Dongengfilm's Blog

September 5, 2012

“The Three Colors Trilogy” karya Krzysztof Kieslowski yang terdiri atas “Blue” (1993), “White” (1994) dan “Red” (1994).

Filed under: Resensi Film — dongengfilm @ 5:36 am

Judul film ini mewakili warna bendera Perancis, biru-putih-merah. Teman ceritanya pun mewakili ketiga semboyan Revolusi Perancis yang terkenal yaitu liberty (untuk “Blue“), equality (untuk “White“) dan fraternity (untuk “Red“)

Blue” bercerita tentang seorang wanita yang tiba-tiba terbebas dari tanggungjawab kehidupan keluarga setelah suami dan putrinya wafat akibat kecelakaan. Ketika ia gagal dalam percobaan membunuh dirinya sendiri, sang wanita pun melanjutkan hidup dengan memutuskan hubungan dari keterikatan sosial sebelumnya, dari kenangan masa lalunya: liberty.

White” menceritakan upaya seorang lelaki asal Polandia membalas dendam atas penghinaan yang ia terima dari mantan istrinya ketika bermukim di Paris. Dengan upaya keras, nyaris menghalalkan segala cara, akhirnya ia bisa mengangkat derajatnya kembali di mata mantan istrinya, bahkan membalaskan dendamnya: equality.

Red” menceritakan tentang dua insan yang berbeda jenis kelamin dan berbeda usia akhirnya bisa membangun pertemanan meski keduanya tidak memiliki persamaan latar belakang sama sekali: fraternity.

Sutradara film ini sendiri wafat pada tahun 1996. Trilogi ini ia canangkan sebagai karyanya yang terakhir dan nasib memang menjadikan “The Three Colors Trilogy” sebagai karya Krzysztof Kieslowski yang terakhir.

Kesederhanaan plot cerita tapi karena dukungan dialog, sudut pengambilan gambar dan pencahayaan menjadikan film ini sebagai film yang dahsyat. Tidak ada teknologi editing yang gegap gempita sebagaimana sering kita lihat dalam film-film era digital.

Sebagai penonton, mata kita terhibur oleh keindahan gambar karena adanya konsep gambar yang didukung oleh konsep artistik. Konsep artistik yang jelas terkait masing-masing warna yang dijudulkan itu. Pemilihan kostum, properti bahkan set dressing pun sangat mengikuti judul masing-masing film.

Pemilihan topik cerita (benar-benar) hanya sejuring dari kehidupan seseorang itu. Plot-plot yang dipilih dalam membangun cerita pun sangat fokus mendukung tema, tidak melebar kemana-mana. Emosi penonton benar-benar terbawa ke kehidupan sosok yang digambarkan di dalam masing-masing film tersebut.

Setelah beberapa tahun DVD film “The Three Colors Trilogy” ini bertengger cantik di atas rak, akhirnya saya menontonnya.

Dua tiga tahun terakhir ini mata seringkali diharu-biru oleh film-film seperti “Expandables 2” atau “Bourne Legacy” yang sangat mengandalkan gegap gempita teknologi digital. Dari segi alur cerita, meski tempo pelan tapi tidak kedodoran ataupun terasa dragging seperti saat kita menonton film “Rumah Di Seribu Ombak” yang meski sudah sangat tajam memilih juring kehidupan sebagai tema, tapi pengaturan plot pendukung maupun dialognya kurang mendukung,

Menonton “The Three Colors Trilogy” mata dan emosi pun benar-benar terpuaskan sangat…

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: