Dongengfilm's Blog

Agustus 27, 2012

Dongeng Film (Iklan) di Indonesia – 13

Filed under: Tentang Film — dongengfilm @ 3:31 am

2010: “Dji Sam Soe: The Painter

  Jenis Film: TVC

  Rumah Produksi Asing: Prodigy Films, Australia

  Sutradara: Chris Turner

  Rumah Produksi Indonesia: Kemistry

  Jabatan: Asisten Sutradara

 

Suatu saat ketika masih berkuasa di RRChina, Mao Zedong pernah berkata, “Faktor utama adalah siapa yang memegang senjata.”

Artinya, boleh saja ia memegang sebuah bedil yang sudah usang, tapi kalau dia menguasai bedil itu dengan baik, ia pasti bisa melawan orang lain yang memegang bedil lebih baru tapi tidak menguasainya.

 

Ia tahu jarak yang tepat untuk menembak ke sasaran, ia menghitung dan kecepatan angin, pokoknya ia menguasai kelebihan dan kelemahan dari senjatanya itu.

 

Revolusi Digital

Sejak revolusi digital melanda dunia, termasuk di dunia audio-visual, kita diserbu oleh aneka jenis kamera dengan media rekam baru. Baik di kalangan pencinta audio-visual yang rajin memegang kamera amatir, maupun di kalangan professional. Para Sinematografer diserang secara bertubi-tubi oleh aneka kamera. Belum sempat paham merk tertentu, sudah muncul lagi yang baru.

Setelah produksi film “Star Wars Episode I: The Phantom Menace” (George Lucas, 1999) yang bekerja sama dengan Sony mengembangkan teknik digital High Definition, arus pun tak terbendung lagi. Sony kemudian disaingi oleh Red Camera yang sempat merajalela di pasaran. Popularitas Red Cam kemudian ditandingi oleh Canon 5 D Mark II yang merambah dari still photography ke audio-visual. Disusul oleh Canon 7 D yang meski cepat panas tapi memberikan alternatif perubahan kecepatan merekam (camera speed).

Di dunia profesional lama, produser kamera ARRI tidak mau kalah. Ia luncurkan ARRI Alexa. Panavision pun juga sudah mengembangkan diri ke media rekam digital. Pokoknya semua berlomba menawarkan yang (katanya) termudah dan (katanya) semakin mendekati kualitas media rekam (ironisnya) ‘tradisional’… seluloid. Artinya, target kualitas gambar tetap berpatokan pada media rekam film.

Perlombaan ini diikuti dengan perlombaan di lingkup alat editing. Mereka pun harus berupaya keras untuk mengimbangi perlombaan yang terjadi di industri alat rekam gambar.

Terus terang tidak hanya Sinematografer atau tukang kutip tombol kamera yang terengah-engah mengikuti perkembangan pesat ini. Mereka yang di departemen produksi pun ngos-ngosan. Apalagi di dunia produksi iklan yang memang selalu menjadi ajang uji coba alat baru oleh para Sinematografer untuk kamera, dan ajang uji coba alat baru editing oleh Sutradara. Hari produksi yang pendek membuat kesempatan itu terbuka bagi mereka.

Selama dua kali pencerita ikut dalam produksi iklan Dji Sam Soe yang diproduseri oleh Ben Swaffer dari Prodigy Films, Sydney, dengan dua orang Sutradara yang berbeda, mereka selalu datang dengan seorang Sinematografer yang sama yaitu Mark Pugh. Dan Mark selalu membawa kamera Red Camera. Miliknya sendiri. Dia selalu datang dengan kamera body yang sama tapi memesan lensa dari perusahaan penyewaan alat di Jakarta. Kebetulan ada Cinered*) yang memang mengkhususkan diri untuk penyediaan segala perabotan terkait Red Camera, termasuk untuk editing. Bisa dibilang Mark Pugh datang membawa ‘senjata pusaka’-nya.

 

Pencerita pernah bekerja sama juga dengan seorang Sutradara merangkap Sinematografer yang juga mengandalkan jenis kamera RedCam ini, Mart Toia. Bedanya adalah kalau Mark Pugh hanya di kamera dan masih melayani Sutradara, Mark Toia sudah menjadi Sutradara tapi tetap merangkap sebagai Sinematografer sekaligus Editor untuk penyuntingan tahap awal karya-karyanya (off-line edit). Untuk Indonesia, apa yang dilakukan oleh Mark Toia juga dilakukan oleh Jose Poernomo.

Satu kesimpulan pencerita adalah mereka, para Sinematografer ini, memilih untuk punya kamera RedCam sendiri karena kamera ini adalah produk elektronik. Sebagai peralatan elektronik, katakanlah laptop yang terhubung ke lensa profesional, tentunya sangat ringkih. Kalau kamera itu adalah milik sendiri, pastinya lebih tahu akan kondisi kamera saat digunakan.

Mungkin kesimpulan ini salah, tapi hanya itu logika yang bisa pencerita tangkap dan terima setiap kali harus berurusan dengan Sinetografer yang kekeuh hanya mau kerja dengan

*) Oktober 2011 rumah penyuntingan Cinered berubah nama menjadi Blu Post Asia.

kamera elektronik miliknya sendiri.

“Faktor utama adalah siapa yang memegang senjata.”

 

‘Berbau’ Belanda

Untuk iklan Dji Sam Soe versi “The Painter” ini pencerita tetap sebagai Astrada # 1 meskipun Sutradaranya sudah berganti dengan Chris Turner, asal Australia. Rich Lee, Sutradara sebelumnya berasal dari Los Angeles, AS. Keduanya diatur oleh Ben Swaffer selaku Produser Eksekutif di Prodigy Film. Sama seperti di manapun di dunia, Produser Eksekutif tidak hanya menjadi baby sitter seorang Sutradara tetapi juga sparring partner dalam mengembangkan kreativitas.

Lokasi yang dipilih adalah bangunan-bangunan yang ‘berbau’ jaman kolonial Belanda. Gedung untuk studio sang pelukis dipilih karena pilar-pilar di tengah ruang dan jendela besar yang langsung menghadap ke luar. Untuk itu, Jakarta punya studio ‘alam’ yaitu gedung-gedung tua di kawasan Jakarta Kota.

   

Untuk ruang pemilihan cengkeh, ruang kerja sang Master Blender, dipilih sebuah gudang peninggalan jaman Belanda yang sekarang menjadi bagian dari laboratorium alam Institut Pertanian Bogor.

   

Pameran instalasi sang pelukis dilakukan di sebuah set yang didesain oleh Production Designer langganan seri Dji Sam Soe ini yaitu Budi Gareng. Lokasi yang dipilih kebetulan memang biasanya dijadikan ruang pameran karya seni yaitu di Galeri Salihara, kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Tantangan utama dalam iklan ini adalah menerjemahkan goresan batik ke kain kanvas dengan gabungan cat biasa dan cat fosfor. Cat fosfor hanya menyala dan terlihat dalam ruang gelap. Tantangan buat tim art yang menjadi pembuat lukisannya dan untuk Sinematografer dalam merekamnya. Lukisan harus dibuat beberapa buah untuk menampilkan tahap-tahap lukisan tersebut dibuat. Ukuran kanvas adalah ukuran raksasa. Goresan harus mendekati sama dari tahap awal hingga akhir.

Tantangan lain adalah mendapatkan seorang pemain yang cukup akrab dengan menggores kuas di atas kanvas. Goresan harus goresan besar sesuai dengan ukuran kanvas. Artinya, pemain harus berpindah badan saat menggerakkan kuas di atas kanvas tidak bisa hanya mengandalkan gerakan pergelangan tangan. Badan dan tangan harus bergerak mengikuti arah goresan yang sketsnya sudah dibuat oleh tim artistik..

Syuting berjalan sangat lancar karena sikap dari baik Produser maupun Sutradara, Ben Swaffer dan Chris Turner, yang sangat kooperatif dan selalu berupaya mencari solusi. Memang tidak mudah bagi Anna Mahira, Line Producer dari Kemistry, untuk mengajak Ben mengecek lokasi. Dibutuhkan rayuan ekstra untuk menariknya keluar dari hotel. Yang pencerita perhatikan dari dua produksi bersama Prodigy Films, hal ini disebabkan karena Ben selalu sudah sibuk dengan produksi berikut. Cara kerja seorang Produser Eksekutif sejati. Ia memang harus selangkah di depan, apalagi kalau tidak hanya menangani seorang Sutradara.

   

Saat produksi “Dji Sam Soe: The Painter” itu ia malah sudah memikirkan syuting yang akan dilakukan tiga bulan berikutnya. Syuting dimana Mark Pugh menjadi Sinematografer merangkap Sutradara. Pendekatannya sangat menarik… pendekatan dokumenter. Sayang sekali syuting tersebut tidak terlaksana karena terjadi perubahan konsep dari pendekatan dokumenter ke pendekatan iklan promo.

Kembali ke Dji Sam Soe “The Painter”, berbeda dengan versi “Master Blender” yang dibuat oleh Mark Lawry yang dari awal hingga akhir berkutat di dalam ruang sang Master Blender, iklan ini dibuat dengan syot eksterior sebuah bangunan tua hingga tampil lebih cantik.

   
 

 

Setiap sutradara memiliki pendekatan mereka masing-masing dalam menafsirkan produk yang diiklankan. Sumbernya, tentu saja Creative Director dari agen periklanan.

It’s a wrap!

2 Komentar »

  1. Namanya MARK TOIA bukan MART TOIA

    Komentar oleh irma — Mei 25, 2013 @ 2:04 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: