Dongengfilm's Blog

Desember 25, 2011

Amurwani Dwi Lestariningsih. “GERWANI: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan”, Penerbit Buku Kompas, 2011.

Filed under: Resensi Buku — dongengfilm @ 4:03 pm

Membaca judul buku itu, generasi yang sekarang berusia 30 – 50 tahun pasti masih ingat cerita kekejaman anggota oraganisasi wanita yang dicekoki oleh rejim AD Soeharto. Anggota GERWANI selalu dipropagandakan oleh Orde Baru sebagai sekelompok wanita amoral yang menari telanjang di depan para pahlawan revolusi sebelum mereka dibunuh satu per satu.

Dongeng itu dicekoki tidak hanya dalam pelajaran sejarah di sekolah, pelajaran moral pancasila, penataran P4, bahkan untuk mereka yang tidak bersekolah pun dihadirkan dalam bentuk film “Pengkhianatan G 30 S/PKI” (Arifien C. Noer, 1984) yang ditayangkan setiap tanggal 30 September, setiap tahun, sampai dengan Soeharto dilengserkan dari tampuk kekuasaannya. 13 tahun berturut-turut. Jumlah penontonnya pasti mengalahkan box office film layar lebar manapun dari Hollywood.

Buku ini merupakan adaptasi dari tesis Program Pascasarjana jurusan Sejarah. Artinya, disusun berangkat dari penelitian ilmiah. Penelitian yang bisa terjadi karena Soeharto sudah tidak berkuasa lagi.

Dalam buku ini dijelaskan asal muasal oraganisasi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), mulai dari Gerwis (Gerakan Wanita Sedar) kemudian keanggotaan berkembang pesat termasuk anggota yang berideologi komunis (pada masa itu tidak ada yang salah untuk berideologi sosialis ataupun komunis), hingga akhirnya sebagai organisasi Gerwani menjadi salah satu onderbouw PKI. Pada saat itu, Gerwani sudah ditinggalkan oleh para pendirinya seperti SK Trimurti yang adalah seorang srikandi pejuang kemerdekaan yang menjadi pemerakarsa berdirinya Gerwis.

Bisa dibilang organisasi ini justru adalah pionir organisasi perempuan pembela hak-hak kaum perempuan sekaligus mempunyai berbagai program untuk meningkatkan keterampilan kaum perempuan. Intinya, organisasi yang positif dalam membela hak-hak kaum perempuan.

Setelah peristiwa G 30 S pada tahun 1965, kebanyakan anggota Gerwani yang ditangkap tidak tahu menahu tentang peristiwa G 30 S itu sendiri. Buku ini tidak hanya menceritakan GERWANI sebagai organisasi tapi juga penderitaan para anggotanya yang kemudian diburu dan ditangkap oleh rejim Soeharto. Selain anggota Gerwani, para Tapol yang ditangkap sebagai golongan B di kamp Plantungan juga terdiri atas anggota beberapa organisasi onderbouw PKI lain seperti Lekra, HSI (Himpunan Sarjana Indonesia) dan lainnya.

Kalau dibandingkan dengan beberapa buku tentang pengalaman para Tapol terkait G 30 S, yang di P. Buru misalnya, penjabaran penderitaan mereka dalam buku ini tidak sehoror buku-buku sebelumnya. Hal ini karena bahasa yang dipakai dan juga isi buku ini memang mengutamakan analisa sejarah ketimbang curhat penderitaan Tapi, meski dalam bahasa yang lebih ilmiah, pembaca tetap bisa membayangkan penderitaan para Tapol perempuan itu.

Membaca buku ini, saya bersyukur bahwa ibu saya hingga pensiun hanya bekerja sebagai dokter puskesmas, tidak ikut andil dalam aneka gegap gempita rejim Soeharto. Saya juga bersyukur bahwa ayah saya memilih Partai Kristen Indonesia (Parkindo) sebagai partai tempatnya berpolitik, tidak ikut dilibas oleh Soeharto karena partai ini memang jelas berseberangan ideologi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada waktu itu. Tapi, juga tidak ikut dalam orgy party kekuasaan Golkar semasa Orde Baru.

Di malam menjelang natal 2012, saya bersyukur karena keberuntungan saya di bidang pekerjaan saat ini. Saya jauh lebih beruntung daripada karyawan cleaning serivce yang stand by di toilet di restoran dimana saya santap malam bersama keluarga.

Pada malam di hari natal 2012 ini, setelah menyelesaikan buku “GERWANI: Kisan Tapol Wanita di Kamp Plantungan” saya bersyukur bahwa ayah saya almarhum tidak memilih karier di Angkatan Darat (AD) meski pernah masuk dalam Heiho di jaman Jepang. Kalau iya, dia pasti terpojok untuk terlibat dalam aneka kekejaman yang dilakukan oleh rejim Soeharto terhadap para Tapol. Kalau ia dulu berkarier di AD, saya pasti merasa jijik terhadap keberhasilan karier ayah saya di masa Orde Baru… Untungnya tidak.

Membaca banyak buku tentang kekejaman Orde Baru, para sesepuh AD yang mungkin sekarang sudah dikubur di TMP Kalibata, sudah pensiun, sedang memasuki pensiun ataupun justru memegang pucuk pimpinan, mereka yang berkarier aktif di masa Orde Baru dengan tangan berlumuran darah Tapol, dan sampai sekarang tetap bersikeras untuk tidak mau mengakui kesalahan apalagi rekonsiliasi, mereka pantas untuk dinistakan. Sama seperti Tentara SS di jaman Perang Dunia II.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap sanak saudara, sahabat, kenalan ataupun rekan kerja yang sekarang berkarier di AD, kalaupun mau tetap menghormati mereka sebagai senior, silakan saja. Perasaan manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dikekang oleh rejim diktatorial apapun. Seperti halnya perasaan jijik saya terhadap mereka.

Terlepas dari perasaan pribadi saya setelah membaca buku ini, buku “GERWANI: Kisan Tapol Wanita di Kamp Plantungan” ini sangat layak dibaca untuk menambah keping puzzle mereka yang tertarik untuk mencoba mengetahui SALAH SATU lembar hitam sejarah republik ini.

8 Komentar »

  1. Saya terkesan dngn wacana sejarah yg Ibu berikan,,

    Walaupun di otak saya yg bebal ini semakin banyak pertanya’an yg belum terjawab karena bingung,,
    Tapi saya beranikan diri untuk bertanya kepada Ibu,,
    Manakah 2 versi sejarah tersebut yg benar,,??

    Ma’afkan saya Ibu,,
    Mohon bimbingannya,,:-)

    Komentar oleh Yap kionglee — Juli 1, 2012 @ 7:14 am | Balas

    • Silakan mengirim pertanyaan ini langusng kepada penulis…

      Komentar oleh dongengfilm — Februari 15, 2013 @ 1:45 am | Balas

  2. pada ahirnya ~nanti~ kebohongan akan terungkap.

    Komentar oleh agust kabir caropeboka — Februari 13, 2013 @ 1:45 pm | Balas

  3. pada ahirnya., ~nanti~ kebohongan akan terungkap.

    Komentar oleh agust kabir caropeboka — Februari 13, 2013 @ 1:50 pm | Balas

  4. bagaimana caranya untk mendapatkn buku tsb. ?. mhn informasinya. trmksh

    Komentar oleh agust kabir caropeboka — Februari 13, 2013 @ 1:55 pm | Balas

    • Tempo hari saya mendapatkannya di TB Gramedia…

      Komentar oleh dongengfilm — Februari 15, 2013 @ 1:44 am | Balas

  5. Coba kalau pki menang,pasti orang yang ditindas pki yg akan memberikan cerita! itupun kalau bisa! ingat kmunis hanya tumbang di eropah,,dinegara lainnya apa tumbang?? sejarah dunia kaum komunis selalu ingin rebut kekuasaan negara! memaksa rakyat utk mengikuti pahamnya!! liat di negara korut,kuba,vietnam, apa ada rasa kebebasan?? apa ada pergantian kekuasaan dinegara tsb?? yg ada hanya rasa ketakutan dari tahun ke tahun kepada rakyatnya…hidup ini ibarat permainan/drama film Bu gerwani,,kebetulan anda adalah pelaku/pemain yg kalah krn salah pilihan! Nikmati aja bu GERWANI sejarah kekalahanmu ya toh kamu sudah tidak bisa melakonkan lagi Film yg sudah selesai ceritanya! Kaciann ya

    Komentar oleh daru — April 28, 2014 @ 6:27 am | Balas

    • Daru: Sptnya komentar anda jauh panggang dari api. Yg dibahas Gerwani dan latar belakangnya, ee malah komentar anda kq malah PKI dan nasibnya???

      Komentar oleh Santoz — Mei 13, 2014 @ 4:33 am | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.039 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: