakat Bali? Entahlah.

Meski bertele-tele, film ini tetap layak untuk ditonton. Tapi, ya… itu, kumpulkan semangat pluralisme dan nasionalisme dulu, baru menontonnya. Jangan berharap hati terhibur karena menonton film ini. Realita kehidupan di Indonesia memang sama sekali tidak menghibur warganya… he he he…

Catatan:
Yang paling cair dalam film ini adalah air mata yang kerap mengalir dari pemain utama…🙂

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: